Jakarta (ANTARA) - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) menyatakan bahwa perseroan masih optimistis dapat memenuhi target pertumbuhan pembiayaan (financing growth) sebesar dua digit pada kisaran 12-15 persen hingga akhir tahun 2026.
“Tentu dengan kualitas yang baik, cost of credit di bawah 1 persen, dan semoga margin kita juga masih bisa terjaga dengan menjaga balance antara yield dan cost of fund yang diiringi dengan pertumbuhan fee-based income yang rasanya memang masih sangat baik di semester I 2026,” kata Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Hingga akhir Juni 2026, total pembiayaan BSI tumbuh 15,98 persen (yoy) menjadi Rp340 triliun. Pertumbuhan tersebut diiringi rasio NPF gross dan net yang masing-masing membaik ke level 1,8 persen dan 0,33 persen, serta cost of credit (CoC) BSI membaik ke level 0,62 persen.
Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 21,81 persen (yoy) mencapai Rp393 triliun. Perseroan mencatatkan perbaikan cost of fund (CoF) sehingga berada pada level 2,19 persen per akhir Juni 2026.
Adapun fee based income mencapai Rp4,06 triliun atau tumbuh sekitar 38,15 persen (yoy). Capaian ini utamanya ditopang oleh gold business yang mencatatkan fee based income sebesar Rp1,3 triliun atau tumbuh 92,45 persen (yoy).
Dengan pertumbuhan dua digit pada pembiayaan dan DPK hingga semester I tahun ini, Ade Cahyo menyampaikan perseroan akan terus menjaga konsistensi dan keberlanjutan (sustainability) atas pencapaian ini.
Baca juga: BSI: Pembiayaan berkelanjutan capai Rp78,6 triliun per kuartal II 2026
Baca juga: Pembiayaan emas BSI tumbuh 80,52 persen capai Rp30,48 triliun per Juni
“Bila melihat apa yang terjadi di bulan Juli, rasanya demand untuk pembiayaan khususnya consumer masih bagus, bahkan mulai menunjukkan perbaikan di beberapa produk,” kata dia.
Per akhir Juni 2026, pembiayaan segmen consumer, gold dan card menjadi penopang dari pembiayaan BSI dengan porsi sebesar 55,65 persen dari total pembiayaan. Segmen ini tumbuh 16,70 persen (yoy) mencapai Rp189,28 triliun.
Khusus konsumer, pembiayaan segmen ini tumbuh 9,30 persen (yoy) mencapai Rp157,9 triliun. Sedangkan bisnis emas (gold business) tumbuh 80,52 persen (yoy) mencapai Rp30,48 triliun.
Sementara dari sisi likuiditas, meskipun secara industri masih cukup ketat, Ade Cahyo menyampaikan bahwa perseroan meyakini terdapat peluang terhadap pertumbuhan DPK yang bersumber dari tabungan haji maupun tabungan emas.
Sebagai catatan, kinerja DPK BSI hingga akhir kuartal II 2026 ditopang oleh tabungan yang tumbuh 22,32 persen (yoy) mencapai Rp173 triliun.
Tabungan payroll mencapai Rp61,5 triliun atau tumbuh 20,53 persen (yoy), sementara tabungan haji dan umrah Rp16,7 triliun atau tumbuh 17,21 persen (yoy).
“Melihat apa yang kita capai di semester I, terutama terkait dengan pertumbuhan pembiayaan dan DPK yang tumbuh signifikan, kami melihat mesin pendorong utamanya adalah keuntungan BSI sebagai satu-satunya bank di Indonesia yang menjalankan role sebagai bank syariah dan bank emas. Tentu ini menjadi pendorong kinerja bisnis BSI hingga semester pertama tahun 2026,” kata Ade Cahyo.
Baca juga: BSI kantongi laba Rp4,16 T hingga kuartal II 2026, tumbuh 11,08 persen
Baca juga: Kemnaker-BSI kerja sama untuk perkuat ekosistem ketenagakerjaan
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·