BI masih kedepankan stabilitas seiring tekanan global belum mereda

1 jam yang lalu 2
Karena tentunya kita tidak ingin SRBI rate kita ini mengalami peningkatan.

Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pihaknya saat ini masih mengedepankan stabilitas seiring dengan tekanan global yang dinilai belum sepenuhnya mereda.

Meski berupaya untuk mempertahankan stabilitas, bank sentral juga mengambil langkah untuk menyeimbangkan bauran kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan.

“Walaupun suku bunga saat ini kami pertahankan, sudah dua bulan ini kita pertahankan di level yang sama 5,75 persen, tapi di satu sisi kita mengeluarkan suatu kebijakan ataupun instrumen-instrumen lainnya yang tujuannya adalah untuk bisa menjaga stabilitas dari rupiah,” kata Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, di Jakarta, Rabu.

Destry menjelaskan, Bank Sentral Indonesia mengeluarkan sejumlah insentif khususnya untuk mendukung inflow yang akan masuk ke Indonesia.

“Karena tentunya kita tidak ingin SRBI rate kita ini mengalami peningkatan. Sehingga kalau kita lihat dalam dua minggu terakhir ini, suku bunga SRBI atau yield SRBI terus mengalami penurunan,” kata dia lagi.

Adapun aliran investasi portofolio asing pada triwulan III-2026 hingga 14 Agustus 2026 mencatat net inflows sebesar 1,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Perkembangan ini ditopang penerbitan global bond Pemerintah serta inflows pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Sebelumnya, pada RDG Juli 2026, BI telah mengumumkan insentif bagi swap jual lindung nilai yang dinaikkan menjadi sebesar 12,5 persen, serta insentif bagi DNDF (domestic non-deliverable forward) jual lindung nilai diberikan sebesar 15 persen.

“Apa yang kami lakukan adalah memberikan insentif untuk hedging cost, untuk dana asing yang masuk ke sini sehingga bisa mempertahankan spread yang menarik dan mereka akan masuk ke instrumen keuangan kita,” kata Destry.

Dari sisi inflasi, Destry memastikan bahwa BI terus melakukan koordinasi bersama pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) dalam implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

“Jadi kolaborasi bersama. Dan kita juga mencoba supaya rupiah bisa stabil dan bisa dengan tren mengalami penguatan. Karena tentunya kita juga memperhatikan dampak rambatan dari imported inflation, yang ini tentu memang menjadi perhatian kami untuk bisa kita batasi dampaknya yaitu dengan kita mempertahankan stabilitas rupiah dan kita usahakan dengan tren yang terus mengalami apresiasi,” kata Destry.

Dalam rangka mendorong pertumbuhan, BI juga memperkuat Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan ke sektor prioritas.

Hingga minggu pertama Agustus 2026, insentif KLM yang diperoleh bank tercatat sebesar Rp446,5 triliun dengan alokasi pada financing channel sebesar Rp368,4 triliun, interest rate channel sebesar Rp73,2 triliun, serta financing to funding channel sebesar Rp4,9 triliun.

Adapun kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dari pertumbuhan pada Juni 2026 sebesar 12,67 persen (yoy).

Sebelumnya, BI melalui RDG pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 4,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 6,50 persen.

Menurut BI, keputusan ini tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5 plus minus 1 persen (rentang 1,5-3,5 persen) pada 2026 dan 2027, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Baca juga: Pjs Gub BI: Arah kebijakan moneter tak berubah pascaperubahan pimpinan

Baca juga: Analis sebut BNI dan Mandiri diuntungkan kebijakan insentif BI

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya