Bahaya Penjilat: Musuh yang Duduk di Samping Penguasa

3 jam yang lalu 1

​​​​​Musuh paling berbahaya bagi sebuah pemerintahan tidak selalu berdiri di barisan oposisi. Kadang ia justru duduk di kursi paling dekat dengan penguasa. Mulutnya penuh pujian, tetapi tindakannya menyesatkan keputusan. Ia tidak mengoreksi ketika pemimpin keliru, justru merawat setiap kekeliruan agar tampak sebagai keberhasilan. Dari sinilah kebijakan perlahan menjauh dari kebutuhan rakyat.

George Orwell menghadirkan potret itu melalui tokoh Squealer dalam Novel Animal Farm.
Squealer bukanlah pemimpin, melainkan juru bicara rezim Napoleon, seekor babi diktator yang mempertahankan kekuasaannya dengan propaganda. Apa pun kebijakan Napoleon selalu dipuji. Betapapun merugikan rakyat, semuanya dikemas seolah-olah demi kepentingan bersama.

Lebih buruk lagi, suara rakyat tidak pernah benar-benar sampai kepada penguasa. Aspirasi dibungkam, kritik dipatahkan, sementara rasa takut dipelihara melalui ancaman para anjing penjaga yang selalu siap menerkam siapa pun yang berani berbeda pendapat.

Barangkali kisah itu hanyalah fiksi. Namun, watak Squealer tidak pernah benar-benar menjadi cerita. Ia selalu menemukan tempatnya dalam setiap zaman. Di mana ada kekuasaan, di situ selalu ada kemungkinan muncul orang-orang yang menjadikan pujian sebagai jalan mencari kedudukan.

Dari sinilah integritas seorang pemimpin perlahan terkikis. Sebab, pemimpin tidak lagi melihat kenyataan sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana yang ingin diperlihatkan oleh para penjilat di sekelilingnya.

Lalu, bagaimana Islam memandang persoalan ini?

Jauh sebelum lahirnya negara modern beserta sistem konstitusinya, Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa setiap pemimpin tidak akan pernah lepas dari pengaruh orang-orang terdekatnya. Ada lingkaran yang mengajak kepada kebaikan, tetapi ada pula lingkaran yang menyeret kepada keburukan.

مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ، وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ، إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى

Artinya, "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi dan tidak pula mengangkat seorang khalifah (pemimpin), melainkan ia memiliki dua macam lingkaran dalam. Ada lingkaran yang memerintahkannya kepada kebaikan serta mendorongnya melakukannya, dan ada pula lingkaran yang memerintahkannya kepada keburukan serta mendorongnya melakukannya. Orang yang selamat hanyalah orang yang dijaga oleh Allah Ta'ala."

Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh siapa pemimpinnya, tetapi juga oleh siapa yang berdiri paling dekat dengannya. Sebab, keputusan politik lahir dari informasi. Ketika informasi yang sampai kepada pemimpin telah dipoles demi menyenangkan hatinya, maka kebijakan yang lahir pun mudah kehilangan arah.


Bayangkan seorang pemimpin yang setiap hari hanya mendengar laporan bahwa keadaan baik-baik saja, ekonomi membaik, rakyat bahagia, dan seluruh program berjalan sempurna. Sementara di saat yang sama, masyarakat justru bergulat dengan persoalan yang sama sekali berbeda. Pada titik inilah seorang pemimpin berpotensi mengambil keputusan yang keliru, bukan semata karena ia tidak peduli, melainkan karena kenyataan yang diterimanya telah berubah menjadi ilusi.

Karena itu, persoalan terbesar bukan hanya terletak pada hadirnya penjilat. Yang lebih berbahaya adalah ketika penjilat berhasil menguasai arus informasi menuju penguasa. Mereka menjadi penyaring fakta, memilih mana yang boleh didengar dan mana yang harus disembunyikan. Akibatnya, penguasa kehilangan kesempatan melihat keadaan rakyat secara utuh.

Kegelisahan semacam ini ternyata telah lama menjadi perhatian para ulama. Salah seorang ulama besar dari Tortosa, Andalusia, Abu Bakar At-Thurtusi, mengutip nasihat Ardasyir, pendiri Dinasti Sasaniyah Persia, mengenai bahaya orang-orang yang gemar mencari muka di sekitar penguasa.

