Presiden AS Donald Trump saat KTT NATO 2026 di Ankara, Turki, 8 Juli 2026. KTT NATO berlangsung pada 7-8 Juli.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran terancam batal. Ini setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan di KTT NATO di Ankara bahwa menurutnya nota kesepahaman dengan Iran sudah berakhir.
Ini ia sampaikan menyusul serangan yang dilakukan AS ke Iran pada Rabu pagi. "Buang-buang waktu saja berurusan dengan mereka," ujar Trump dilansir Aljazirah, kemarin. "Itu (MoU) sudah berakhir."
Ia juga sesumbar soal serangan AS ke Iran pada Rabu. "Tadi malam kami melancarkan serangan yang sangat dahsyat terhadap orang-orang yang sangat berbahaya dari Iran. Mereka sakit, ada yang tidak beres dengan mereka."
Presiden Trump, yang beberapa minggu lalu sempat melontarkan pujian bagi para pemimpin Iran, kali ini melontarkan pernyataan yang sangat keras. "Ada yang tidak beres dengan mereka. Mereka sakit. Mereka orang-orang jahat. Mereka pemain kotor," ujarnya.
Meski menyatakan MoU tak berlaku, Trump juga menyatakan negosiatornya masih terus bekerja. "Saya mungkin akan membiarkan para negosiator hebat saya terus berunding."
Presiden AS juga melontarkan kritik keras terhadap negara-negara anggota NATO dalam KTT NATO di Ankara, menyoroti apa yang ia sebut sebagai kurangnya dukungan mereka bagi AS selama konflik dengan Iran.
Kepala NATO, Mark Rutte, yang duduk di samping Trump, menyatakan bahwa 5.000 pesawat lepas landas dari bandara-bandara Eropa sebagai bentuk dukungan terhadap operasi AS di Iran. “Eropa merupakan satu landasan besar bagi proyeksi kekuatan Amerika Serikat".
Trump menepis pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa Inggris tidak mengizinkan penggunaan seluruh pangkalan militernya, sementara Italia dinilai "sangat buruk" dalam memberikan dukungan berupa penyediaan pangkalan bagi AS.
Harga minyak melonjak dan bursa saham turun setelah Trump menyatakan bahwa nota kesepahaman yang mendasari gencatan senjata dengan Iran "sudah berakhir". Harga minyak mentah Brent naik 6 persen menjadi 78 dolar AS per barel, sementara bursa saham Eropa turun 1,6 persen pada hari itu. Nilai tukar dolar menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah meningkat seiring para investor mempertimbangkan risiko kembali melonjaknya inflasi.

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·