Salah satu bab paling menarik dalam catatan sejarah dunia adalah hubungan antara dunia Islam dengan Semenanjung Iberia. Wilayah yang kini mencakup Spanyol dan Portugal tersebut pernah menjadi saksi sejarah atas lahirnya salah satu peradaban Islam terbesar di Eropa.
Pada masa itu, Islam tidak hanya hadir sebagai kekuatan politik saja, tetapi juga berhasil membangun peradaban adiluhung hingga melahirkan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, filsafat, kedokteran, matematika, hingga seni dan budaya. Karenanya, tidak mengherankan jika sejarah Islam di Semenanjung Iberia selalu menjadi salah satu topik menarik untuk dibahas dan ditelusuri.
Oleh sebab itu, dalam kesempatan kali ini, penulis hendak mengulas sejarah datangnya Islam ke Semenanjung Iberia, mulai dari peristiwa awal yang melatarbelakanginya, hingga proses masuknya agama Islam ke wilayah tersebut.
Latar Belakang Masuknya Islam ke Semenanjung Iberia
Membahas sejarah masuknya Islam ke Semenanjung Iberia tidak bisa lepas dari kisah proses penyebaran Islam di kawasan Afrika Utara. Sebab, keberhasilan umat Islam menyeberangi Selat Gibraltar (selat yang sekarang menjadi penghubung antara Afrika dan Eropa) menuju Semenanjung Iberia merupakan kelanjutan dari ekspansi yang sebelumnya telah berhasil mengukuhkan kekuasaan Islam di wilayah Maghrib.
Dengan kata lain, masuknya Islam ke Semenanjung Iberia merupakan bagian dari mata rantai dan kelanjutan dari perjalanan panjang perluasan wilayah Islam yang berlangsung sejak masa Dinasti Bani Umayyah.
Dalam sejarahnya, sebagaimana dicatat oleh seorang ulama sejarawan asal Maroko, Syekh Abul Abbas Ahmad bin Khalid an-Nashiri, setelah wilayah Mesir berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin, ekspansi terus bergerak hingga mencapai Ifriqiyah (kawasan Tunisia dan sekitarnya).
Pada masa khalifah al-Walid bin Abdul Malik (50 – 96 H | 668 – 715 M), yang merupakan khalifah keenam dalam sejarah Dinasti Bani Umayyah, ia mengangkat Musa bin Nusair untuk menjadi gubernur Ifriqiyah dengan tugas meneguhkan kekuasaan Islam di Afrika Utara.
Musa yang sebelumnya berasal dari kalangan penjaga setia Muawiyah bin Abi Sufyan, berangkat dari Mesir menuju wilayah Kairouan, salah satu kota yang sekarang ada di Tunisia. Sesampainya di sana, ia segera mengirimkan pasukan ke berbagai penjuru. Salah satu yang diberi tugas dalam hal ini adalah Abdullah, putra Musa, yang berhasil memperoleh kemenangan dari pulau-pulau di sekitar Kairouan.
Ada juga putranya yang lain, Marwan namanya, yang juga meraih kemenangan dan berhasil membawa banyak keuntungan. Sementara Musa bin Nusair sendiri, memimpin pasukan menuju wilayah pedalaman di Kairouan.
Dalam menjalankan ekspansi ini, Musa berhasil menjalankannya dengan baik. Ia tidak hanya berhasil menaklukkan beberapa wilayah yang ada di wilayah tersebut melalui serangkaian ekspedisi militer, tetapi juga berhasil memadamkan berbagai pemberontakan dari suku Berber yang merupakan etnis asli dari Afrika Utara.
Kemenangan demi kemenangan diraih oleh Musa bin Nusair, bahkan ia berhasil meraih seratus ribu tawanan. Karenanya, ketika ia melaporkan kepada Khalifah al-Walid, sang khalifah sempat meragukannya karena jumlah yang demikian besar. Simak penjelasannya berikut ini:
لما فتح سقوما كتب إلى الوليد بن عبد الملك أنه: صار لك من سبي سقوما مائة ألف رأس. فكتب إليه الوليد ويحك إني أظنها من بعض كذباتك فإن كنت صادقا فهذا محشر الأمة
Artinya, “Ketika Musa berhasil menaklukkan wilayah Saquma, ia menulis surat kepada al-Walid bin Abdul Malik yang berisi: ‘Telah menjadi milikmu dari perang di Saquma ini sebanyak seratus ribu jiwa. Maka al-Walid menjawab: ‘Aduhai celaka! Aku kira itu hanya salah satu kebohonganmu. Jika engkau jujur, maka jumlah itu ibarat kumpulan umat manusia.” (An-Nashiri, al-Istiqsha li Akhbar Duwal Maghrib al-Aqsha, [Casablanca: Dar Kitab, 1997 M], jilid I, halaman 152).
