Ekonom: Jangan hanya bebankan BI-Rate untuk respons harga modal global

1 jam yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengingatkan, Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi periode harga modal global yang lebih tinggi dengan tidak membebankan respons terhadap kondisi tersebut melalui BI-Rate.

“BI-Rate tetap merupakan jangkar moneter. Tetapi persoalan rupiah, likuiditas domestik, capital flow dan inflasi akibat minyak tidak seluruhnya mempunyai penyakit yang sama. Karena itu obatnya juga tidak harus satu,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Fakhrul menilai, tantangan Indonesia saat ini bukan semata-mata arah suku bunga The Fed, melainkan perubahan global clearing price of capital yang berpotensi berlangsung lebih lama.

Selain ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat, harga minyak juga kembali berada di atas 100 dolar AS per barel serta imbal hasil (yield) US Treasury mendekati 5 persen.

Higher-for-longer berarti bunga tidak turun. Yang perlu mulai kita antisipasi sekarang adalah kemungkinan bunga global justru harus naik lagi. Kalau itu terjadi, tekanan terhadap emerging markets akan datang bukan hanya melalui dolar, tetapi juga melalui repricing seluruh harga modal global,” jelas Fakhrul.

Dalam kondisi US Treasury 10 tahun mendekati 5 persen, Fakhrul menilai yield surat utang negara (SUN) perlu diberikan ruang untuk melakukan price discovery. Trimegah melihat yield SUN 10 tahun dapat bergerak menuju kisaran 7,3-7,5 persen apabila diperlukan sebagai market-clearing yield.

“Kenaikan yield SUN menuju 7,3-7,5 persen tidak harus dilihat sebagai kegagalan menjaga pasar. Justru yield yang menemukan clearing price dapat menjadi salah satu guardrail bagi rupiah karena membantu mempertahankan daya tarik aset Indonesia ketika yield global naik,” kata Fakhrul.

Menurutnya, mempertahankan yield domestik terlalu rendah ketika risk-free rate global meningkat dapat mengurangi insentif investor asing masuk ke pasar Indonesia.

“Kalau yield tidak diperbolehkan melakukan adjustment, tekanan akhirnya dapat berpindah ke rupiah. Saya lebih memilih sebagian adjustment terjadi secara sehat melalui bond market daripada seluruh shock harus diserap oleh currency,” jelas dia.

Fakhrul sebelumnya memperkirakan Indonesia membutuhkan capital inflow sekitar 11 miliar dolar AS untuk membantu menjaga kestabilan neraca pembayaran dan rupiah. Karena itu, menjaga relative attractiveness aset rupiah tetap penting ketika persaingan mendapatkan modal global meningkat.

Menurutnya, Indonesia saat ini memiliki perangkat kebijakan yang jauh lebih lengkap dibandingkan episode tekanan eksternal sebelumnya.

Dalam hal ini, Bank Indonesia (BI) tidak hanya mempunyai BI-Rate, tetapi juga intervensi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), pengelolaan likuiditas, instrumen pasar uang dan valas, serta pengembangan local currency transaction (LCT).

“Saya tidak melihat kondisi sekarang sebagai alasan untuk menjadi terlalu bearish terhadap rupiah. Tekanan memang ada, tetapi pelemahannya dari level saat ini seharusnya relatif terbatas apabila policy reaction function kita tepat,” kata dia.

Fakhrul menekankan bahwa policy reaction function tersebut tidak berarti mempertahankan rupiah pada satu level tertentu. Menurut dia, yang lebih penting adalah memastikan setiap shock diserap oleh instrumen dan pasar yang tepat.

“Kalau tekanan datang dari global yield, biarkan sebagian adjustment terjadi melalui yield SUN. Kalau muncul volatilitas berlebihan di pasar valas, BI dapat melakukan guardrail melalui intervensi. Kalau persoalannya structural dollar demand, pemerintah dan BI perlu memperkuat LCT, ekspor, FDI dan sumber pembiayaan eksternal lainnya. Kita jangan meminta BI-Rate menyelesaikan semuanya,” kata Fakhrul.

Baca juga: Destry: BI tak cukup andalkan moneter hadapi global yang kompleks

Baca juga: Ekonom: BI mulai arahkan stabilitas ke pertumbuhan yang berkelanjutan

Baca juga: BI masih kedepankan stabilitas seiring tekanan global belum mereda

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya