Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu berpotensi bergerak sideways (mendatar) di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
IHSG dibuka menguat 25,99 poin atau 0,41 persen ke posisi 6.366,01. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,77 poin atau 0,28 persen ke posisi 638,41.
"IHSG berpeluang menguji resistance 6.377. Jika berhasil ditembus, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.398-6.459. Sebaliknya, apabila gagal menembus 6.377, IHSG berpotensi mengalami taking profit dengan area support di level 6.286-6.257 ,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) akan mengumumkan arah kebijakan moneternya pada hari ini, yang mana BI-Rate saat ini berada di level 5,75 persen atau telah dinaikkan sebanyak tiga kali dengan total 100 basis poin (bps) sepanjang tahun 2026.
Para pengamat dan ekonom terbelah menjadi dua kubu, yang mana sebagian memproyeksikan BI akan mempertahankan BI-Rate, sedangkan sebagian lainnya memproyeksikan BI akan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin ke level 6,00 persen.
Di sisi lain, DPR bersama pemerintah terus mematangkan pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang ditargetkan menjadi pusat keuangan global sekaligus menarik aliran dana family office internasional.
Berdasarkan kajian, sekitar 3,2 triliun dolar AS aset dikelola oleh Family Office di dunia, dengan sekitar 65 persen diantaranya diperkirakan sedang mencari lokasi investasi baru akibat perubahan geopolitik dan meningkatnya ketidakpastian di pusat-pusat keuangan tradisional.
"Melalui penyediaan ekosistem keuangan yang kompetitif, regulasi yang mendukung, serta infrastruktur penunjang, PFII diharapkan mampu meningkatkan arus modal asing dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat investasi regional," ujar Liza.
Dari mancanegara, Liza menjelaskan sentimen pasar cenderung positif didorong oleh berlanjutnya rebound saham-saham semikonduktor setelah sebelumnya masuk ke fase bear market akibat aksi profit taking (ambil untung) pada tema kecerdasan buatan (AI).
Kemudian, investor saat ini mengalihkan fokus ke musim laporan keuangan kuartal II-2026, dengan laporan dari Alphabet, Intel, dan Texas Instruments dipandang sebagai katalis utama untuk mengukur prospek belanja AI dan keberlanjutan pertumbuhan sektor teknologi.
Meski prospek jangka panjang AI dinilai masih kuat, pasar tetap mencermati tingginya belanja modal (capex) perusahaan-perusahaan teknologi besar serta potensi imbal hasil investasinya.
“Di sisi lain, minimnya data ekonomi serta periode blackout komunikasi The Fed membuat pergerakan pasar lebih dipengaruhi oleh laporan keuangan korporasi,” ujar Liza.
Sementara itu, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus memanas. AS melanjutkan serangan terhadap Iran untuk hari kesepuluh berturut-turut, sementara Iran membalas dengan menyerang kapal tanker di Selat Hormuz dan pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Selain itu, kelompok Houthi yang didukung Iran, mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global melalui Laut Merah.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan tensi perdagangan global dengan mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap sejumlah produk impor asal Kanada, mulai dari minuman anggur hingga semen.
"Kebijakan itu kembali memicu kekhawatiran terhadap hubungan dagang kedua negara, meskipun Trump menegaskan langkah itu bukan merupakan respons atas kebakaran hutan di Kanada, melainkan terkait perlakuan Kanada terhadap sektor pertanian dan pelaku usaha AS," ujar Liza.
Pada perdagangan Selasa (21/07) kemarin, bursa Eropa kompak menguat, diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,90 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,58 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,66 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menguat 0,28 persen.
Bursa Wall Street di AS juga kompak menguat pada Selasa (21/07), diantaranya indeks S&P 500 menguat 0,90 persen ke level 7.507,32, indeks Nasdaq Composite menguat 1,3 persen ke 25.837,21, serta Dow Jones Industrial Average menguat 0,70 persen ke 52.223,93.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikeei menguat 1,67 persen ke 67.396,00, indeks Shanghai menguat 0,40 persen ke 3.881,72, indeks Kospi menguat 5,22 persen ke 7.100,54, dan indeks Strait Times melemah 0,46 persen ke 5.501,12.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·