Seiring semakin kokohnya kekuasaan Islam di wilayah Afrika Utara, Musa bin Nusair terus melanjutkan perluasan wilayah hingga mencapai Tonjah atau Tangier, yaitu kawasan pesisir yang ada di Maroko dan langsung berhadapan dengan Semenanjung Iberia. Nah, di sinilah kisah awal mula masuknya Islam ke Eropa.
Masuknya Islam ke Semenanjung Iberia
Menurut penjelasan Ibnu Khaldun (wafat 808 H), setelah Musa berhasil meneguhkan kekuasaan di berbagai wilayah Afrika Utara, ia melanjutkan ekspansinya ke arah barat hingga berhasil menguasai kota Tangier beserta beberapa daerah strategis lainnya, seperti Gurun Tafilalt dan Draa. Pada saat yang sama, ia juga mengutus putranya untuk memimpin ekspedisi ke kawasan As-Sus, sehingga semakin banyak suku Berber yang tunduk pada pemerintahan Islam.
Demi menjaga stabilitas keamanan, Musa menempatkan beberapa tokoh sebagai jaminan kesetiaan mereka di kota Tangier. Kemudian tepat pada tahun 88 Hijriyah, Musa bin Nusair mengangkat Thariq bin Ziyad al-Laitsi sebagai gubernur Tangier. Dan untuk memperkuat pertahanan wilayah tersebut, ia menempatkan sekitar 27.000 orang Arab dan 12.000 orang Berber di bawah komando Thariq.
Selain memperkuat pertahanan militer, ia juga memerintahkan agar masyarakat Berber diajarkan Al-Qur’an dan ilmu fiqih. Dan kebijakan inilah yang kemudian mempercepat proses Islamisasi di wilayah Afrika Utara, khususnya kawasan Berber yang sekarang lebih dikenal dengan nama Maroko. Simak penjelasan Ibnu Khaldun berikut ini:
وَوَلَّى عَلىَ طَنْجَةَ طَارِقَ بْنَ زِيَادٍ، وَأَنْزَلَ مَعَهُ سَبْعَةً وَعِشْرِينَ أَلْفًا مِنَ الْعَرَبِ وَاثْنَي عَشَرَ أَلْفًا مِنَ الْبَرْبَر، وَأَمَرَهُمْ أَنْ يُعَلِّمُوْا الْبَرْبَرَ الْقُرْآنَ وَالْفِقْهَ
Artinya, “Dan ia (Musa) menunjuk Thariq bin Ziyad sebagai gubernur di kota Tangier, dan menempatkan bersamanya 27.000 orang Arab dan 12.000 orang Berber. Ia juga memerintahkan mereka untuk mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu fiqih kepada orang Berber.” (Tarikh Ibnu Khaldun, [Beirut: Darul Fikr, 1981 M], jilid VI, halaman 144).
Setelah kekuasaan Islam di wilayah Maghrib benar-benar kokoh, Musa bin Nusair mulai mengarahkan perhatiannya ke wilayah di seberang Selat Gibraltar, yaitu Semenanjung Iberia. Maka ia mengirimkan surat kepada gubernurnya di Tangier, Thariq bin Ziyad, agar memimpin pasukan untuk memasuki Semenanjung Iberia.
Menindaklanjuti perintah tersebut, Thariq memimpin sekitar 12.000 pasukan yang mayoritas terdiri dari suku Berber, disertai sejumlah pasukan kecil dari orang Arab. Mereka berangkat dari Ceuta (Sabtah) dengan menyeberangi Selat Gibraltar hingga mendarat di kawasan Jaziratul Khadra’ (Algeciras).
Setelah mencapai daratan Semenanjung Iberia, Thariq bersama pasukannya naik ke sebuah bukit yang kemudian dikenal dengan namanya, yaitu Jabal Thariq, dan kemudian dikenal dengan nama Gibraltar.
Dalam peristiwa ini, terdapat sebuah kisah sebagaimana dicatat oleh Abul Abbas an-Nashiri. Dalam kisahnya, ketika Thariq bin Ziyad menyeberangi lautan, ia tertidur, kemudian bermimpi bertemu Rasulullah bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali berjalan di atas air. Dalam mimpinya, Rasulullah memberi kabar tentang kemenangan yang akan diraih sekaligus berpesan agar memperlakukan umat Islam dengan baik dan menepati setiap janji yang dibuat.
Simak kutipan kisah tersebut berikut ini:
وذكر عن طارق أنه كان نائما وقت العبور في المركب فرأى النبي والخلفاء الأربعة يمشون على الماء حتى مروا به فبشره النبي بالفتح وأمره بالرفق بالمسلمين والوفاء بالعهد
Artinya, “Diceritakan dari Thariq, bahwa ia tertidur di atas perahu saat penyeberangan berlangsung, lalu ia bermimpi melihat Nabi beserta empat khalifah berjalan di atas air hingga melewatinya. Maka Nabi menyampaikan kabar gembira akan kemenangan kepadanya, serta memerintahkannya untuk bersikap lembut kepada umat Islam dan menepati janji.” (An-Nashiri, al-Istiqsha li Akhbar Duwal Maghrib al-Aqsha, [Casablanca: Dar Kitab, 1997 M], jilid I, halaman 152).
Peristiwa yang terjadi pada tahun 92 Hijriyah atau 711 Masehi inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal terbentuknya peradaban Islam di Semenanjung Iberia, khususnya Andalusia, selama berabad-abad. Ia dimulai oleh Thariq bin Ziyad atas perintah Musa bin Nusair.
Dalam waktu yang relatif singkat, Thariq berhasil menguasai sejumlah wilayah di kota tersebut, kemudian meminta pasukan tambahan kepada Musa, sehingga keduanya bersama-sama menyempurnakan penaklukan tersebut di Semenanjung Iberia.
Penjelasan di atas sebagaimana dicatat oleh seorang ulama sejarawan berkebangsaan Mesir, Syekh Syauqi Dlaif, dalam salah satu karyanya mengatakan:
وفي سنة 92 هـ كتب موسى إلى طارق أن يغزو الأندلس أو بعبارة أدق إيبيريا، فجهز جيشا عداده اثنا عشر ألفا اجتاز الزقاق إلى ايبيريا، ونزل في مكان سمي باسمه جبل طارق، وفتح طارق في برهة قصيرة شطرا كبيرا من إيبيريا، واستمد موسى فتبعه موسى بجيش وأتما معا فتح إيبيريا
Artinya, “Pada tahun 92 Hijriyah, Musa mengirim surat kepada Thariq untuk memerangi Andalusia, atau lebih tepatnya Semenanjung Iberia. Thariq kemudian mempersiapkan pasukan sebanyak 12.000, lalu menyeberangi selat menuju Iberia. Ia mendarat di tempat yang kemudian dinamai berdasarkan namanya, yaitu Jabal Thariq (Gibraltar).
Dalam waktu singkat, Thariq berhasil menaklukkan sebagian besar wilayah Iberia. Selanjutnya, ia meminta bantuan kepada Musa. Musa pun menyusul dengan membawa pasukan tambahan, dan bersama-sama mereka menyempurnakan penaklukan Semenanjung Iberia.” (Tarikhul Adab al-Arabi Ashr Duwal wal Imarat, [Kairo: Dar Ma’arif, t.t], halaman 373).
Demikianlah sejarah awal penaklukan Semenanjung Iberia yang sekaligus menjadi pintu masuknya Islam ke kawasan Eropa. Berawal dari kokohnya kekuasaan Islam di Afrika Utara, kemudian dilanjutkan dengan ekspedisi Thariq bin Ziyad atas perintah Musa bin Nusair, lahirlah peradaban besar yang dikenal dengan nama Andalusia. Wallahu a’lam bisshawab.
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.

1 jam yang lalu
2




English (US) ·
Indonesian (ID) ·