Indef: Stabilitas rupiah krusial topang target ekonomi 2027

1 jam yang lalu 4
Kalau prediksi dolar AS diestimasi Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS pada 2027 maka menurut saya pemerintah harus ekstra effort lagi

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor krusial untuk menopang target pertumbuhan ekonomi pemerintah pada 2027.

Esther mengatakan pemerintah perlu melakukan upaya ekstra untuk menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah proyeksi nilai tukar rupiah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027.

“Kalau prediksi dolar AS diestimasi Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS pada 2027 maka menurut saya pemerintah harus ekstra effort lagi,” kata Esther kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi perlu menjadi perhatian utama di tengah tekanan global dan potensi ketidakpastian pasar keuangan.

Ia juga menilai pemerintah perlu menjaga kepercayaan investor untuk mengantisipasi potensi arus keluar modal (capital outflow).

“Fokus pada stabilitas nilai tukar dan harga,” ujarnya.

Selain itu, Esther menekankan pentingnya menjaga independensi bank sentral untuk mendukung stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.

Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya memaparkan asumsi nilai tukar rupiah dalam KEM-PPKF 2027 berada pada kisaran Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS.

Pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi 2027 berada pada kisaran 5,8-6,5 persen dengan inflasi diproyeksikan pada rentang 1,5-3,5 persen.

Esther menilai koordinasi kebijakan fiskal dan moneter perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mencapai target tersebut.

Ia menyebut stabilitas ekonomi juga akan menjadi fondasi utama dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Menurut dia, pemerintah juga dapat mempertimbangkan efisiensi dan skala prioritas program di tengah tekanan ekonomi global guna menjaga stabilitas makroekonomi.

Ia mencontohkan pengalaman Indonesia pada masa Presiden Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie yang berfokus menjaga stabilitas nilai tukar dan pemulihan ekonomi di tengah tekanan krisis.

"Presiden Habibie berhasil menurunkan nilai tukar sekitar Rp17 ribu per dolar AS menjadi sekitar Rp6.500 per dolar AS saat itu," tuturnya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu pagi tercatat melemah 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.743 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.706 per dolar AS.

Pengamat pasar uang menilai tren pergerakan rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global, arah suku bunga Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik internasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan kembali stabil didukung komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai tetap baik.

Baca juga: Perkuat Rupiah dari dampak global, BI-Rate naik 50 bps ke 5,25 persen

Baca juga: Surya Paloh optimistis nilai tukar rupiah menguat usai pidato Presiden

Baca juga: Pengamat: Pidato Prabowo soal KEM-PPKF jadi sinyal serius pemerintah

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya