Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian periode 2015-2019 Darmin Nasution menilai pemerintah perlu melakukan penyesuaian terhadap postur anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan eksternal yang meningkat.
Menurut Darmin, kebijakan menahan harga BBM bersubsidi saat harga minyak mentah dunia meningkat berimplikasi langsung terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Saat ditemui dalam acara Simposium PT SMI 2026, Jakarta, Rabu, ia menjelaskan ketika harga minyak global naik sementara harga BBM dalam negeri tetap ditahan, pemerintah harus menanggung selisih biaya melalui subsidi yang lebih besar.
Kondisi ini meningkatkan kebutuhan pembiayaan sehingga memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“Artinya ya Anda (pemerintah) membuat harga BBM di dalam negeri itu tetap tidak naik, misalnya, ya Itu dia akan keluar tekanannya di tempat lain (nilai tukar rupiah),” ujarnya.
Darmin menekankan bahwa dalam situasi ketidakpastian global saat ini, pemerintah tidak dapat menjaga seluruh indikator ekonomi tetap optimal secara bersamaan.
Kebijakan untuk menahan harga energi perlu diimbangi dengan konsekuensi pada sisi lain, seperti meningkatnya beban fiskal atau tekanan terhadap nilai tukar. Maka dari itu, ia memandang diperlukan penyesuaian kebijakan agar beban tersebut tidak semakin membesar.
"Jadi itu adalah cost yang harus dipikul karena anda tidak mau adjust di sini (subsidi BBM). Harus ada adjustment supaya yang ke sana semua dia ke nilai tukar," jelas Darmin.
Adapun nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Rabu melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.181 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.143 per dolar AS.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini ketidakpastian gencatan senjata antara AS dengan Iran.
“Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, untuk memungkinkan pembicaraan berlanjut guna mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi global,” katanya.
Langkah yang diambil Trump dinilai tampak sepihak, dan belum jelas apakah Iran atau Zionis Israel akan setuju untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua pekan sebagaimana disepakati sebelumnya.
Di sisi lain, Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan mempertahankan blokade pelabuhan dan pantai Iran, yang oleh para pemimpin Iran disebut sebagai tindakan perang.
Baca juga: Ekonom: Dampak kenaikan harga LPG ke inflasi perlu diantisipasi
Baca juga: Kadin: Jaga pengelolaan arus kas di tengah kenaikan harga energi
Baca juga: Bahlil: Penyesuaian harga BBM nonsubsidi tahap dua ikuti harga minyak
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·