Kejujuran adalah akhlak mulia yang menjadi ciri seorang mukmin. Jangan sampai kepentingan dunia membuat kita mengorbankan amanah dan kebenaran, karena kejujuran selalu mendatangkan keberkahan serta ridha Allah SWT.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Jangan Gadaikan Kejujuran demi Kepentingan Dunia”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَظْهَرَ لَنَا ثَمَرَ الرَّوْضِ مِنْ كِمَامِهِ، وَأَسْبَغَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ مَلَابِسَ إِنْعَامِهِ، وَبَصَّرَنَا مِنْ شَرْعِهِ بِحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ذُوْ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِمُعْجِزَاتِهِ الْعِظَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Puji syukur, al-hamdulillahi rabbil ‘alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah swt berikan kepada kita semua, khususnya nikmat sehat dan sempat seperti yang kita rasakan saat ini, sehingga kita bisa menunaikan ibadah shalat Jumat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa mengalir kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad saw, beserta para sahabat dan keluarganya.
Selanjutnya, sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku khatib, untuk senantiasa mengajak diri sendiri dan jamaah sekalian guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt.
Oleh karena itu, marilah kita gunakan usia yang Allah anugerahkan ini dengan memperbanyak ketaatan, menjaga kejujuran, dan menjauhkan diri dari segala kemaksiatan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Kejujuran kini seolah menjadi nilai yang semakin langka. Tidak sedikit orang rela mengorbankan kejujuran demi mempertahankan jabatan, meraih keuntungan, atau memenuhi ambisi pribadi. Berbagai kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, manipulasi data, hingga suap hampir setiap hari menghiasi pemberitaan di media massa dan media sosial.
Kondisi ini juga tercermin dalam laporan Transparency International tahun 2025. Indonesia memperoleh skor 34 dan berada di peringkat ke-109 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa praktik menggadaikan kejujuran demi kepentingan pribadi masih menjadi persoalan serius di negeri ini.
Padahal, dalam Islam, segala bentuk pengkhianatan terhadap amanah, kebohongan, dan tindakan curang merupakan perbuatan yang diharamkan. Allah SWT dengan tegas berfirman:
وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya, “Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui(-nya).” (QS. Al-Baqarah, [2]: 42).
Ayat yang baru saja kita dengar, sebenarnya turun dalam konteks Ahli Kitab yang menyembunyikan kebenaran tentang kenabian Muhammad demi mempertahankan kedudukan dan kepentingan mereka. Namun secara umum, ia mengandung makna yang sama dengan tema khutbah kita saat ini, yaitu larangan mencampuradukkan kebenaran dengan kebohongan hanya karena adanya kepentingan.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Abbas dan dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Azim, jilid I, halaman 245, yaitu:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ، لاَ تَخْلِطُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَالصِّدْقَ بِالْكَذِبِ
Artinya, “Dari Ibnu Abbas: ‘Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan, maksudnya janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan kejujuran dengan kebohongan.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Peringatan ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Tidak sedikit orang yang mengetahui kebenaran, tetapi memilih diam karena takut kehilangan jabatan, relasi, atau keuntungan.
Ada pula yang sengaja memutarbalikkan fakta, memberikan kesaksian palsu, memanipulasi data, bahkan menghalalkan kebohongan demi meraih kepentingan pribadi atau kelompok. Padahal, semua itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Banyak contoh yang dapat kita temukan tentang hal ini dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: Seorang pejabat atau pengelola keuangan yang mencampuradukkan hak negara dengan keperluan pribadi, menyusun laporan yang tak sesuai kenyataan, atau menyembunyikan kesalahan agar tak tersingkir dari posisi.
Seorang pedagang atau pengusaha yang menurunkan kualitas barangnya tanpa memberitahu pembeli, mengurangi takaran dan timbangan, atau memuji barang dengan berlebihan tetapi menyembunyikan cacatnya.
Seorang pelajar yang menyontek saat ujian atau meminta nilai lebih dengan alasan tertentu pada tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Seorang tenaga pelayan seperti dokter atau tenaga teknis yang menjual jasa yang tidak perlu hanya demi menambah penghasilan atau menyembunyikan kekurangan hasil kerja agar tidak digugat.
Atau seorang pengguna media sosial yang menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, memanipulasi fakta, atau membuat konten hoaks demi mendapatkan banyak penonton dan keuntungan iklan.
Tidak hanya itu, ada banyak lagi contoh-contoh lain yang sama dengan semua contoh yang telah disebutkan ini. Semua itu merupakan praktik nyata dari menggadaikan kejujuran demi kepentingan agar bisa mendapatkan banyak keuntungan materi.
Padahal, praktik semacam ini sangat dilarang dalam Islam, sebagaimana ditegaskan dalam salah satu riwayat, Rasulullah saw bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّهُ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَهُمَا فِي النَّارِ
Artinya, “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena ia menuntun pada kebaikan, dan keduanya berada di dalam surga. Dan jauhilah berbohong, karena ia menuntun pada perbuatan buruk, dan keduanya berada di dalam neraka.” (HR. Ahmad).
Karena itu, jangan pernah menggadaikan kejujuran demi kepentingan sesaat. Jabatan bisa berakhir, harta bisa habis, dan pujian manusia akan sirna. Namun, dosa akibat kebohongan dan pengkhianatan amanah akan tetap tercatat hingga dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT pada hari kiamat.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Oleh sebab itu, mari kita jadikan kejujuran sebagai prinsip hidup yang tidak dapat ditawar oleh kepentingan apa pun. Jangan pernah gadaikan kejujuran demi jabatan, kekayaan, keuntungan atau alasan lainnya, sebab sesuatu yang diperoleh dengan cara berbohong sangat tidak dibenarkan dalam Islam.
Demikian adanya khutbah Jumat perihal larangan menggadaikan kejujuran demi kepentingan. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
--------
Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur.

4 jam yang lalu
4




English (US) ·
Indonesian (ID) ·