Jakarta, NU Online
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total luas lahan terbakar mencapai 678 hektare di lima provinsi hingga Sabtu (31/10/2026) pukul 14.00 WIB. Kebakaran tersebut turut memperburuk kualitas udara dan mengganggu jarak pandang masyarakat.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar, yakni 403 hektare dengan 547 titik api. Disusul Kalimantan Selatan seluas 189 hektare dengan 132 titik api, Kalimantan Barat 41 hektare dengan 13 titik api, Sumatra Selatan 37 hektare dengan 39 titik api, serta Jambi seluas 8 hektare.
Dampak karhutla juga terlihat dari memburuknya kualitas udara. Berdasarkan pemantauan konsentrasi PM2,5, kualitas udara di Jambi dan Kalimantan Tengah masuk kategori berbahaya. Sementara itu, Riau dan Sumatra Selatan berada dalam kategori tidak sehat, demikian pula Kalimantan Selatan. Adapun Kalimantan Barat berada dalam kategori sedang.
Gangguan juga terjadi pada jarak pandang. Di Sumatra Selatan, jarak pandang berkisar 0,5 hingga 4,5 kilometer. Di Jambi mencapai 2,5 kilometer, Kalimantan Tengah 3 hingga 10 kilometer, Riau 8 kilometer, dan Kalimantan Barat 8 hingga 10 kilometer. Sementara itu, jarak pandang di Kalimantan Selatan dilaporkan kurang dari 10 meter.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan, pada Jumat (30/10/2026), BNPB juga mencatat karhutla di Kalimantan Timur. Kebakaran terluas terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan luas 76 hektare dan Kota Samarinda 40 hektare.
Ia mengatakan, kebakaran juga tercatat di Papua Selatan seluas 502 hektare, Sulawesi Tengah 295 hektare, Sulawesi Tenggara 257 hektare, dan Maluku 182 hektare. Sementara itu, di Kabupaten Berau, Kota Bontang, Kabupaten Mahakam Ulu, dan Kota Balikpapan tidak ditemukan titik api.
Berton mengatakan, pemantauan di Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menunjukkan kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat. Karena itu, masyarakat diminta melindungi diri dari paparan asap karhutla.
“Tentu kami tetap mengimbau masyarakat menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar sehingga dapat memproteksi diri dari ancaman abu ataupun asap dari api tersebut, terutama bagi kelompok yang rentan,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Jumat (30/10/2026).
Ia menjelaskan, tantangan pemadaman masih cukup besar meskipun jumlah titik api mulai berkurang. Kondisi sumber air yang mengering, karakteristik lahan gambut, serta pengaruh angin dapat mempercepat penyebaran api.
“Meskipun titik api telah berkurang, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat kondisi sumber air yang masih mengering, karakteristik lahan gambut, angin bisa mempengaruhi kecepatan dari pembakaran ini, serta banyak akses yang sulit untuk dijangkau oleh tim kami,” katanya.
Berton juga menyampaikan bahwa satuan tugas darat terus melakukan penanganan di lapangan, baik di kawasan hutan maupun permukiman, pada siang dan malam hari.

2 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·