Jakarta, NU Online
Tim jagal Rumah Potong Hewan (RPH) Perumda Dharma Jaya, Cakung, Jakarta Timur, Ahmad Riyadi, mengungkapkan bahwa profesi sebagai juru sembelih halal telah ia jalani sejak 2009.
Menurutnya, kemampuan menangani hewan kurban, terutama sapi berukuran besar, tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman lapangan, tetapi juga membutuhkan pelatihan dan sertifikasi yang memadai.
Sebelum menjadi tim jagal profesional, Riyadi mengaku aktif mengikuti berbagai pelatihan juru sembelih halal (juleha) untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya.
“Ya harus pelatihan. Kita harus nimba ilmu terus, gitu. Nyari pengalaman, nyari sertifikat, bisa juga sertifikat yang dikeluarkan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi),” ujarnya saat ditemui NU Online di RPH Darma Jawa pada Kamis (28/5/2026).
Ia mengungkapkan bahwa profesi tim jagal juga memiliki kompetisi yang menjadi ajang mengasah kemampuan para juru sembelih halal. Riyadi bersama rekan-rekannya pernah mengikuti rangkaian FAWO National Competition di RPH Cibinong pada Januari 2026.
“Profesi tim jagal juga ada lombanya, seperti kemarin ketika Januari 2026, saya dan teman-teman mengikuti lomba tingkat nasional. Alhamdulillah juara satu sebagai juru sembelih halal,” katanya.
Menurut Riyadi, pelatihan juleha dan berbagai kompetisi tersebut penting untuk meningkatkan keterampilan dalam menangani hewan ternak saat proses penyembelihan berlangsung.
“Pelatihan Juleha, mengikuti lomba-lomba seperti itu sebenarnya untuk meningkatkan kemampuan kita dalam menyembelih hewan-hewan ternak,” katanya.
Ia mencontohkan, penanganan sapi berbobot lebih dari satu ton membutuhkan teknik khusus agar hewan tidak mengalami stres sebelum disembelih.
“Ketika kita menghadapi sapi yang besar dan beratnya lebih dari satu ton itu ada caranya. Seperti jangan terlalu lama foto-foto karena itu membuat sapinya setres karena mencium aroma darah temannya sendiri,” ucapnya.
“Jadi kayak nyium, ‘Oh, ini darah teman saya nih,’ gitu. Sapi juga kalau udah berjemur, kepanasan, atau diganggu bisa setres juga. Melalui pelatihan diajarkan bagaimana cara menenangkan hewan terutama yang besar tadi,” sambungnya.
Selama menjalani profesi tersebut, Riyadi mengaku pernah mengalami beberapa risiko kerja ringan. Namun, ia bersyukur tidak pernah mengalami kecelakaan serius saat menangani hewan kurban.
“Alhamdulillah saya tidak pernah digeruduk sapi, tapi kesenggol-senggol sedikit pernah, kena tambang, kena pisau, itu wajar. Persiapan untuk menyembelih hewan-hewan kurban dari LAZISNU ini adalah tenaga ya, karena sapi yang disembelih besar-besar. Jadi pisaunya harus tajam, tambangnya harus kuat,” ungkapnya.
Riyadi juga berpesan kepada para tim jagal agar terus belajar dan mengikuti pelatihan maupun sertifikasi kompetensi guna meningkatkan profesionalitas dalam penyembelihan hewan kurban.
“Pesan saya untuk para tim jagal, mau belajar, mau nanya, kita harus ikut pelatihan, (kumpulkan) sertifikat dari SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) ataupun BNSP. Cari pengalaman teruslah pokoknya, belajar, belajar, belajar,” tandasnya.

3 jam yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·