Jakarta, NU Online
Beragam jajanan tradisional merupakan makanan yang diolah secara sederhana dengan bahan baku alami seperti singkong, ubi, beras, telur, jagung, kacang hijau, pisang, dan kelapa. Proses pengolahan yang minim membuat jajanan ini cenderung mampu mempertahankan kandungan gizi, seperti serat, vitamin, dan mineral.
Dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Angga Rizqiawan, menilai jajanan tradisional umumnya mengandung zat bioaktif yang memiliki fungsi tertentu sesuai bahan asalnya. Sementara itu, jajanan modern atau fast food kerap melalui proses lebih panjang sehingga termasuk kategori ultra-processed foods (UPF).
“Pemrosesan ini biasanya membuat makanan kehilangan kandungan gizi yang baik untuk kesehatan serta sering kali menggunakan zat aditif sintetis,” ungkap Angga kepada NU Online, Senin (27/4/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan tidak semua jajanan tradisional otomatis sehat. Konsumsi tetap harus dilakukan secara bijak.
Kandungan gizi jajanan tradisional sangat bergantung pada bahan yang digunakan. Secara umum, jajanan ini mengandung karbohidrat kompleks dan serat dari umbi-umbian serta biji-bijian, juga lemak nabati, protein, vitamin, dan mineral.
“Bisa dikatakan jajanan tradisional cenderung lebih sehat dibandingkan jajanan modern. Akan tetapi, tetap ada catatan yang perlu diperhatikan,” tambahnya.
Jajanan tradisional dinilai lebih sehat karena minim proses dan tidak menggunakan banyak zat aditif sintetis. Selain itu, metode pengolahan seperti direbus, dikukus, atau dipanggang lebih dianjurkan dibandingkan digoreng.
“Jajanan yang digoreng dengan minyak banyak dan suhu tinggi, atau direndam dalam santan maupun gula kental, dapat menjadi kurang sehat dan berisiko setara dengan makanan tinggi gula dan lemak,” jelasnya.
Ia menyarankan masyarakat memilih jajanan tradisional yang diolah dengan metode sehat, seperti dikukus atau direbus, serta tidak menggunakan minyak berlebih.
“Metode pemasakan menjadi salah satu indikator. Jajanan yang direbus, dikukus, atau dipanggang lebih sehat dibandingkan yang digoreng secara deep fried,” ujarnya.
Selain itu, komposisi bahan juga berpengaruh terhadap nilai gizi. Jajanan yang menggunakan bahan utuh cenderung lebih baik.
“Namun, jika kadar gula dan lemaknya tinggi, maka jajanan tersebut menjadi kurang sehat,” katanya.
Angga juga menjelaskan bahwa pewarna alami pada jajanan tradisional, seperti daun pandan atau suji, bunga telang, kunyit, dan buah bit, tidak hanya memberi warna, tetapi juga mengandung antioksidan.
“Berbeda dengan jajanan modern yang sering menggunakan bahan aditif sintetis, yang memiliki batas penggunaan dan berpotensi memicu reaksi alergi,” imbuhnya.
Dampak Konsumsi Jajanan Tidak Sehat
Konsumsi jajanan tinggi gula dan lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti obesitas dan penyakit kardiovaskular.
“Santan memang mengandung lemak nabati yang baik. Namun, jika diproses pada suhu tinggi atau dipanaskan berulang, dapat berubah menjadi lemak jenuh yang meningkatkan kolesterol darah,” paparnya.
Kolesterol tinggi dapat memicu penyakit jantung. Hal serupa juga terjadi pada makanan yang digoreng dengan minyak berulang, yang dapat menghasilkan lemak trans berbahaya.
Konsumsi berlebih makanan tinggi gula dan lemak juga dapat menyebabkan surplus kalori yang berujung pada peningkatan angka obesitas.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi obesitas mencapai 23,4 persen, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 19 tahun sebelumnya.
“Oleh sebab itu, konsumsi jajanan tinggi gula dan lemak perlu dibatasi, termasuk jajanan tradisional,” tegasnya.
Ia menambahkan, edukasi kepada masyarakat menjadi kunci dalam meningkatkan kesadaran memilih jajanan sehat. “Dengan pengetahuan yang baik, masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih dan mengonsumsi jajanan,” pungkasnya.

3 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·