WASHINGTON — Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat (AS) Robert F Kennedy Jr menuai kecaman setelah menyatakan bangsa Arab tidak menghasilkan sains, tidak memenangkan penghargaan Nobel, dan tidak lagi melahirkan karya sastra besar. Pernyataan tersebut dinilai keliru secara faktual dan memuat sentimen rasial terhadap Muslim dan masyarakat Arab.
Kennedy melontarkan pernyataan itu dalam sebuah acara kampanye Partai Republik di Grand Rapids, Michigan, pada Senin (26/10/2026). Saat itu, dia tengah berkampanye untuk kandidat Senat dari Partai Republik, Mike Rogers, yang bersaing dengan kandidat Demokrat keturunan Arab-Amerika, Abdul El-Sayed.
“Ada 500 juta orang Arab di dunia. Namun, mereka tidak menghasilkan sains. Mereka tidak memenangkan Hadiah Nobel. Mereka tidak memenangkan Fields Medal. Mereka tidak memenangkan Wolf Prize. Mereka tidak menghasilkan karya sastra,” kata Kennedy, sebagaimana dilaporkan Aljazirah, Selasa (27/10/2026).
Kennedy juga menuding Ikhwanul Muslimin sebagai penyebab kemunduran kontribusi bangsa Arab dalam ilmu pengetahuan dan sastra. Menurut dia, gerakan tersebut telah menghancurkan tradisi keilmuan yang pernah berkembang pesat dalam peradaban Islam.
Dia bahkan menggambarkan masyarakat yang dipengaruhi ideologi Ikhwanul Muslimin sebagai masyarakat stagnan yang hanya berkutat pada kebencian, perang, dan perasaan menjadi korban. Pernyataan itu segera menuai kritik karena mengabaikan kontribusi nyata ilmuwan, matematikawan, dan sastrawan Arab, baik dalam sejarah maupun pada era modern.
Catatan sejarah menunjukkan, dunia Arab memiliki peran penting dalam perkembangan matematika, kedokteran, optika, astronomi, dan sastra. Pada masa yang dikenal sebagai Zaman Keemasan Islam, sekitar 750 hingga 1258 Masehi, bahasa Arab menjadi salah satu bahasa utama ilmu pengetahuan dan tradisi akademik.
Kontribusi tersebut tidak berhenti pada masa abad pertengahan. Sejumlah ilmuwan dan sastrawan Arab maupun keturunan Arab juga meraih penghargaan internasional bergengsi pada era modern.
Sastrawan Mesir Naguib Mahfouz memenangkan Hadiah Nobel Sastra pada 1988. Akademi Swedia memberikan penghargaan tersebut atas karya-karyanya yang mengembangkan seni narasi Arab dengan jangkauan kemanusiaan universal.
Kimiawan Mesir-Amerika Ahmed Zewail meraih Hadiah Nobel Kimia pada 1999 berkat penelitiannya dalam bidang femtokimia, yakni kajian reaksi kimia dalam rentang waktu yang amat singkat. Zewail sebelumnya juga memenangkan Wolf Prize di bidang kimia pada 1993.
Di bidang matematika, Michael Atiyah, matematikawan Inggris keturunan Lebanon, menerima Fields Medal pada 1966. Penghargaan tersebut merupakan salah satu penghargaan paling bergengsi di dunia matematika.
Adapun dalam bidang perdamaian, ilmuwan dan diplomat Mesir Mohamed ElBaradei berbagi Hadiah Nobel Perdamaian pada 2005 bersama Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Aktivis dan jurnalis Yaman Tawakkol Karman juga menjadi salah satu penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 2011.
Salah satu contoh paling mutakhir yang membantah klaim Kennedy adalah Omar M Yaghi, kimiawan kelahiran Yordania dari keluarga pengungsi Palestina. Yaghi menerima Wolf Prize di bidang kimia pada 2018 dan Hadiah Nobel Kimia pada 2025.
Penghargaan Nobel tersebut diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan kerangka logam-organik atau metal-organic frameworks (MOF). Material kristalin itu memiliki rongga internal yang dapat dimanfaatkan untuk menangkap dan menyimpan gas, mengambil air dari udara, serta menjebak polutan. Yaghi berbagi Hadiah Nobel Kimia 2025 bersama Susumu Kitagawa dari Jepang dan Richard Robson dari Australia.

57 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·