Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore, ditutup melemah mengikuti bursa saham kawasan Asia akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
IHSG ditutup melemah 118,88 poin atau 1,88 persen ke posisi 6.196,43. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 12,33 poin atau 1,97 persen ke posisi 614,79.
"IHSG dan bursa regional Asia melemah seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Jumat
Nico menjelaskan sentimen negatif juga datang dari kebijakan baru tarif dagang oleh Amerika Serikat (AS) yang mendorong lonjakan ketidakpastian global, dan diproyeksikan akan menekan pertumbuhan ekonomi serta memicu inflasi, khususnya apabila harga energi tertahan di level tinggi untuk periode yang panjang.
Kemudian, sentimen pasar semakin tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah jenis Brent yang mencapai level di atas 100 dolar AS per barel, yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
"Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali meningkat memicu kekhawatiran inflasi, setelah serangan Houthi terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah," ujar Nico
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyampaikan akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Iran menembak kapal di Selat Hormuz, serta meningkatkan perang dengan Iran ketika Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman.
Kondisi itu membuat tekanan terhadap pasokan energi, sehingga menambah kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global dapat tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Selanjutnya, Trump akan memberlakukan tarif baru mulai Jumat waktu AS, yang akan menjadi perhatian pelaku pasar sehubungan tarif baru AS sebesar 10-12,5 persen untuk impor dari sebagian besar mitra dagang utama. Tarif baru AS berlaku untuk barang-barang dari 60 mitra dagang.
"Kebijakan itu tentunya akan berpotensi terjadi disrupsi rantai pasokan dan meningkatnya ketidakpastian, ancaman stagflasi, perlambatan sektoral sehingga ini akan membuat perlambatan pertumbuhan ekonomi global," ujar Nico.
Dari dalam negeri, Nico menjelaskan meningkatnya harga minyak dunia dan pemberlakuan tarif baru oleh AS tentunya akan berdampak terhadap ekonomi domestik, yang mana beban APBN kan meningkat seiring meningkatnya beban subsidi energi.
Dengan demikian, akan membuat ruang fiskal yang semakin menyempit, mendorong laju inflasi, ruang kebijakan moneter potensi kenaikan suku bunga acuan, ancaman defisit neraca perdagangan, ancaman pada sektor yang terdampak langsung dan nilai tukar rupiah, serta turunnya daya beli masyarakat.
Dibuka melemah IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah menjelang penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu sektor barang konsumen non primer turun paling dalam sebesar 3,26 persen, diikuti oleh sektor barang baku yang turun 3,06 persen dan sektor transportasi & logistik yang turun 2,81 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu MCAS, ALKA BULL, GOLD, dan KLIN. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni BAPA, COCO, FILM, JGLE, JELI.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.229.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 35,96 miliar lembar saham senilai Rp17,70 triliun. Sebanyak 113 saham naik 618 saham menurun, dan 234 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 2,79 persen ke 64.572,00, indeks Shanghai melemah 1,61 persen ke 3.814,20, indeks Hang Seng melemah 0,98 persen ke 24.963,23, indeks Kospi melemah 5,72 persen ke 6.690,62, sedangkan indeks Strait Times melemah 0,12 persen ke 5.575,11.
Baca juga: Mirae sebut peluang pasar saham RI ditopang valuasi dan status MSCI
Baca juga: KSEI: Investor pasar modal Jateng didominasi gen Z
Baca juga: MSCI ubah aturan penyaringan saham yang naik ekstrem per Agustus 2026
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·