Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengajak investor untuk mengutamakan analisa data, fundamental perusahaan, serta kondisi perekonomian nasional sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.
”Karena itu, yang saya sampaikan kepada investor itu adalah tolong hitung sendiri. Pesan saya sebenarnya cuma itu. Siapapun, nanti kalau FTSE Russell, kemudian Bloomberg atau apa mengeluarkan apapun, itu kita perhatikan. Tapi, kita yang tahu emiten-emiten kita. Hitung sendiri. Karena ini uang teman-teman sendiri,” kata Dradjad dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Dradjad mengatakan, pandangan lembaga indeks internasional tetap perlu diperhatikan sebagai salah satu referensi dalam menilai pasar modal.
Namun, investor juga perlu melakukan analisis secara mandiri dengan mempertimbangkan kinerja perusahaan, valuasi saham, dan prospek fundamental ekonomi Indonesia.
Dengan demikian, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada sentimen atau informasi yang berkembang di pasar.
Lebih lanjut, Wamenko Dradjad menekankan pentingnya melanjutkan pembenahan pasar modal melalui peningkatan transparansi, tata kelola, dan penegakan aturan.
Menurut dia, Indonesia telah memiliki fondasi transparansi yang perlu terus diperkuat, termasuk keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham.
Pemerintah juga terus membuka komunikasi dengan lembaga indeks dan pelaku pasar untuk mendorong perbaikan yang diperlukan serta menciptakan pasar modal yang lebih sehat dan adil bagi investor.
Wamenko menyoroti pentingnya penguatan investor domestik sebagai salah satu modal untuk menjaga ketahanan pasar modal Indonesia.
Pengembangan peran investor domestik perlu didukung oleh ekosistem investasi yang sehat, kepastian aturan, serta tata kelola yang baik sehingga pasar modal dapat menjalankan perannya secara optimal dalam mendukung pembiayaan dunia usaha dan perekonomian nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Dradjad juga menekankan pentingnya komunikasi ekonomi yang didukung data.
Persepsi mengenai daya beli masyarakat, misalnya, perlu dipahami dengan melihat perubahan pola konsumsi dan perkembangan berbagai sektor ekonomi secara menyeluruh.
Informasi yang disampaikan secara objektif dan mudah dipahami diharapkan dapat membantu masyarakat melihat kondisi perekonomian dengan lebih proporsional.
Selain itu, ia menyoroti potensi pertumbuhan ekonomi daerah sebagai salah satu modal perekonomian nasional.
Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,45 persen secara nasional.
Sebanyak 17 dari 38 provinsi mencatat pertumbuhan di atas rata-rata nasional, dan dari jumlah tersebut, terdapat tujuh provinsi yang tumbuh di atas 6 persen.
Capaian tersebut menunjukkan adanya sumber pertumbuhan di berbagai wilayah yang perlu terus dioptimalkan melalui penguatan sektor produktif, inovasi, dan iklim investasi yang kondusif.
“Artinya, pesan saya simpel saja, teman-teman. Silahkan anda dengarkan, lihat video medsos, tetapi selalu tolong cek data. Karena at the end of the day, it's our decision, it's our money,” ujar Dradjad menegaskan.
Baca juga: KSSK sebut asing masih minati SBN, pembelian tembus Rp28,79 triliun
Baca juga: Analis: Koreksi IHSG kombinasi rebalancing aset dan risk off investor
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·