Mendaki gunung menjadi tren beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan generasi milenial dan gen Z. Ada yang sekadar hobi, sebagai sarana healing, refleksi diri, atau sebagai bahan konten media sosialnya. Dari banyak tujuan tersebut, bagi pendaki, keselamatan saat menuju ke puncak gunung dan kembali dengan kondisi selamat tetap menjadi prioritas utama.
Apalah arti bisa naik ke puncak tanpa bisa menikmati keindahan alam karena tertimpa musibah yang datang tiba-tiba. Atau kembali dengan kondisi disengat hewan berbisa. Tentu hal tersebut sama sekali tidak diinginkan. Sebagai langkah preventif supaya hal-hal yang tidak diinginkan menimpa saat mendaki, mempersiapkan diri merupakan bagian terpenting.
Tidak hanya persiapan secara lahiriah yang diperlukan seperti memerhatikan detail-detail logistik yang dibutuhkan saat pendakian, tapi persiapan jalur langit berupa doa atau bacaan juga sangat diperlukan untuk keamanan dan keselamatan. Allah SWT berfirman dalam Surat Ghafir ayat: 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ
Artinya, "Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan)'." (QS. Ghafir [40]: 60).
Begitu pentingnya doa untuk mendapatkan setiap harapan yang kita inginkan, termasuk memohon keselamatan saat pendakian. Di antara doa atau bacaan agar tidak disengat hewan berbisa seperti ular, kalajengking, dan semacamnya adalah membaca ayat berikut:
سَلٰمٌ عَلٰى نُوْحٍ فِى الْعٰلَمِيْنَ
salâmun ‘alâ nûḫin fil-‘âlamîn
Artinya, “Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di semesta alam.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 79).
Mengutip penjelasan Imam Sa'id bin al-Musayyab, Imam al-Qurthubi dalam tafsir menjelaskan bahwa ayat ini bisa dijadikan amalan agar tidak disengat kalajengking.
Berikut redaksinya:
وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ: وَبَلَغَنِي أَنَّهُ مَنْ قَالَ حِيْنَ يُمْسِيْ" سَلامٌ عَلى نُوحٍ فِي الْعالَمِينَ" لَمْ تَلْدَغْهُ عَقْرَبٌ
Artinya, "Sa'id bin al-Musayyab berkata: Saya mendapatkan sebuah penjelasan bahwa sungguh siapa saja yang ketika memasuki waktu sore membaca ayat 'salâmun ‘alâ nûḫin fil-‘âlamîn', niscaya ia tidak akan disengat kalajengking." (Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, [Mesir: Darul Kutub Al-Mishriyyah, 1964], jilid XV, hlm. 90).
Masih di dalam kitab Tafsir al-Qurthubi, ada penjelasan menarik, kenapa bacaan 'salâmun ‘alâ nûḫin fil-‘âlamîn’ ini bisa menjadi penangkal dari hewan berbisa seperti kalajengking atau ular. Ternyata, ada kisah menarik di baliknya.
Dikatakan bahwa ada ular dan kalajengking datang ke kapal Nabi Nuh as agar dimasukkan ke kapal atau di bawa bersama hewan lainnya. Nabi Nuh as pun awal menolaknya dengan memaparkan alasan rasional.
“Saya tidak akan membawa kalian berdua (ular dan kalajengking) karena kalian penyebab marabahaya dan bala'.” Nabi Nuh as menolaknya dengan alasan yang cukup rasional.
Akhirnya, dengan izin Allah SWT, ular dan kalajengking berkata dengan nada memohon kepada Nabi Nuh as dengan imbalan yang juga cukup masuk akal, “Bawalah kami berdua! Kami jamin tidak akan membahayakan siapa pun jika ia menyebut nama kamu.” (Imam Syamsuddin Al-Qurthubi/ jilid IX, hlm. 32).
Amalan ini juga dikutip oleh Imam Ibnu 'Allan dalam kitab al-Futuhat ar-Rabbaniyah 'alal Adzkar an-Nawawiyah, [Mesir, Jam'iyatun Nasyri wat Ta'lif al-Azhariyah, t.t.], jilid V, halaman. 164. Dan juga dijelaskan oleh Imam Ibnu Abdil Bar dalam kitab At-Tamhid, [Maroko: Wazaratu 'Umumil Auqaf was Syu'un al-Islamiyah, 1387 H], jilid XXI, halaman 241.
Mari kita mempersiapkan diri secara matang sebelum mendaki gunung, baik secara lahiriah maupun batiniah, agar perjalanan berjalan lancar serta terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Ikhtiar lahiriah dilakukan dengan mempersiapkan seluruh kebutuhan secara teliti, mulai dari perlengkapan, kondisi fisik, hingga perencanaan perjalanan yang baik. Hal ini mencakup obat-obatan, perlengkapan navigasi, logistik, serta berbagai kebutuhan lain yang menunjang keselamatan dan kenyamanan selama pendakian.
Sementara itu, ikhtiar batiniah dapat dioptimalkan melalui doa, dzikir, dan berbagai amalan yang dianjurkan. Upaya spiritual ini menjadi bentuk penguatan diri agar senantiasa diberi kemudahan, keselamatan, dan keteguhan hati dalam menghadapi setiap proses perjalanan.
Berbagai amalan yang telah dipaparkan sebelumnya dapat dijadikan pilihan untuk diamalkan sebagai bentuk penguatan spiritual dalam menghadapi perjalanan tersebut.
Demikianlah amalan agar tidak disengat hewan berbisa saat naik gunung. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam!
------------
Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil, Sekarang Aktif Menjadi Perumus LBM PP Nurul Cholil dan Editor Website PCNU Bangkalan.

5 jam yang lalu
3





English (US) ·
Indonesian (ID) ·