Jakarta (ANTARA) - PT BRI Asuransi Indonesia (BRI Insurance) mengatakan penerapan budaya manajemen risiko dan kepatuhan (GRC) merupakan hal penting dalam mewujudkan aspek integritas, kehati-hatian dan akuntabilitas dalam seluruh ekosistem bisnis.
“Penerapan prinsip tata kelola perlu tercermin dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dan proses pengambilan keputusan, bukan sebatas pemenuhan terhadap ketentuan yang berlaku,” kata Direktur Kepatuhan BRI Insurance Heri Supriyadi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
“Dengan pemahaman tersebut, setiap bagian perusahaan diharapkan dapat menjalankan tanggung jawabnya secara konsisten dengan memperhatikan aspek integritas, kehati-hatian dan akuntabilitas,” imbuhnya.
Ia mengatakan, dalam industri asuransi umum yang berhadapan dengan berbagai risiko dan dinamika bisnis, penerapan GCG menjadi salah satu landasan untuk memastikan proses pengelolaan perusahaan berjalan secara transparan, akuntabel dan bertanggung jawab.
“Integrasi antara tata kelola, manajemen risiko dan kepatuhan juga menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi risiko serta mempertimbangkan aspek kehati-hatian sebelum mengambil keputusan bisnis,” ujarnya.
Adapun BRI Insurance juga telah menyelenggarakan “Compliance Sharing Session: Membangun Ekosistem Bisnis Asuransi Umum dalam Kerangka Good Corporate Governance” sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat pemahaman mengenai penerapan tata kelola perusahaan yang baik dalam mendukung pengelolaan bisnis asuransi umum.
Baca juga: BRI Insurance tekankan pentingnya literasi keuangan dan kelestarian
Sesi ini menghadirkan Chairman The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) Dr. Gendut Suprayitno yang menyampaikan pemaparan mengenai peran GCG dalam membangun ekosistem bisnis yang sehat, transparan dan berkelanjutan.
Penerapan GCG perlu diintegrasikan dengan GRC dalam seluruh proses bisnis, mulai dari underwriting, penetapan premi, pengelolaan klaim, hingga pemilihan mitra bisnis.
Sehingga, diperlukan penguatan etika bisnis, pengendalian benturan kepentingan, serta kolaborasi antarunit dan pemangku kepentingan.
Melalui penerapan tata kelola yang efektif, perusahaan diharapkan mampu menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan pengelolaan risiko, meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan, serta menjaga keberlanjutan usaha.
Pembahasan dalam sesi ini turut menyoroti keterkaitan antara tata kelola perusahaan, manajemen risiko dan kepatuhan sebagai elemen yang saling mendukung dalam menjaga kualitas pengelolaan bisnis.
Penerapan ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan proses bisnis berjalan secara terarah, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta sejalan dengan prinsip-prinsip GCG.
Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan risiko yang lebih terukur, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta menjaga kepercayaan pemangku kepentingan terhadap perusahaan dalam menjalankan bisnis asuransi umum.
Baca juga: BRI Insurance raih penghargaan Trusted & Popular Brand 2026
Baca juga: BRI Insurance: Asuransi beri perlindungan saat terjadi bencana
Baca juga: BRI Insurance: Asuransi "heavy equipment" lindungi alat berat
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·