Jakarta (ANTARA) - Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan melonjaknya harga minyak mentah global telah kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi, sehingga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed yang membuat investor cenderung lebih defensif.
“Kondisi tersebut menekan risk appetite (selera risiko) terhadap emerging market, termasuk Indonesia,” ujar Elandry saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.
Di tengah sentimen global tersebut, Elandry mengatakan investor asing juga mencermati stabilitas kurs Rupiah, pertumbuhan ekonomi domestik, kinerja emiten, serta perkembangan terkait evaluasi indeks global seperti MSCI.
“Jadi foreign sell bukan semata-mata mencerminkan fundamental Indonesia, tetapi juga bagian dari penyesuaian asset allocation global,” ujar Elandry.
Baca juga: Mirae Asset nilai tekanan global masih bayangi pasar
Net sell yang masih terjadi sampai saat ini, menurut Elandry menunjukkan bahwa investor asing masih cukup selektif terhadap pasar saham Indonesia.
Sepanjang tahun, secara kumulatif investor asing masih mencatatkan net sell cukup besar yaitu sekitar Rp98,2 triliun hingga periode 11 September 2026.
Meskipun investor asing sempat net buy pada Agustus dan awal September 2026, namun kembali mencatatkan net sell sekitar Rp3,36 triliun pada 7 sampai 11 September 2026.
“Jadi sebenarnya minat asing belum sepenuhnya hilang, tetapi capital flow masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global,” ujar Elandry.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·