Cerita KH Abun Bunyamin Bangun Pesantren Al-Muhajirin

2 jam yang lalu 1

Purwakarta, NU Online Jabar
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin sekaligus Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, Prof. Dr. KH Abun Bunyamin mengajak para santri dan wali santri untuk meyakini bahwa setiap ketetapan Allah SWT selalu menyimpan hikmah terbaik, meskipun pada awalnya tidak sesuai dengan harapan manusia.


Pesan tersebut disampaikan KH Abun dalam tausiyah pada Wisuda Tahfizh dan Tahsin Al-Qur'an Metode Hijroti Pondok Pesantren Al-Muhajirin 5 Wanayasa.


Dalam kesempatan itu, KH Abun membagikan pengalaman pribadinya mengenai perjalanan hidup yang menurutnya menjadi bukti bahwa rencana Allah SWT kerap menghadirkan kebaikan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.


Ia mengungkapkan, pada tahun 1983 dirinya sempat dipersiapkan untuk menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN). Namun, rencana tersebut akhirnya tidak terwujud.


"Tadinya saya mau menjadi kepala MTs Negeri, tetapi batal. Akhirnya saya menjadi Kepala MTs YPMI pada tahun 1983," kenangnya.


Pada waktu yang sama, sejumlah tokoh masyarakat di Wanayasa meminta dirinya untuk memimpin MTs YPMI. Amanah tersebut kemudian diterimanya dan menjadi awal pengabdian panjang di Kecamatan Wanayasa.


​​​​​​​Menurut KH Abun, dirinya mengabdi di MTs YPMI selama sekitar sepuluh tahun tanpa mengalami mutasi. Bahkan, perpindahan tugas yang akhirnya diperoleh justru menuju lembaga yang dirintisnya sendiri.


"Mungkin susah mencari orang yang sepuluh tahun tidak dimutasi, kecuali saya. Mutasi pun ke rumah sendiri," ujarnya.


Di tengah pengabdiannya, pada tahun 1987 KH Abun mulai merintis lembaga pendidikan dengan mendirikan MTs Al-Wathan di Sukatani. Saat itu ia berharap dapat berpindah dan mengabdi di sekolah yang didirikannya sendiri, namun keinginan tersebut belum mendapatkan izin.


​​​​​​​Selanjutnya, ia kembali mendirikan Madrasah Aliyah Salafiyah. Baru pada tahun 1993 dirinya mendapat izin untuk berpindah tugas ke madrasah tersebut yang kemudian berkembang menjadi bagian dari Pondok Pesantren Al-Muhajirin.


​​​​​​​Selama mengabdi di Wanayasa, KH Abun aktif berdakwah dan membina masyarakat. Hampir seluruh desa dan kampung di Kecamatan Wanayasa dikunjunginya untuk menyampaikan ceramah dan pembinaan keagamaan.


"Semua desa, semua kampung di Wanayasa saya kunjungi. Saya datang, saya ceramah siang malam," tuturnya.


​​​​​​​Perjalanan dakwah tersebut mempertemukannya dengan banyak tokoh masyarakat. Salah satu yang paling berkesan adalah H. Suherman Saleh, tokoh asal Wanayasa yang berkarier sebagai pejabat pajak di Jakarta.


​​​​​​​Menurut KH Abun, pertemuan dengan H. Suherman Saleh menjadi salah satu hikmah terbesar selama dirinya mengabdi di Wanayasa. H. Suherman Saleh kemudian menjadi donatur pertama Al-Muhajirin yang memberikan dukungan besar pada masa awal perkembangan pesantren.


"Beliaulah yang membelikan tanah untuk Kampus 1 Al-Muhajirin yang sekarang," ungkapnya.


KH Abun menjelaskan, lahan yang kini menjadi Kampus Pusat Al-Muhajirin di Jalan Veteran dibeli dengan harga sekitar Rp15 juta. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp12,5 juta berasal dari bantuan H. Suherman Saleh, sedangkan sisanya merupakan hasil sumbangan masyarakat.


Selengkapnya klik di sini.

Baca Artikel Selengkapnya