BI dorong pengembangan PUVA beralih dari fondasi ke aktivitas pasar

1 jam yang lalu 2
Keberhasilan pendalaman PUVA tidak cukup berhenti pada tersedianya ketentuan dan infrastruktur, tetapi harus tercermin dari peningkatan aktivitas transaksi, perluasan partisipasi pelaku pasar yang kompeten

Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) mendorong pengembangan pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) untuk beralih dari penguatan fondasi menuju peningkatan aktivitas dan pemanfaatan produk serta infrastruktur pasar.

Terkait hal ini, Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan pentingnya percepatan implementasi Blueprint Pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing 2030 (BPPU 2030).

“Keberhasilan pendalaman PUVA tidak cukup berhenti pada tersedianya ketentuan dan infrastruktur, tetapi harus tercermin dari peningkatan aktivitas transaksi, perluasan partisipasi pelaku pasar yang kompeten, pembentukan harga yang semakin baik, serta penguatan tata kelola dan integritas pasar,” kata Destry dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Untuk itu, industri didorong semakin aktif dalam menyediakan likuiditas, mengembangkan inovasi, dan mengatasi hambatan implementasi untuk mengakselerasi pendalaman PUVA.

Adapun penguatan sinergi BI bersama Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (APUVINDO) telah dilaksanakan dalam High Level Meeting (HLM) di Jakarta pada Jumat (23/10).

BI menyampaikan bahwa implementasi BPPU 2030 terus diperkuat melalui pengembangan produk, pembentukan harga, peningkatan kapasitas pelaku, dan penguatan infrastruktur pasar keuangan.

Menurut BI, berbagai capaian strategis telah dihasilkan antara lain pengembangan transaksi repo untuk meningkatkan likuiditas pasar uang, penguatan INDONIA sebagai referensi suku bunga, serta pengembangan instrumen lindung nilai dan transaksi valuta asing (valas).

Capaian tersebut didukung penguatan peran dealer utama PUVA, peningkatan kompetensi dan integritas pelaku pasar, serta pengembangan infrastruktur untuk mendukung transaksi yang lebih efisien dan aman.

Memasuki 2027, BI bersama APUVINDO akan mengakselerasi implementasi BPPU 2030 melalui empat prioritas strategis, yaitu pengembangan pasar uang, pengembangan pasar valas, penguatan pelaku pasar, dan pengembangan infrastruktur pasar keuangan.

Pengembangan pasar uang difokuskan pada penguatan Surat Berharga Komersial (SBK) sebagai alternatif pembiayaan sektor riil, perluasan penggunaan INDONIA sebagai referensi suku bunga berbagai produk keuangan, serta peningkatan likuiditas Overnight Index Swap (OIS) untuk mendukung pembentukan suku bunga yang lebih efisien.

Upaya tersebut didukung perluasan basis investor dan peningkatan aktivitas transaksi di pasar sekunder.

Baca juga: BI beri insentif "swap hedging" bagi pinjaman luar negeri bank dan FDI

Baca juga: BI nilai kode etik pelaku pasar keuangan krusial demi kredibilitas

Kemudian, pengembangan pasar valas dilakukan melalui perluasan akses lindung nilai dan penguatan konektivitas pasar domestik dengan pasar global.

Optimalisasi transaksi pasar valas untuk lindung nilai melalui bank mitra (VASTRA) diarahkan untuk mempermudah akses lindung nilai bagi investor global, meningkatkan daya tarik aset Rupiah, serta mendukung aliran investasi portofolio berkelanjutan.

Sementara itu, penguatan ekosistem Renminbi, termasuk pengembangan Renminbi Clearing Bank, ditujukan untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi transaksi Renminbi-Rupiah serta mendukung implementasi local currency transaction (LCT) Indonesia–Tiongkok.

Selanjutnya, penguatan pelaku pasar difokuskan pada peningkatan kompetensi, profesionalisme, dan integritas melalui penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), pengembangan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Tresuri Indonesia, serta penerapan kode etik pasar.

Penguatan tersebut didukung peningkatan peran APUVINDO sebagai self-regulatory organization (SRO) dalam mendorong standardisasi praktik dan tata kelola pasar.

Sementara pengembangan infrastruktur pasar keuangan diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan central counterparty dan tri-party agent repo, perluasan produk dan partisipan, serta penguatan konektivitas antarinfrastruktur untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan pengelolaan risiko transaksi PUVA.

Dalam High Level Meeting yang turut melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi juga menekankan pentingnya pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat sumber pembiayaan pembangunan ekonomi nasional.

Menurutnya, pendalaman pasar tidak hanya bertumpu pada peningkatan volume transaksi dan pengembangan instrumen, tetapi juga memerlukan tata kelola yang baik, integritas pelaku, transparansi, dan kepercayaan pasar.

OJK pun berkomitmen memperkuat sinergi dengan BI, APUVINDO, dan pemangku kepentingan terkait untuk mewujudkan pasar keuangan yang semakin dalam, sehat, dan berdaya saing.

Baca juga: SPPA resmi jadi platform kuotasi dealer utama di pasar uang dan valas

Baca juga: BI terbitkan PADG Derivatif PUVA pasca-alih tugas dari Bappebti

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya