Hutan adalah rumah bagi berbagai jenis satwa. Di sana, mereka tumbuh, berkembang biak, mencari makan, dan mempertahankan hidup. Namun, rumah itu kini kian rusak. Berhektare-hektare hutan terbakar. Pembukaan lahan demi kepentingan ekonomi juga terus menggunduli hutan.
Akibatnya, banyak satwa kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan. Sebagian mati terpanggang api. Sebagian lainnya mati kelaparan. Mereka juga kehilangan kesempatan untuk hidup di habitatnya sendiri.
Tragedi ini bukan sekadar persoalan kerusakan lingkungan. Ini juga menyangkut hak hidup hewan. Ketika hutan dihancurkan, kelangsungan hidup satwa ikut terancam. Mereka kehilangan ruang untuk hidup, berlindung, dan berkembang biak. Tanpa mampu membela diri, mereka harus menanggung akibat dari keserakahan manusia.
Lantas, apakah hewan memiliki hak untuk hidup? Bagaimana Islam memandang kehidupan mereka?
Hewan dan Manusia Sama-Sama Memiliki Hak Untuk Hidup
Sejatinya, Al-Qur’an mengajarkan bahwa hewan merupakan bagian dari kehidupan yang wajib kita hormati dan jaga. Sebagaimana manusia, hewan juga memiliki hak untuk hidup dan tidak boleh diperlakukan semena-mena. Prinsip ini ditegaskan Allah dalam Surat Al-An‘am ayat 38, hewan dan burung merupakan umat seperti halnya manusia.
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ
Artinya; “Tidak ada seekor hewan pun (yang berada) di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat (juga) seperti kamu.242) Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab,243) kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan.”
Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan bahwa hewan-hewan di bumi dan burung-burung di langit merupakan umat sebagaimana manusia. Mereka sama-sama makhluk ciptaan Allah yang memperoleh rezeki dan berada dalam ketetapan serta keadilan-Nya. Karena itu, manusia tidak dibenarkan memperlakukan hewan secara zalim atau sewenang-wenang.
Pesan ini menegaskan bahwa kasih sayang dan keadilan tidak semestinya berhenti pada sesama manusia, tetapi juga diwujudkan dalam cara kita memperlakukan makhluk hidup lainnya. (Muhammad bin Ahmad al-Anshori al-Qurthubi, al-Jami’ al-Ahkam li Ahkam al-Qur’an, juz. 6, hal. 419-420).
Penjelasan dari al-Qurthubi ini, mengindikasikan bahwa hewan yang berjalan di bumi maupun burung yang terbang di langit, sama halnya dengan kita yang mempunyai hak untuk hidup. Kita tidak diperkenankan untuk menzalimi dan semena-mena terhadap mereka, apalagi membunuhnya.
Cerita Nabi Sulaiman Mempersilahkan Semut Untuk Hidup
Hak hidup terhadap hewan ini juga, sangat tergambar dalam al-Qur’an manakala Nabi Sulaiman sedang melewati lembah bersama pasukannya yang bertemu dengan kawanan semut. Nabi Sulaiman mempersilahkan para kawanan semut untuk berjalan dihadapan mereka, supaya tidak terinjak-injak.
Cerita ini, tertulis dalam firman Allah pada surat an-Naml ayat 18-19.
حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْن 18 فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْن19
Artinya: “hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya. (18) Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu.
Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.””
Abul Hasan Muqatil bin Sulaiman al-Balkhi dalam Tafsir Muqatil bin Sulaiman mengisahkan bahwa ketika ratu semut memperingatkan koloninya tentang kedatangan Nabi Sulaiman dan bala tentaranya, Nabi Sulaiman tersenyum dan tertawa setelah memahami perkataan sang ratu.
Putra Nabi Daud ini, tidak mengabaikan keberadaan makhluk-makhluk kecil itu. Sebaliknya, Nabi Sulaiman bersama bala tentaranya menghentikan langkah agar semut-semut tersebut memiliki kesempatan untuk masuk ke sarangnya dan terhindar dari bahaya.
Sekilas kisah ini menghadirkan gambaran tentang kepedulian yang melampaui batas ukuran, kekuatan, dan kedudukan. Semut yang kecil sekalipun memiliki kehidupan yang patut dihargai. Dari kisah ini, kita diajak merenungkan bahwa kebesaran seseorang tidak hanya tercermin dari kekuasaan yang dimilikinya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kehidupan makhluk lain. (Maqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, juz. 3, hal. 299-300).
Jika Nabi Sulaiman, dengan kekuasaan dan bala tentaranya, tetap memberi ruang bagi semut-semut kecil untuk menyelamatkan diri, bukankah manusia semestinya lebih mampu menahan diri dari tindakan yang menyakiti dan merusak kehidupan makhluk lain?
Kita bisa mengambil pelajaran bahwa, serangga kecil seperti semut saja dipersilahkan Nabi Sulaiman untuk hidup. Terlebih hewan-hewan lainnya yang turut menjaga ekosistem kehidupan di bumi , mereka juga mempunyai hak untuk hidup.
Dengan demikian, tidak diperkenankan untuk kita membunuh dengan sembarangan ataupun mengeksploitasi berlebihan tempat hidup mereka dengan menggunduli hutan maupun membakarnya. Sehingga mengakibatkan banyak hewan-hewan yang mati kelaparan ataupun terbakar. Karena hutan merupakan tempat tinggal untuk ekosistem kehidupan mereka. Karena para hewan, memiliki hak untuk hidup.
--------------
Nabil Fithran adalah Santri PP. Al-Anwar 3 dan Alumni Pondok Kebon Jambu Al-Islamy, Babakan, Ciwaringin, Cirebon).

1 hari yang lalu
3



English (US) ·
Indonesian (ID) ·