Tangerang (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ekosistem bulion atau bank emas memberikan nilai tambah terhadap ekonomi dengan mengubah emas yang tadinya diam dan pasif menjadi aset produktif dalam sistem keuangan.
“Ini juga menjadi nilai tambah tersendiri, karena sebelumnya emas itu hanya dinilai tidak digunakan di aset perbankan,” kata Airlangga di sela SUAR Forum 2026, di BSD City, Tangerang, Banten, Jumat.
Lebih lanjut, Airlangga mengatakan bank emas yang telah beroperasi selama kurang lebih setahun sejak diluncurkan pada tahun lalu telah mengelola sebanyak 153 ton emas yang nilainya mencapai kurang lebih Rp360 triliun atau sekitar 20 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
“Ini kita melihat bahwa dengan ekosistem bulion dan bank emas ini mengelola sebesar hampir 180 ton emas atau bernilai Rp360 triliun,” ujar dia pula.
Menurut Airlangga, ekosistem bulion di Indonesia berpotensi untuk mencatatkan kinerja lebih baik lagi, mengingat minat investasi dan pengelolaan emas masih sangat tinggi karena dinilai aman sebagai aset berkepanjangan (safe haven).
Selain itu, emas juga dinilai semakin menarik melalui bentuk Exchange-Traded Fund (ETF), yang merupakan jenis reksa dana berbasis emas yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek seperti halnya transaksi saham.
“Ini kenaikannya luar biasa karena emas lalu menjadi safe haven investasi. Apalagi kita juga sudah mendorong yang dalam bentuk derivatif dari emas, yaitu ETF. Potensi untuk menarik investasi dan juga pengelolaan emas masih sangat tinggi,” kata Airlangga.
Sementara itu, layanan bank emas nasional pertama kali diluncurkan pada Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian per Maret 2026, kinerja Lembaga Jasa Keuangan Bullion, PT Pegadaian menunjukkan perkembangan jumlah nasabah meningkat dari 3,2 juta pada Februari 2025 menjadi 5,6 juta pada Februari 2026.
Dalam periode yang sama, tabungan emas masyarakat juga meningkat dari 10,5 ton menjadi 19,25 ton.
Di sisi lain, total pengelolaan emas BSI mencakup cicil, gadai, dan tabungan emas sebelum peluncuran Kegiatan Usaha Bullion pada Januari 2025 sebesar 16,85 ton menjadi 22,5 ton pada Februari 2026.
Nasabah tabungan emas meningkat dari 531.329 pada Desember 2025 menjadi 766.742 pada Februari 2026.
Baca juga: Airlangga minta 20 persen emas "bawah bantal" masuk ekosistem bulion
Baca juga: Ekonom: Ekosistem bulion perpanjang rantai nilai emas ke ekonomi
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·