Jakarta (ANTARA) - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan entitas anak, membukukan laba bersih sebesar Rp29,5 triliun pada semester I 2026, atau tumbuh tipis dibandingkan Rp28,5 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Laba perseroan ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh 8 persen (yoy) mencapai Rp1.036 triliun pada semester I-2026, atau untuk pertama kalinya menembus level Rp1.000 triliun.
"Kinerja pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor. Kami memastikan penyaluran kredit perseroan dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan,” ujar Presiden Direktur BCA Hendra Lembong dalam Paparan Publik di Jakarta, Selasa.
Capaian kinerja perseroan ditopang oleh pendanaan yang solid, dengan pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) sebesar 10,2 persen (yoy) mencapai Rp1.082 triliun pada semester I 2026.
Kemudian, total Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan tumbuh 7,9 persen (yoy) mencapai Rp1.284 triliun pada semester I 2026, dengan porsi CASA perseroan mencapai sekitar 84,3 persen dari total DPK, dan Cost of Fund (CoF) konsisten terjaga.
“BCA berterima kasih atas seluruh kepercayaan nasabah setia selama ini, sehingga kami dapat terus tumbuh dan memberikan pelayanan terbaik,” ujar Hendra,.
Penyaluran kredit perseroan ditopang oleh segmen pembiayaan produktif yang mencapai Rp802 triliun pada semester I 2026, atau tumbuh 11 persen (yoy).
Adapun, penyaluran kredit produktif mencakup pembiayaan korporasi yang tumbuh 13,6 persen (yoy) menjadi Rp513,4 triliun, serta kredit komersial dan UKM dengan pertumbuhan 6,6 persen (yoy) menjadi Rp288,5 triliun pada semester I 2026.
Kemudian, kredit hijau (green financing) perseroan tumbuh 19 persen (yoy) mencapai Rp123 triliun pada semester I 2026, salah satunya ditopang pembiayaan berkelanjutan ke sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) yang tumbuh hingga 82 persen (yoy) menjadi Rp7,7 triliun.
Selain itu, kredit kendaraan bermotor listrik tumbuh 25 persen (yoy) mencapai Rp4 triliun pada semester I 2026.
Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) dan non performing loan (NPL) terjaga masing-masing 4,9 persen dan 1,9 persen. Per Juni 2026, pendapatan non bunga perseroan tercatat senilai Rp13,2 triliun atau tumbuh 11 persen (yoy).
Baca juga: Laba konsolidasi Bank Mandiri Rp30,4 T per Juni, tumbuh 24,4 persen
Baca juga: OJK: Repatriasi laba bank asing merupakan hal biasa
Baca juga: Bank Jago kantongi laba Rp189 miliar per Juni 2026, tumbuh 49 persen
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·