CIMB Niaga catat pertumbuhan kredit 6,7 persen, capai Rp242,6 triliun

1 jam yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) mencatat pertumbuhan penyaluran kredit 6,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp242,6 triliun hingga akhir kuartal III 2026.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan konsolidasian yang belum diaudit untuk sembilan bulan pertama 2026, pertumbuhan kredit perseroan terutama ditopang oleh segmen perbankan korporasi yang tumbuh 15,1 persen (yoy).

Sementara itu, kredit pada segmen perbankan komersial tumbuh 6,4 persen (yoy), sedangkan segmen usaha menengah dan kecil tumbuh 1,9 persen (yoy). Adapun penyaluran kredit perbankan konsumer relatif terjaga.

Presiden Direktur dan CEO CIMB Niaga Lani Darmawan, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan perseroan mampu mempertahankan kinerja yang stabil di tengah dinamika ekonomi yang masih menantang.

Kinerja tersebut didukung oleh pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, pengelolaan biaya secara disiplin, serta peningkatan efisiensi operasional.

"Di tengah dinamika ekonomi yang masih menantang, kami bersyukur dapat terus menjaga kinerja yang stabil, didukung oleh pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, pengelolaan biaya yang disiplin, serta fokus pada efisiensi operasional," kata Lani.

Kemudian, dari sisi pendanaan, CIMB Niaga menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp273,7 triliun.

Dana murah atau current account and savings account (CASA) tercatat tumbuh 4,4 persen secara tahunan menjadi Rp197 triliun, dengan rasio CASA mencapai 72 persen dari total DPK.

Adapun total aset konsolidasian CIMB Niaga tercatat sebesar Rp384,8 triliun per 30 September 2026, atau tumbuh 4,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi profitabilitas, perseroan membukukan laba sebelum pajak konsolidasian sebesar Rp5,8 triliun dan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) sebesar Rp8,2 triliun.

Sementara itu, pendapatan nonbunga tumbuh 7,8 persen (yoy).

"Meskipun profitabilitas menghadapi tantangan karena tekanan margin bunga dan peningkatan pencadangan sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko kredit, kami tetap mampu menjaga kondisi keuangan yang solid," terang Lani.

Meski demikian, Lani mengatakan kondisi permodalan dan likuiditas perseroan tetap terjaga dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23,7 persen dan rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) sebesar 87,7 persen.

Ke depan, CIMB Niaga akan memperkuat kualitas aset, mendorong pertumbuhan kredit secara selektif, mengoptimalkan komposisi pendanaan, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi yang berkelanjutan dengan tetap menjaga efisiensi biaya.

"Fokus kami adalah memperkuat kualitas aset, mendorong pertumbuhan kredit secara selektif, mengoptimalkan komposisi pendanaan, serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga efisiensi biaya," ujar Lani.

Lebih lanjut, Unit Usaha Syariah (UUS) CIMB Niaga mencatatkan total pembiayaan sebesar Rp49,4 triliun dan DPK sebesar Rp52,5 triliun per 30 September 2026.

Pertumbuhan pembiayaan tersebut didukung oleh optimalisasi komposisi portofolio dengan meningkatkan fokus pada segmen bisnis yang memberikan imbal hasil lebih baik.

Dari sisi pendanaan, Perseroan turut memperkuat akuisisi nasabah, inovasi produk, dan keterlibatan nasabah untuk meningkatkan porsi dana murah serta menjaga likuiditas.

"Bersama dengan kontribusi yang terus berkembang dari jaringan komunitas syariah, berbagai upaya tersebut turut meningkatkan porsi dana murah, sekaligus memperkuat posisi likuiditas dan ketahanan pendanaan Bank," jelasnya.

Baca juga: OJK: Tidak ada pembahasan opsi “delisting” CIMB Niaga

Baca juga: OJK: CIMB Niaga masih sesuaikan proses bisnis untuk "spin off" UUS

Baca juga: CIMB Niaga luncurkan layanan "business owners smart solution"

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya