Di era media sosial, setiap ucapan, perbuatan, dan unggahan hendaknya dilandasi rasa malu kepada Allah Swt. Sebab, semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Jangan jadikan viral dan popularitas sebagai tujuan hidup. Sebaliknya, manfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan kebaikan dan meraih pahala, bukan menjadi jalan menuju dosa dan penyesalan di akhirat.
Naskah khutbah Jumat ini berjudul: “Khutbah Jumat: Di Era Viral, Jangan Kehilangan Rasa Malu kepada Allah”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الزَّمَانَ مِيْدَانًا لِلطَّاعَةِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِعَلَى بَعْضٍ بِحِكْمَةٍ بَالِغَةٍ، فَجَعَلَ مِنْهَا شَهْرَ َذِيْ الْحِجَّةِ شَهْرًا حَرَامًا، وَمُوْسِمًا لِزِيَادَةِ التَّقْوَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْقِذُنَا مِنْ عَذَابِهِ وَتُبَلِّغُنَا رِضْوَانَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ يَحُثُّ أُمَّتَهُ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Wasiat takwa menjadi salah satu rukun yang harus disampaikan oleh para khatib dalam setiap khutbahnya. Oleh karena itu, mari kita kuatkan ketakwaan dan juga keimanan kita kepada Allah swt.
Takwa yang senantiasa tertancap dalam diri, insyaAllah kita akan selalu dalam jalur yang telah ditentukan oleh Allah. Dengan takwa, kita akan senantiasa menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya
Lebih jauh, takwa juga akan menjadi modal kita dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin modern dan cepat saat ini. Zaman dimana perubahan peradaban terjadi. Perubahan cara hidup dan karakter manusia akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jika dulu, seseorang dikenal karena ilmu, akhlak, atau jasanya kepada masyarakat. Kini, dengan adanya internet, khususnya media sosial, seseorang dapat menjadi terkenal hanya dalam hitungan menit dan bisa memiliki banyak pengikut.
Akibatnya, ukuran keberhasilan pun sering kali bergeser. Banyak orang merasa bangga ketika kontennya ditonton jutaan kali, unggahannya mendapatkan ribuan tanda suka, atau akunnya memiliki banyak pengikut. Padahal banyak sekali konten-konten di akun media sosial dengan banyak pengikut tidak mempertimbangkan halal dan haram apa yang dihasilkannya.
Demi mendapatkan perhatian, ada akun yang rela membuka aibnya sendiri, mengumbar aurat, mempermalukan orang lain, menyebarkan berita bohong, membuat candaan yang menghina agama, bahkan menampilkan kemaksiatan secara terbuka. Yang lebih memprihatinkan, semua itu dianggap biasa dan dinormalisasi.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam menghadapi fenomena senang viral dan pamer di era saat ini, penting untuk kembali membiasakan sifat mulia yang menjadi benteng dari berbagai perbuatan dosa, yaitu rasa malu (al-haya’).
Rasulullah saw bersabda:
اَلْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ
Artinya: "Rasa malu merupakan bagian dari keimanan,". (HR Tirmidzi)
Dalam Kitab Fathul Bari yang ditulis oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami jilid I, halaman 52 disebutkan bahwa haya atau malu didefinisikan sebagai:
خُلُقٌ يَبْعَثُ عَلَى اجْتِنَابِ الْقَبِيحِ وَيَمْنَعُ مِنَ التَّقْصِيرِ فِي حَقِّ ذِي الْحَقِّ
Artinya: “Sebuah akhlak yang mendorong untuk menjauhi perkara jelek dan mencegah dari kesembronoan dalam haknya Allah Pemilik kebenaran.”
Sayangnya, budaya media sosial sering kali mengikis rasa malu. Demi menjadi viral, sebagian orang tidak lagi malu mempertontonkan aurat, tidak malu memamerkan kemewahan secara berlebihan, tidak malu mengucapkan kata-kata kasar, bahkan tidak malu menjadikan agama sebagai bahan candaan. Ketika rasa malu hilang, maka pintu-pintu maksiat pun terbuka lebar.
