Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump di KTT APEC di Hanoi, Vietnam, (11/11).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim peluang berakhirnya perang Rusia-Ukraina kini semakin besar. Namun, pernyataan optimistis itu berbanding terbalik dengan perkembangan di medan perang, ketika Ukraina justru melancarkan salah satu serangan terbesarnya ke wilayah Rusia.
Berbicara kepada wartawan di Washington pada Senin, Trump mengatakan proses negosiasi terus berjalan dan kedua pihak disebut sama-sama ingin mengakhiri perang yang telah memasuki tahun kelima.
"Dia (Presiden Rusia Vladimir Putin) ingin mengakhirinya, dan Ukraina ingin mengakhirinya. Kami sedang bernegosiasi, dan kita akan lihat apakah kita bisa mengakhirinya," kata Trump pada Senin.
Trump bahkan meyakini peluang perdamaian kini lebih besar daripada yang diperkirakan banyak pihak.
"Saya pikir kita semakin dekat daripada yang disadari orang," ujar Trump.
Namun, hanya beberapa jam setelah pernyataan tersebut, situasi di garis depan justru menunjukkan eskalasi konflik.
Komandan Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina Robert Brovdi mengatakan pasukannya menyerang sedikitnya 47 sasaran militer Rusia dalam operasi semalam hingga Senin. Serangan itu menyasar sejumlah fasilitas strategis di wilayah Rusia maupun Krimea.
Menurut Brovdi, sasaran yang dihantam mencakup dua kapal tanker Rusia yang mengangkut bahan bakar dari Taganrog menuju Krimea, depot penyimpanan bahan bakar, radar pertahanan udara Nebo-U, serta dua peluncur rudal jarak jauh S-400 Triumph yang berada di Krimea dan wilayah Bryansk.
Brovdi menyebut operasi tersebut merupakan bagian dari upaya Ukraina melemahkan kemampuan logistik dan pertahanan udara Rusia.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 519 drone sayap tetap milik Ukraina dalam semalam di 20 wilayah Rusia.
sumber : Xinhua

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·