Kairo, NU Online
Di tengah dinamika geopolitik internasional yang semakin kompleks dan meningkatnya berbagai konflik global, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan dan PCINU Mesir mendorong Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengambil peran yang lebih strategis. Gagasan tersebut mengemuka dalam agenda silaturahim PCINU Taiwan ke PCINU Mesir di Kairo pada Rabu-Jumat, 3-5 Juni 2026.
Pertemuan tersebut tidak hanya membahas penguatan organisasi, tetapi juga mendorong posisi NU dalam merespons tantangan global, mulai dari konflik geopolitik, penguatan jaringan kader internasional, hingga isu perlindungan pekerja migran Indonesia (PMI).
Wakil Ketua PCINU Taiwan, Wahyudin mengungkapkan bahwa langkah yang perlu dilakukan agar gagasan menjadikan NU sebagai “pemain kunci dunia” tidak berhenti pada tingkat wacana adalah melalui reoptimalisasi dan integrasi jaringan NU di luar negeri.
“Reoptimalisasi dilakukan dengan menentukan kebutuhan PBNU terhadap keberadaan PCINU di suatu negara berdasarkan kajian objektif yang bersandar pada dua asumsi besar, yaitu kebutuhan NU berhubungan dengan negara tertentu dan kebutuhan membangun kader serta jaringan profesional pada keahlian khusus,” ujarnya kepada NU Online, Rabu (10/6/2026).
Di sisi lain, gagasan Fiqih Peradaban yang selama ini didorong NU juga dinilai memiliki peluang menjadi kontribusi pemikiran dalam menciptakan tata dunia yang lebih inklusif dan berkeadilan. Namun, Wahyudin mengingatkan bahwa konsep tersebut masih membutuhkan kajian yang lebih mendalam sebelum dapat diterapkan dalam penyelesaian konflik geopolitik internasional.
“Sebagaimana instrumen gagasan lainnya, Fiqh Peradaban dapat dikategorikan sebagai bentuk formalisasi terstruktur dari konsep beragama ala Aswaja an-Nahdliyyah yang akan dijadikan sebagai kerangka etis dalam merespons persoalan global,” katanya.
Menurutnya, penyelesaian konflik yang melibatkan kepentingan negara-negara besar tidak cukup hanya dengan menawarkan konsep. Faktor kepercayaan tingkat tinggi atau high-level trust menjadi syarat utama agar sebuah gagasan dapat diterima oleh para aktor global.
“Oleh karena itu, NU tidak mengklaim dapat menyelesaikan konflik antarnegara besar secara instan, tetapi NU dapat menawarkan paradigma dan nilai-nilai yang mendukung terciptanya perdamaian,” katanya.
Sebagai bagian dari penguatan peran global tersebut, PCINU Taiwan dan PCINU Mesir juga menggagas integrasi sumber daya manusia Nahdliyin lintas kawasan. Asia Timur dipetakan sebagai pusat pengembangan profesional, industri, teknologi, dan ekonomi, sementara Timur Tengah menjadi pusat pengembangan keilmuan dan tradisi intelektual Islam.
“Pemetaan dan integrasi SDM ini, yaitu membangun kerangka kolaborasi sebagai modal awal dalam membangun, mengembangkan, dan mendistribusikan jaringan Nahdliyyin internasional agar dapat memberikan dampak yang lebih kuat,” ujar Wahyudin.
Ia mengatakan bahwa NU menargetkan terbentuknya bank data kader profesional NU internasional yang terintegrasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi.
Di tengah ambisi memperkuat peran global organisasi, Wahyudin memastikan bahwa isu pekerja migran Indonesia tetap menjadi prioritas utama gerakan PCINU di berbagai negara.
“PCINU di berbagai negara memastikan bahwa isu-isu kesejahteraan dan hak pekerja migran tetap menjadi prioritas gerakan, bahkan di tengah ambisi besar organisasi untuk memperkuat peran global NU di kancah internasional,” katanya.
Wahyudi mengatakan bahwa tindak dari pertemuan di Kairo, kedua pihak sepakat menginisiasi Konsolidasi PCINU se-Dunia yang ditargetkan berlangsung pada Juli 2026. Forum tersebut akan menjadi ruang musyawarah bagi seluruh PCINU internasional untuk membahas tantangan global, merumuskan posisi strategis kepemimpinan NU dalam peta geopolitik masa depan.
“Serta mematangkan tawaran wacana pembentukan bank data kader profesional NU internasional, di mana dinamika forumnya akan dikemas dngn bentuk Focus Group Discussion (FGD),” ucapnya.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Ketua PCINU Mesir, Nur Fuad. Ia menilai modal intelektual kader NU di Mesir perlu dikapitalisasi menjadi kekuatan diplomasi global yang nyata.
Menurutnya, silaturahim dan penyusunan peta jalan distribusi kompetensi ke Asia Timur akan mempercepat kiprah kader-kader NU di berbagai sektor strategis internasional sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan antarpengurus NU di luar negeri.

3 jam yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·