BNI cermati potensi dampak kenaikan BI-Rate ke permintaan kredit

1 jam yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI tetap mencermati potensi dampak kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) terhadap permintaan kredit, terutama dari sektor usaha yang sensitif terhadap perubahan biaya dana.

Dalam hal ini, perseroan menyatakan akan terus menyesuaikan strategi bisnis dengan perkembangan kondisi makroekonomi, arah kebijakan moneter, serta kebutuhan pembiayaan nasabah.

“Kami terus memperkuat governance, manajemen risiko, dan kapabilitas digital agar tetap mampu memberikan layanan terbaik kepada nasabah sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fondasi yang kuat tersebut, BNI optimistis dapat terus mendukung sektor riil dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Di tengah dinamika suku bunga, perseroan memperkuat transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi layanan dan proses bisnis.

Pemanfaatan teknologi digital dilakukan pada berbagai aspek operasional, termasuk pengembangan layanan perbankan, peningkatan pengalaman nasabah, serta optimalisasi proses kredit agar semakin cepat, efektif, dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Selain itu, perseroan memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dan manajemen risiko yang disiplin guna menjaga kualitas aset dan ketahanan bisnis.

Perseroan juga secara konsisten memantau portofolio kredit, profil risiko, likuiditas, serta perkembangan kondisi ekonomi dan pasar sebagai bagian dari mitigasi risiko berkelanjutan.

Secara umum, perseroan memandang kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen merupakan langkah untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tantangan dinamika global saat ini.

Seiring dengan perkembangan tersebut, perseroan tetap akan menjalankan fungsi intermediasi secara selektif dan produktif guna mendukung sektor riil.

Okki menilai bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) mencerminkan respons yang terukur dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan tekanan inflasi, serta memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

“Kami memandang kenaikan BI-Rate sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Stabilitas yang terjaga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan sektor riil maupun industri perbankan,” ujar Okki.

Ia menambahkan, stabilitas makroekonomi menjadi prasyarat penting bagi sektor perbankan untuk tetap menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan.

Dengan kondisi pasar yang lebih terkendali, Okki mengatakan bahwa bank memiliki ruang untuk menjaga penyaluran pembiayaan secara prudent, selektif, dan produktif.

Perseroan pun akan terus mencermati perkembangan makroekonomi dan arah kebijakan moneter untuk memastikan strategi bisnis tetap adaptif.

Dengan dukungan permodalan, likuiditas yang memadai, serta pengelolaan risiko yang prudent, perseroan menegaskan komitmennya menjaga kinerja berkelanjutan sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya