Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Albertus Wiroyo menyatakan pendapatan premi bisnis baru industri asuransi jiwa mencapai Rp27,90 triliun (unweighted) pada kuartal I 2026.
Ia mengatakan jumlah tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,0 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan capaian selama triwulan I 2025 sebesar Rp26,56 triliun.
"Pertumbuhan premi bisnis baru menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap pelindungan asuransi masih tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi pada awal tahun ini," ujar Albertus di Jakarta, Selasa.
Ia menuturkan kinerja positif tersebut didukung oleh meningkatnya minat nasabah terhadap produk unit link, khususnya pada skema premi tunggal (single premi).
Terkait kinerja setiap kanal distribusi, ia menyampaikan kanal bancassurance menjadi penyumbang utama pendapatan premi bisnis baru, yakni sebesar Rp13,24 triliun.
Hal tersebut, lanjut Albertus, menandakan bahwa kemitraan antara perbankan dan asuransi berjalan sangat efektif. Namun, angka tersebut turun 1,8 persen yoy.
Ia mengatakan kanal distribusi direct marketing (pemasaran langsung) menempati posisi kedua dengan kontribusi pendapatan premi sebesar Rp6,92 triliun, atau naik 14 persen yoy.
Selanjutnya, kanal keagenan menyumbang pendapatan premi sejumlah Rp4,04 triliun, atau tumbuh 1,1 persen yoy.
Ia menyatakan bahwa sebagian besar kanal distribusi alternatif lainnya juga mampu mencatatkan tren pertumbuhan yang positif di awal tahun ini.
Pendapatan premi bisnis baru melalui kanal employee benefit consultant melonjak 35,7 persen yoy menjadi Rp1,76 triliun; kanal broker naik 17,5 persen yoy menjadi Rp1,16 triliun; kanal kerja sama dengan industri keuangan non-bank tumbuh 1,1 persen yoy menjadi Rp350 miliar; sedangkan kanal telemarketing meningkat 17,9 persen yoy menjadi Rp330 miliar.
"Keberagaman kanal distribusi tersebut menjadi faktor penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap produk dan layanan asuransi jiwa serta mendukung pertumbuhan bisnis baru yang di dalam industri kita," ucap Albertus.
Sementara itu, pendapatan premi lanjutan dari bisnis eksisting mencapai Rp19,37 triliun, menurun 7,5 persen yoy dibandingkan capaian pada kuartal I tahun lalu senilai Rp20,94 triliun.
"Premi lanjutan tetap menjadi fondasi penting dalam keberlanjutan industri karena mencerminkan komitmen nasabah dalam mempertahankan pelindungan jangka panjang yang dimilikinya,” katanya.
Albertus menuturkan kinerja positif industri asuransi jiwa turut tercermin dari jumlah masyarakat yang berhasil dilindungi yang melonjak 20,9 persen yoy menjadi 118,28 juta orang.
Capaian tersebut ditopang lonjakan pada segmen kumpulan yang naik signifikan 26,1 persen yoy menjadi 95,72 juta orang. Segmen perorangan juga tumbuh 2,7 persen menjadi 22,56 juta orang.
Sejalan dengan pertumbuhan jumlah nasabah, total uang pertanggungan ikut meningkat. Pada kuartal pertama 2026, nilai pelindungan industri bertambah 6,5 persen menjadi Rp6,45 kuadriliun.
"Jumlah polis juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 3,6 persen menjadi 22,54 juta polis, sejalan dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang memiliki pelindungan asuransi jiwa," imbuh Albertus.
Baca juga: Inhealth perkuat integrasi layanan dengan induk usaha IFG Life
Baca juga: AAJI: Premi asuransi jiwa syariah Rp4,41 triliun di triwulan I 2026
Baca juga: AAJI: Kinerja industri asuransi stabil di tengah dinamika ekonomi
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·