Jakarta (ANTARA) - Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan apabila kurs rlupiah mulai stabil dan tekanan jual investor asing mereda pasca kenaikan BI-Rate, maka peluang technical rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap terbuka terutama pada saham-saham big caps perbankan.
Untuk jangka pendek ke depan, Ia memproyeksikan IHSG masih berpotensi akan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi.
“Jika rupiah mulai stabil dan tekanan jual asing mereda pasca kenaikan suku bunga, peluang technical rebound tetap terbuka terutama pada saham big caps perbankan,” ujar Reydi saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Rabu.
Dari sisi makro, Ia menjelaskan bahwa kenaikan BI-Rate oleh Bank Indonesia (BI) akan membantu menjaga stabilitas kurs rupiah, inflasi, serta arus modal asing.
Baca juga: Presiden target nilai tukar rupiah di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500
“Namun, konsekuensinya pertumbuhan kredit, konsumsi, dan ekspansi bisnis berpotensi sedikit melambat karena biaya pinjaman menjadi lebih tinggi,” ujar Reydi.
Di sisi lain, Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen akan menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi pasar saham Indonesia, karena meningkatkan Cost of Fund dan menekan appetite investor terhadap aset berisiko.
“Sektor yang sensitif terhadap bunga seperti properti, teknologi, dan consumer non-primer berpotensi lebih tertekan,” ujar Reydi.
Dari sisi investor asing, menurutnya, kenaikan BI-Rate justru dapat dilihat positif untuk menjaga stabilitas kurs rupiah dan menjaga kredibilitas kebijakan moneter Indonesia.
“Pasar melihat BI cukup agresif merespons tekanan eksternal dan volatilitas nilai tukar, sehingga dapat membantu meredam capital outflow lebih lanjut,” ujar Reydi.
Baca juga: Menkeu yakin rupiah menguat seiring dana asing masuk pasar obligasi RI
Data perdagangan di BEI pukul 15.10 WIB pada hari ini, IHSG tercatat melemah 76,22 poin atau 1,20 persen ke posisi 6.294,46.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.189.469 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 35,97 miliar lembar saham senilai Rp18,64 triliun. Sebanyak 166 saham naik, 539 saham menurun, dan 111 tidak bergerak nilainya.
Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 pada hari ini, BI memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps ke level 5,25 persen. Suku bunga deposit facility juga diputuskan naik 50 bps ke level 4,25 persen. Begitu pula suku bunga lending facility diputuskan naik 50 bps ke level 6 persen.
“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen yang ditetapkan pemerintah,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.
Perry mengatakan bahwa keputusan ini sejalan dengan fokus kebijakan moneter pada 2026 pada stabilitas (pro-stability) untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak global.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·