Rasulullah saw pernah bersabda:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عقبه بن عمرو الانصاري الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ، فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ . رَوَاهُ الْبُخَارِي
Artinya: "Diriwayatkan dari Abu Masud Uqbah bin ‘Amr Al Anshari bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah diketahui oleh manusia dari pesan kenabian yang terdahulu: jika kamu tak punya malu, maka berbuatlah sesukamu. (HR. Al Bukhari)
Dari hadits ini kita bisa mengetahui bahwa sikap malu merupakan ajaran yang bukan hanya dipesankan oleh Nabi Muhammad, namun nabi-nabi terdahulu sudah mengingatkan tentang hal ini.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Sifat dan sikap malu akan memberi panduan bagi kita untuk menahan diri dari melakukan hal-hal negatif khususnya di media sosial. Sikap malu akan menyadarkan kita bahwa Allah swt senantiasa melihat apa yang kita lakukan. Allah berfirman:
اَلَمْ يَعْلَمْ بِاَنَّ اللّٰهَ يَرٰىۗ ١٤
Artinya: “Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?" (QS. Al-'Alaq: 14)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada satu pun aktivitas kita yang luput dari pengawasan Allah. Setiap komentar yang kita tulis, setiap gambar yang kita unggah, setiap video yang kita tonton, semuanya diketahui oleh Allah Swt Karena itu, sebelum memainkan jemari, kita harus bertanya kepada diri sendiri, "Apakah saya rela jika amal ini diperlihatkan di hadapan Allah pada hari kiamat?"
Selain terekam dalam sistem teknologi, segala aktivitas kita juga terekam dan abadi dalam catatan para malaikat Allah swt. Disebutkan dalam Al-Qur’an:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨
Artinya: "Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Jika setiap ucapan dicatat, maka tulisan, komentar, unggahan, dan berbagai aktivitas kita di dunia digital pun termasuk dalam tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’: 36).
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Lalu bagaimana cara menumbuhkan rasa malu kepada Allah? Hal ini bisa dilakukan dengan memperkuat keyakinan bahwa Allah Swt senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik dan perbuatan kita. Jika kita menyadari bahwa kita selalu berada dalam pengawasan Allah, maka kita akan lebih berhati-hati dalam berbicara, bertindak, maupun menggunakan media sosial.
Selain itu, kita harus memilih lingkungan digital yang baik. Bertemanlah dengan orang-orang yang mengajak kepada ilmu, akhlak mulia, dan amal saleh. Bukan mereka yang gemar menyebarkan sensasi, kemaksiatan, atau keburukan dan hanya mengejar materi dan popularitas.
Popularitas hanyalah sementara. Hari ini dipuji, besok bisa dilupakan. Hari ini menjadi viral, beberapa hari kemudian sudah digantikan oleh berita yang lain. Namun pahala dan dosa tidak pernah hilang. Semuanya akan terus tercatat hingga hari kiamat.
Karena itu, jangan sampai kita lebih takut kehilangan pengikut di media sosial daripada kehilangan rida Allah. Jangan sampai kita lebih sibuk mencari tanda suka dari manusia daripada mencari cinta Allah. Marilah kita jadikan media sosial sebagai sarana menyebarkan ilmu, menguatkan ukhuwah, mengajak kepada kebaikan, dan meninggalkan jejak amal saleh yang akan terus mengalir pahalanya.
Semoga Allah Swt menganugerahkan kepada kita hati yang dipenuhi rasa malu kepada-Nya, lisan yang senantiasa berkata benar, serta kemampuan memanfaatkan setiap nikmat teknologi untuk jalan kebaikan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَظَّمَ شَهْرَ ذِيْ الْحِجَّةِ وَجَعَلَهُ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَدَعَانَا فِيْهِ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ وَالْإِكْثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ، لِنَزْدَادَ تَقْوًى وَقُرْبًا إِلَيْهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
-----------
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Pringsewu, Lampung

12 jam yang lalu
4




English (US) ·
Indonesian (ID) ·