Kader Ansor Tawarkan Ilmu Mantiq untuk Menyaring Informasi AI dalam Mu'tamad 2026 di Lirboyo

59 menit yang lalu 1

Kediri, NU Online

Gagasan mengaktualisasikan kembali Ilmu Mantiq sebagai filter untuk menyikapi informasi yang dihasilkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mengemuka dalam AI-Multaqa Ad-Dawli li-Dirasah al-Islamiyah wal-Insaniyah (Mu’tamad) 2026. Forum yang berlangsung di Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada 29–30 Oktober 2026 itu menilai pentingnya pemanfaatan AI yang tetap berpijak pada nalar kritis, verifikasi, dan tradisi keilmuan Islam.


Gagasan tersebut disampaikan Zaimuddin Ahya (Gus Zaim), Dosen Ma’had Aly Amtsilati sekaligus Wakil Ketua Bidang SDM dan Pengembangan Kader Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Batang. Ia mempresentasikan karya ilmiah berjudul “Reaktualisasi Ilmu Mantiq sebagai Filter Informasi Artificial Intelligence (AI) dalam Pendidikan Pesantren”.


Mu’tamad 2026 mengusung tema “Menuju Pesantren Transformatif dalam Studi Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia”. Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Hari Santri 2026 ini menjadi ruang diseminasi gagasan Islam wasathiyah, harmonisasi mutu pesantren, penyusunan peta jalan internasionalisasi pesantren, sekaligus penguatan jejaring pendidikan global.


Menurut Gus Zaim, perkembangan AI membawa banyak kemudahan dalam memperoleh informasi. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan karena informasi yang dihasilkan AI tidak selalu benar, meskipun disajikan secara sistematis dan meyakinkan.


“Artificial Intelligence merupakan alat yang sangat membantu, tetapi bukan sumber kebenaran. Karena itu, Ilmu Mantiq perlu diaktualisasikan kembali agar santri memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menguji informasi yang dihasilkan AI sebelum menerima atau menggunakannya,” ujarnya.


Pengasuh Pondok Pesantren TPI Al Hidayah Plumbon, Limpung, Batang, Jawa Tengah, itu menjelaskan bahwa Ilmu Mantiq menyediakan perangkat berpikir logis untuk menguji validitas informasi, mulai dari konsep, pernyataan, premis, hingga kesimpulan. Konsep seperti tashawwur, tashdiq, qadhiyah, muqaddimat, dan qiyas dapat digunakan sebagai instrumen analisis sebelum suatu informasi diyakini sebagai kebenaran.


Meski demikian, ia menegaskan bahwa penalaran logis saja belum cukup. Hasil analisis tetap harus dilengkapi dengan verifikasi fakta dan penelusuran sumber yang kredibel.


Kembangkan Jejaring Pesantren Hijau

Dalam forum yang sama, Mahmud Yunus Mustofa, Dosen UIN Walisongo Semarang sekaligus anggota Bidang SDM dan Pengembangan Kader PC GP Ansor Batang, mempresentasikan makalah berjudul “Networking Green Pesantren: Sustainable Pesantren Models and Collective Learning in Digital Spaces (A Case Study of Krapyak Peduli Sampah and Jejaring Pengelolaan Sampah Pesantren Indonesia)”.


Melalui pendekatan etnografi digital, Yunus mengkaji pengembangan jejaring pengelolaan sampah pesantren melalui pembelajaran kolektif di ruang digital. Penelitian tersebut mengambil studi kasus Krapyak Peduli Sampah (KPS) dan Jejaring Pengelolaan Sampah Pesantren Indonesia yang disebut telah menghubungkan sedikitnya 118 pesantren.


“Transformasi menuju pesantren berkelanjutan memerlukan kolaborasi antarpesantren. Ruang digital menjadi media untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat praktik pengelolaan lingkungan secara bersama,” kata Yunus yang juga Dosen Institut Islam Tinggi Kendal.


Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Batang Gus H Muhammad Tolkhah Danial mengapresiasi keikutsertaan kedua kadernya dalam forum akademik tersebut. Menurutnya, keterlibatan kader dalam forum ilmiah menjadi bagian penting dari penguatan tradisi intelektual di lingkungan Ansor.


“Kami berharap semakin banyak kader yang tidak hanya aktif dalam gerakan sosial dan keagamaan, tetapi juga menghasilkan karya ilmiah yang mampu menjawab tantangan zaman. Tradisi intelektual seperti ini perlu terus dikembangkan,” ujarnya.


Ia menilai keikutsertaan dua akademisi asal Batang dalam Mu’tamad 2026 menunjukkan keterlibatan pesantren dalam merespons isu-isu kontemporer.


Selain mendorong penguatan literasi AI melalui Ilmu Mantiq, forum tersebut juga menghadirkan gagasan pengembangan jejaring pesantren berkelanjutan sebagai bagian dari kontribusi pesantren terhadap pembangunan sosial dan lingkungan.

Baca Artikel Selengkapnya