Voter dari Warga Palestina Naik Drastis di Pemilu Israel Tahun Ini

53 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Partisipasi pemilih dari kalangan warga Palestina di Israel diperkirakan meningkat drastis dalam pemilihan umum Israel yang digelar hari ini, Selasa (27/10). 

Dua jajak pendapat terbaru memperkirakan tingkat partisipasi warga Palestina di Israel mencapai 64-68 persen. Tingkat partisipasi tersebut meningkat dari 54 persen pada pemilu 2022.

Warga Palestina berjumlah sekitar 2,1 juta jiwa atau 20 persen dari total populasi Israel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang analis di lembaga kajian Van Leer Institute Israel, Ameer Fakhoury, memperkirakan partisipasi mereka bahkan bisa mencapai lebih dari 70 persen.

"Ada harapan yang tulus, dan tampaknya ekspektasi yang beralasan, bahwa tingkat partisipasi pemilih dapat mendekati 70 persen, atau bahkan melebihinya," kata Fakhoury kepada Middle East Eye.

Fakhoury mengatakan informasi yang diterimanya menunjukkan tingkat partisipasi pemilih Palestina telah mencapai sekitar 69 persen. Namun, angka tersebut belum dipublikasikan karena dikhawatirkan dapat membuat sebagian pemilih merasa puas dan mengurangi dorongan untuk menggunakan hak pilih mereka.

Pada pemilu 2020 aliansi partai-partai yang mewakili warga Palestina, Joint List atau Daftar Gabungan, berhasil memperoleh 15 kursi di parlemen Israel, Knesset. Sementara itu, partisipasi pemilih Palestina turun menjadi 54 persen pada pemilu 2022.

Menurut Fakhoury, meningkatnya minat warga Palestina untuk memberikan suara kali ini berkaitan dengan perubahan situasi politik Israel dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah perang di Jalur Gaza dan meningkatnya tekanan terhadap masyarakat Palestina.

"Saya percaya orang-orang secara naluriah memahami bahwa Israel yang mereka kenal dulu telah berubah," ujarnya.

Fakhoury menilai pemilu kali ini menjadi kesempatan penting bagi warga Palestina untuk mempertahankan pengaruh politik mereka.

Partisipasi yang tinggi dapat memperkuat posisi partai-partai Arab, termasuk Joint List dan Raam, dalam menentukan arah politik Israel berikutnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan jumlah pemilih saja tidak cukup. Partai-partai yang mewakili warga Palestina juga harus mampu menyesuaikan strategi politik mereka dengan perubahan kondisi sejak Perjanjian Oslo pada 1993.

Menurut Fakhoury, lingkungan politik yang menjadi dasar pembentukan strategi, aliansi, dan pendekatan politik Palestina telah berubah secara mendasar. Karena itu, partai-partai tersebut perlu mengevaluasi kembali cara mereka memperjuangkan kepentingan masyarakat.

"Seluruh lingkungan tempat mereka mengembangkan bahasa politik, kosakata, aliansi, dan strategi mereka telah berubah hampir sepenuhnya. Jika mereka terus beroperasi menggunakan asumsi yang sama, tanpa menyadari transformasi ini, mereka akan gagal," katanya.

Fakhoury memperkirakan tingkat partisipasi pemilih Palestina bisa mencapai 72-73 persen, bahkan lebih tinggi. Meski demikian, ia menekankan pentingnya mengorganisasi pemilih secara efektif agar peningkatan partisipasi benar-benar berdampak pada hasil pemilu.

"Tingkat partisipasi pemilih bisa mencapai 72 persen atau 73 persen. Insya Allah, mungkin bahkan lebih tinggi. Hari pemilihan mungkin akan membawa banyak kejutan," ujarnya.

Di sisi lain, pembentukan pemerintahan Israel setelah pemilu diperkirakan menghadapi tantangan apabila tidak ada partai atau blok politik yang memperoleh dukungan cukup untuk membentuk mayoritas di Knesset.

Fakhoury memperingatkan bahwa ketidakstabilan politik dapat memicu pemilu ulang, seperti yang terjadi dalam sejumlah pemilihan di Israel selama dekade terakhir. Menurutnya, situasi tersebut berpotensi menghadirkan tantangan yang lebih besar bagi masyarakat Palestina.

"Bahaya terbesar tidak selalu terletak pada hasil pemilu langsung. Bahaya terbesar terletak pada apa yang terjadi setelahnya," kata Fakhoury.

"Inilah mengapa kerja politik kita harus dimulai segera setelah pemilihan. Kita tidak bisa hanya sekadar memberi selamat kepada diri sendiri karena telah mencegah berlanjutnya pemerintahan yang melakukan genosida," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(mge/dna)

Baca Artikel Selengkapnya