Jakarta (ANTARA) - BUMN farmasi PT Indofarma Tbk (INAF) menyatakan terus melakukan koordinasi dengan Danantara Indonesia, terkait permintaan suntikan modal untuk mendukung proses penyehatan perseroan.
"Mengenai suntikan modal Danantara, kami masih terus berkoordinasi. Kami juga masih rapat dengan Danantara," ujar Direktur Utama Indofarma Sahat Sihombing dalam Public Expose di Indonesia Health Learning Institute (IHLI) Bio Farma Group Jakarta, Kamis.
Perseroan berharap Danantara Indonesia terus memberikan dukungannya terhadap perusahaan-perusahaan BUMN sektor farmasi, termasuk ke Indofarma.
"Kami berharap Danantara tetap mendukung Indofarma, seperti itu progresnya. Mudah-mudahan ada dukungan yang lebih baik dengan Danantara," ujar Sahat.
Perseroan telah sejak lama meminta restu kepada Danantara Indonesia supaya mendapatkan suntikan modal, yaitu sudah sejak kuartal IV-2025.
Melalui Bio Farma Group selaku induk holding perusahaan BUMN farmasi, perseroan telah menyerahkan seluruh dokumen dan rencana kerja yang dibutuhkan oleh Danantara Indonesia.
“Mengenai suntikan Danantara memang ini sudah kami usulkan melalui Biofarma Group sebagai holding dan sudah disampaikan ke Danantara dan kami masih menunggu kepastian suntikan Danantara,” ujar Sahat.
Baca juga: Indofarma optimistis cetak laba meski tertekan penguatan dolar AS
Baca juga: Indofarma siap lanjutkan upaya restrukturisasi di 2026
Sebelumnya, perseroan telah memastikan akan melanjutkan upaya restrukturisasi kinerja pada tahun 2026, sebagaimana diamanatkan dalam Perjanjian Homologasi.
Upaya restrukturisasi dilakukan dengan dukungan Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), serta PT Bio Farma (Persero) selaku Holding BUMN Farmasi.
Dalam kesempatan ini, perseroan menyampaikan optimismenya dapat mencatatkan laba bersih pada 2026, meski tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang rupiah.
“Target laba tahun ini kami tetap optimistis, walaupun memang ada kondisi pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS, kemudian kita ketahui bahwa memang pasti akan menaikkan harga pokoknya,” ujar Sahat.
Perseroan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang menyetujui Laporan Keuangan (L/K) Tahun 2025.
Sepanjang tahun buku 2025, perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp151,5 miliar.
Perseroan masih mencatatkan rugi pada 2025, namun berhasil menurunkan rugi periode berjalan secara signifikan sebesar 76,7 persen (yoy) menjadi Rp77,9 miliar dibandingkan Rp334,5 miliar pada tahun 2024.
Baca juga: Indofarma pastikan restrukturisasi tidak ganggu operasional perusahaan
Baca juga: Induk Holding Farmasi fokus PKPU Indofarma dan bantu project financing
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·