Batang, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh menegaskan bahwa merusak alam pada hakikatnya sama dengan menyakiti diri sendiri. Sebab, manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
“Sebagaimana yang kita ketahui, benda-benda yang ada di langit maupun di bumi ini asalnya adalah satu,” ujar Kiai Ubaid dalam Dialog An-Nahdliyah bertema “Indonesia Darurat Krisis Sosial Ekologis” yang diselenggarakan Lakpesdam PCNU Batang di Masjid Hasyim Asy'ari, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (27/10/2026).
Menurut Kiai Ubaid, Al-Qur'an menjelaskan bahwa ciptaan Allah di langit dan bumi pada mulanya berasal dari satu kesatuan, kemudian dipisahkan sesuai kehendak-Nya. Dari kesatuan tersebut, alam berkembang dengan berbagai unsur, mulai dari matahari, bulan, bumi, tumbuhan, dan hewan hingga manusia.
"Oleh karena itu, alam ini merupakan satu kesatuan. Alam yang kita katakan mati, tumbuhan, hewan, dan manusia merupakan satu kesatuan yang bersinergi dengan sangat indah," ujarnya.
Kiai Ubaid menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan Nabi Adam dari tanah. Dalam pandangan yang disampaikannya, bumi dapat dimaknai secara metaforis sebagai “ibu” bagi manusia karena tanah menjadi unsur asal penciptaan manusia atas kehendak Allah. Karena itu, hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan.
"Dengan demikian, ketika kita menyakiti alam, sesungguhnya kita sedang menyakiti ibu kita sendiri. Dalam hakikatnya, itu termasuk uququl walidain atau durhaka kepada orang tua, yang merupakan dosa besar," tegasnya.
Ia menambahkan, manusia merupakan bagian dari alam. Karena itu, kerusakan lingkungan yang ditimbulkan manusia pada akhirnya akan berdampak kembali terhadap kehidupan manusia sendiri.
Kiai Ubaid juga menegaskan bahwa penciptaan manusia dan alam berkaitan dengan tujuan manusia untuk mengenal Allah SWT. Menurutnya, keseimbangan alam akan terjaga ketika manusia senantiasa mengingat Allah dan menaati aturan-aturan-Nya.
"Alam ini akan menjadi tenang apabila manusia selalu ingat kepada Allah. Artinya, manusia mengingat aturan-aturan Allah dan menjadikan Allah sebagai tujuan. Jika manusia melalaikan Allah SWT, maka akan celaka," ujarnya.
Ia kemudian menyampaikan pandangan tentang keterkaitan perilaku makhluk hidup dengan zikir kepada Allah.
“Tumbuh-tumbuhan tidak akan runtuh dan tidak akan dipotong kecuali tumbuhan pada hari itu adalah lupa dzikri kepada Allah. Demikian pula, ikan-ikan tidak akan tertangkap jala-jala seorang nelayan kecuali ikan lupa dzikir kepada Allah. Ekologi ini sangat penting sekali karena kajian-kajian menunjukkan ke sana,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Kiai Ubaid turut mengingatkan ancaman krisis pangan global akibat kerusakan lingkungan yang terus berlangsung. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan kajian sejumlah peneliti, dunia diperkirakan menghadapi krisis pangan pada 2040 jika eksploitasi alam terus dilakukan tanpa kendali.
"Kami kemarin ketemu Prof Arqom, seorang peneliti dari Universitas Indonesia. Beliau mengatakan bahwa tahun 2040 akan terjadi krisis pangan di seluruh dunia melihat kecenderungan kerusakan alam ini," ungkapnya.
Menurut Kiai Ubaid, berbagai terobosan di bidang pangan mulai dikembangkan untuk menghadapi perubahan lingkungan. Ia mengingatkan bahwa perilaku manusia yang tidak bijaksana dalam memperlakukan alam dapat membawa dampak serius bagi kehidupan.
"Maka sekarang sudah dibuat terobosan-terobosan makanan dalam rangka menghadapi perubahan alam ini, ketika kita selalu sembrono bermain-main dengan alam sehingga Allah akan merubah. Karena manusia sudah merubah gaya hidup," pungkasnya.

1 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·