وأن يكون حذره للمتملقين أكثر من حذره للمتباعدين، وأن يتقي بطانة السوء أشد من اتقائه العامة، ولا يطمعن في إصلاح العامة إلا بالخاصة

Artinya, "Hendaklah kewaspadaannya terhadap para penjilat lebih besar daripada kewaspadaannya terhadap orang-orang yang jauh darinya. Hendaklah ia lebih berhati-hati terhadap lingkaran dalam yang buruk daripada terhadap masyarakat umum. Janganlah seorang penguasa berharap dapat memperbaiki masyarakat sebelum terlebih dahulu memperbaiki orang-orang khusus yang berada di sekelilingnya." (Sirajul Muluk, [Mesir, Matbu'at Al-Arabiyyah: 1872], halaman 70).

Nasihat ini menarik. Yang diminta untuk lebih diwaspadai bukanlah lawan politik atau kelompok oposisi, melainkan orang-orang yang setiap hari berada di sekitar penguasa. Sebab, oposisi hanya mampu mengkritik dari luar. Adapun penjilat dapat memengaruhi keputusan dari dalam.

At-Thurtusi kemudian menghadirkan sebuah perumpamaan yang sangat indah sekaligus tajam. Menurutnya, hubungan antara pemimpin, para pembantu, dan rakyat dapat dianalogikan seperti dokter, perantara, dan pasien.

ومثل السلطان مثل الطبيب ومثل الرعية مثل المرضى، ومثل الوزير مثل السفير بين المرضى والأطباء، فإن كذب السفير بطل التدبير، وكما أن السفير إذا أراد أن يقتل أحدًا من المرضى وصف للطبيب نقيض دائه، فإذا سقاه الطبيب على صفة السفير هلك العليل، كذلك الوزير ينقل إلى الملك ما ليس في الرجل فيقتله الملك.

Artinya: "Perumpamaan seorang penguasa adalah seperti seorang dokter, sedangkan rakyat laksana orang-orang yang sakit. Adapun menteri bagaikan seorang perantara antara orang-orang yang sakit dan para dokter. Jika perantara itu berdusta, maka rusaklah seluruh ikhtiar pengobatan.

Sebagaimana apabila seorang perantara ingin mencelakakan salah seorang pasien, ia akan menggambarkan kepada dokter penyakit yang berlawanan dengan penyakit yang sebenarnya. Lalu ketika dokter memberikan obat berdasarkan keterangan sang perantara, binasalah orang yang sakit itu. Demikian pula seorang menteri yang menyampaikan kepada raja sesuatu yang sebenarnya tidak ada pada diri seseorang, sehingga raja pun membunuhnya."(Sirajul Muluk, hlm. 70).

Perumpamaan ini tetap relevan hingga hari ini. Seorang dokter tidak mungkin memberikan obat yang tepat jika diagnosis yang diterimanya keliru. Kesalahan bukan semata-mata terletak pada dokter, melainkan pada informasi yang disampaikan kepadanya. Demikian pula seorang pemimpin. Kebijakan yang baik hanya dapat lahir dari informasi yang jujur.

Karena itu, keberanian menyampaikan keadaan rakyat apa adanya merupakan bentuk amanah, bukan pembangkangan. Sebaliknya, menyembunyikan fakta demi menjaga kenyamanan penguasa justru merupakan pengkhianatan terhadap amanah jabatan. Pujian yang terus-menerus mungkin terdengar menyenangkan, tetapi sering kali menjadi awal dari lahirnya kebijakan yang menjauh dari kebutuhan masyarakat.

Di sinilah letak bahayanya. Penjilat bukan hanya merusak integritas dirinya sendiri. Ia juga berpotensi merusak cara pandang seorang pemimpin. Ketika pemimpin kehilangan akses terhadap kenyataan, maka keputusan yang lahir mudah kehilangan rasa keadilan. Yang dikorbankan bukan hanya kredibilitas pemerintahan, tetapi juga kepentingan rakyat yang semestinya menjadi tujuan utama setiap kebijakan.

Karena itu, hadis Nabi dan nasihat At-Thurtusi sesungguhnya mengajarkan satu prinsip yang sama. Memperbaiki negara tidak cukup dengan memilih pemimpin yang baik. Yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa orang-orang di sekeliling pemimpin juga memiliki keberanian berkata benar, sekalipun pahit didengar. 

Sebab, pemimpin yang baik dapat kehilangan arah ketika dikelilingi para penjilat, sedangkan nasihat yang jujur, meski terasa keras, justru menjadi benteng bagi tegaknya keadilan. Wallāhu a'lam.

------

Shofi Mustajibullah, Alumni Az-Zahirul Falah Ploso Kediri
 

Baca Artikel Selengkapnya