REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Muhammad Anis Matta menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi menjadi titik balik bagi lahirnya tatanan geopolitik baru. Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar pertarungan militer, melainkan juga memperlihatkan perubahan keseimbangan kekuatan, melemahnya efektivitas dominasi kekuatan eksternal, serta munculnya peluang bagi negara-negara Islam untuk membangun kemandirian strategis.
Menurut Anis, Timur Tengah kini berada di persimpangan sejarah yang dapat menentukan masa depan hubungan internasional. Jika negara-negara kawasan mampu mengatasi perpecahan dan membangun kesepahaman mengenai keamanan bersama, perubahan tersebut berpotensi melahirkan arsitektur geopolitik yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Amerika Serikat.
Pandangan itu disampaikan Anis dalam forum SAJID Friday Morning Talk di Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026. Dalam paparannya, ia menguraikan sejumlah perkembangan strategis yang dinilainya sedang mengubah peta kekuatan Timur Tengah, sekaligus menawarkan lima agenda yang perlu didorong Indonesia untuk memperkuat posisi dunia Islam dalam tatanan internasional.
Anis mengatakan konflik yang berlangsung saat ini telah membuka pertanyaan mendasar mengenai efektivitas kekuatan militer negara adidaya dalam mencapai tujuan politiknya. Amerika Serikat, yang selama beberapa dekade menjadi penjamin utama keamanan sejumlah negara Timur Tengah, menurut dia, sedang menghadapi ujian terhadap kemampuan militernya sendiri.
"Perang ini menunjukkan Amerika yang sangat adidaya itu, yang semula kita pikir tak terkalahkan, ternyata tak segagah itu di lapangan. Jadi, diketahui batasnya," kata Anis.
Dominasi Amerika Menghadapi Ujian
Anis menilai operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran belum sepenuhnya menghasilkan tujuan strategis yang diharapkan. Ia menyebut sejumlah sasaran yang menurut pembacaannya berkaitan dengan konflik tersebut, mulai dari perubahan rezim di Teheran, pembatasan pengaruh Iran dan kelompok-kelompok sekutunya, pelemahan kemampuan militernya, hingga penghentian program nuklir Iran.
Menurut dia, kemampuan Iran mempertahankan perlawanan menunjukkan bahwa keunggulan teknologi persenjataan tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan politik dan militer. Perkembangan tersebut dinilainya mulai mengubah persepsi dunia mengenai kekuatan Amerika Serikat yang selama ini dianggap hampir tidak tertandingi.
Salah satu faktor yang mendapat perhatian Anis adalah posisi strategis Selat Hormuz. Jalur sempit yang menghubungkan kawasan Teluk dengan perairan internasional tersebut merupakan urat nadi perdagangan energi, sehingga gangguan terhadap pelayaran dapat menimbulkan dampak ekonomi yang jauh melampaui Timur Tengah.
Anis menggambarkan betapa besar tekanan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz selama konflik berlangsung. Menurut perkiraannya, jalur yang dalam kondisi normal dilintasi sekitar 150 hingga 200 kapal kargo setiap hari itu mengalami penyusutan lalu lintas secara drastis akibat peperangan.
Ia mengingatkan bahwa sekitar seperlima pasokan energi dunia berkaitan dengan jalur perdagangan tersebut. Karena itu, gangguan berkepanjangan berpotensi menciptakan persoalan yang lebih besar daripada sekadar kenaikan harga minyak dan gas.
Anis mengatakan risiko utamanya justru terletak pada terputusnya pasokan energi yang dibutuhkan berbagai sektor perekonomian. Ketika pengiriman energi terganggu dan fasilitas produksi mengalami kerusakan, tekanan ekonomi dapat berkembang menjadi krisis yang berlangsung lebih lama.
Dampak lanjutan yang dikhawatirkannya adalah munculnya krisis pupuk dan pangan. Negara-negara Teluk, termasuk Qatar, memiliki peran penting dalam industri pupuk dunia, sehingga gangguan produksi dan distribusi berpotensi memengaruhi kegiatan pertanian di berbagai negara.
Menurut Anis, krisis energi yang berlangsung saat ini dapat menciptakan persoalan baru pada musim produksi pertanian berikutnya. Ketika ketersediaan pupuk menurun dan biaya produksi pangan meningkat, negara-negara yang bergantung pada impor berisiko menghadapi tekanan lebih besar terhadap ketahanan pangannya.
Ia juga menyinggung kemungkinan meningkatnya eskalasi militer apabila pihak-pihak yang berperang gagal mencapai tujuan melalui operasi konvensional. Dalam pandangannya, pembicaraan mengenai risiko penggunaan senjata nuklir memperlihatkan betapa berbahayanya situasi apabila konflik terus berkembang tanpa penyelesaian politik.
Namun, penilaian Anis mengenai capaian militer, kendali atas Selat Hormuz, maupun kemungkinan eskalasi nuklir merupakan analisis geopolitik yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan perkembangan di lapangan. Hasil akhir peperangan dan konsekuensi strategisnya belum dapat dipastikan.
sumber : Antara

1 minggu yang lalu
11






English (US) ·
Indonesian (ID) ·