Ekonom: Kenaikan BI-Rate langkah antisipatif kurangi risiko eksternal

5 jam yang lalu 5
penguatan bauran kebijakan moneter diharapkan dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Chief Economist BTN Myrdal Gunarto memandang kenaikan BI-Rate ke level 5,5 persen merupakan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengurangi risiko tekanan eksternal yang dapat berdampak pada inflasi domestik maupun stabilitas sistem keuangan.

“Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan pergeseran arus modal internasional, penguatan bauran kebijakan moneter diharapkan dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,” kata Myrdal dalam publikasinya di Jakarta, Selasa.

Myrdal mencatat bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan risiko imported inflation, khususnya terhadap sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku, barang modal, maupun komponen impor.

Oleh karena itu, menurutnya, langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia (BI) diharapkan dapat mempercepat proses penyesuaian pasar sekaligus menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, IRRD Economic Research BTN menilai fundamental perekonomian domestik masih relatif kuat.

Berbagai sektor yang ditopang oleh aktivitas domestik, pembangunan infrastruktur, sektor perumahan, ketahanan pangan, energi, hilirisasi, serta ekspor berbasis sumber daya alam diperkirakan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.

Baca juga: Gubernur BI: Kami naikkan suku bunga demi "inflow"

Baca juga: Ekonom: Kenaikan BI-Rate jadikan aset rupiah lebih menarik

“Dengan dukungan aktivitas investasi dan intermediasi perbankan yang tetap terjaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih dapat berada pada kisaran 5,2 persen pada tahun ini,” kata Myrdal.

Meskipun demikian, Myrdal mengingatkan kenaikan suku bunga acuan berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan daya beli masyarakat.

Oleh karena itu, menurutnya, keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi akan tetap menjadi faktor penting dalam arah kebijakan moneter ke depan.

“Ke depan, kami melihat ruang penyesuaian BI-Rate akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar Rupiah, inflasi, arus modal asing, serta dinamika ekonomi global,” kata Myrdal.

Dengan asumsi tekanan eksternal mulai mereda dan stabilitas nilai tukar dapat terjaga, Myrdal memperkirakan ruang kenaikan suku bunga lanjutan relatif terbatas.

Namun demikian, BI diperkirakan tetap akan mempertahankan fleksibilitas kebijakan guna merespons perubahan kondisi pasar secara cepat dan terukur.

Pada Selasa melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan, BI memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) sehingga kini berada pada level 5,5 persen.

Adapun BI belum lama ini menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps pada RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026. BI dijadwalkan kembali melaksanakan RDG Bulanan pada 17-18 Juni 2026.

Pada akhir Mei 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS, menurun 1,3 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya seiring dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Dalam lima bulan terakhir, cadangan devisa telah menyusut sebesar 11,6 miliar dolar AS dari posisi 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa (9/6) bergerak menguat ke level Rp18.141 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.171 per dolar AS pada Senin (8/6).

Baca juga: Rupiah menguat diiringi keputusan BI menaikkan suku bunga

Baca juga: BI-Rate naik di RDG Mingguan sebab pelemahan rupiah lewati proyeksi

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya