Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan

3 jam yang lalu 2

Banda Aceh, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan jajaran pengurus Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh yang baru dilantik agar menjalankan amanah organisasi dengan sungguh-sungguh.


Menurutnya, menjadi pengurus NU bukan sekadar memperoleh kedudukan dalam struktur organisasi. Jabatan tersebut harus dibuktikan melalui kerja nyata, pengabdian, serta kesediaan mendahulukan kepentingan jam’iyah daripada kepentingan pribadi.

Pesan itu disampaikan Kiai Cholil saat memberikan pengarahan kepada pengurus PWNU Aceh, Sabtu (27/6/2026). 


Kiai Cholil mengaku menerima perintah langsung dari Rais Aam PBNU untuk melantik pengurus PWNU Aceh. Meskipun telah memiliki agenda lain dan telah melakukan persiapan untuk kembali pulang, ia memilih melaksanakan perintah pimpinan organisasi.


Ia menceritakan bahwa di pesantrennya sedang berlangsung haflah ikhtitam madrasah diniyah. Pada saat bersamaan, istrinya juga baru masuk rumah sakit. Namun, amanah organisasi membuatnya tetap hadir dalam pelantikan tersebut.

“Saya ingin menyampaikan betapa berat untuk tidak melaksanakan perintah pimpinan kita di Nahdlatul Ulama ini,” ujarnya.

Pengalaman tersebut, menurutnya, perlu menjadi iktibar bagi pengurus PWNU Aceh. Amanah organisasi menuntut pengorbanan waktu, pikiran, tenaga, dan terkadang kepentingan pribadi.


Kiai Cholil kemudian menyampaikan kritik terhadap orang-orang yang bersemangat mengejar jabatan organisasi, tetapi tidak lagi aktif bekerja setelah memperoleh posisi yang diinginkan.

“Pengurus baru biasanya saat mau menjadi pengurus, pada mengurus bagaimana bisa menjadi pengurus. Setelah dilantik menjadi pengurus, biasanya tidak mengurus, malah menjadi urusan,” katanya.

Ia menjelaskan, pengurus yang menjadi “urusan” adalah mereka yang tidak bersedia terlibat ketika diajak bekerja, tetapi justru memunculkan persoalan saat tidak dilibatkan. “Kalau diajak tidak mau, ketika ditinggal malah membuat masalah,” ucapnya.


Oleh karena itu, Kiai Cholil meminta seluruh pengurus PWNU Aceh benar-benar melaksanakan komitmen yang telah diucapkan dalam prosesi pelantikan. Sumpah jabatan, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai formalitas seremonial.


Komitmen tersebut harus diwujudkan melalui pelaksanaan program organisasi, pelayanan kepada warga NU, penguatan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah, serta kepedulian terhadap persoalan umat.

Ia juga mengingatkan pengurus agar mendahulukan jamaah daripada jam’iyah. Menurutnya, seseorang yang hanya mengejar posisi struktural akan berhenti mengabdi ketika tidak memperoleh jabatan.

Sebaliknya, orang yang mendahulukan jamaah dan ajaran NU akan tetap berkhidmat meskipun namanya tidak tercantum dalam kepengurusan. “Kalau kita mendahulukan jam’iyah daripada jamaah, yang dikejar adalah struktural. Kalau tidak menjadi pengurus, tidak mengabdi. Tetapi kalau yang didahulukan jamaah, struktur hanya menjadi pelengkap,” jelasnya.

Kiai Cholil mencontohkan banyak kiai yang tidak berada dalam struktur organisasi, tetapi tetap menjadi rujukan masyarakat, bahkan menjadi tempat bertanya bagi pengurus NU. Ketokohan mereka tumbuh dari ilmu, pengabdian, serta kedekatan dengan jamaah.

Ia menegaskan bahwa ajaran dan nilai perjuangan NU harus ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan struktural. “Dahulukan ajarannya melebihi strukturnya. Kalau struktur melebihi ajarannya, maka itu awal dari malapetaka,” tegasnya.

Kiai Cholil berharap pengurus PWNU Aceh dapat menjadi santri dan penerus perjuangan para muassis serta masyayikh NU. Amanah yang telah diterima harus dijalankan untuk kemuliaan Islam dan kemaslahatan kaum Muslimin.

“Sumpah itu adalah komitmen untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan kita mendapatkan ridha, petunjuk, dan perlindungan Allah,” pungkasnya.

Baca Artikel Selengkapnya