Gunung merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang memberikan banyak manfaat bagi kehidupan. Selain berperan dalam menjaga kestabilan permukaan Bumi, gunung juga menjadi tempat penyimpanan air serta sumber berbagai kekayaan alam.
Berbagai manfaat tersebut menunjukkan besarnya karunia Allah SWT kepada manusia. Namun, tidak semua manusia menyadari bahwa di balik kokohnya gunung tersimpan banyak nikmat yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan.
Menariknya, gambaran tentang gunung juga mendapat perhatian khusus dalam Al-Qur’an. Dalam satu surah, Allah bahkan bersumpah dengan gunung. Hal ini tentu menjadi pertanyaan, mengapa Allah memilih gunung sebagai objek sumpah? Lebih jauh, apa sebenarnya hikmah yang hendak disampaikan dalam Al-Qur’an? Berikut penjelasannya.
Dalam QS At-Tur ayat 1, Allah SWT berfirman:
وَالطُّوْرِۙ ١
Artinya, “Demi gunung (Sinai).”
Imam Ibnu Jarir at-Thabari menjelaskan bahwa kata الطُّور (at-Thur) berarti gunung, dan mengutip Mujahid bahwa istilah thur merupakan kata yang berasal dari bahasa Suryani yang berarti gunung.
حدثني محمد بن عمرو، قال: ثنا أبو عاصم، قال: ثنا عيسى وحدثني الحارث، قال: ثنا الحسن، قال: ثنا ورقاء جميعاً، عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد، في قول الله تبارك وتعالى: { والطُّورِ} قال الجبل بالسُّرْيانية.
Artinya, "Muhammad bin 'Amr menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu 'Ashim menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Isa menceritakan kepada kami. Al-Harits juga menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: Warqa’ menceritakan kepada kami. Mereka semua meriwayatkan dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, mengenai firman Allah SWT, “Wat-Thur” (وَالطُّورِ). Mujahid berkata: “Artinya adalah gunung dalam bahasa Suryani.” (Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami'ul Bayan [Kairo: Dar Hijr, 2001], juz XXI, hlm. 560).
Lebih lanjut, Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan bahwa at-Tur adalah nama sebuah gunung tempat Allah berbicara kepada Nabi Musa a.s. Allah bersumpah dengan gunung tersebut sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadapnya, sekaligus untuk mengingatkan manusia tentang berbagai tanda kekuasaan Allah yang terdapat di dalamnya. Gunung tersebut juga merupakan salah satu gunung yang ada di surga.
وروى إسماعيل بن إسحٰق قال: حدّثنا إسماعيل ابن أبي أويس، قال: حدّثنا كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف عن أبيه عن جدّه أنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أربعة أجبل من جبال الجنة وأربعة أنهار من أنهار الجنة وأربعة مَلاَحم من مَلاَحم الجنة" قيل: فما الأجبل؟ قال: "جبل أُحُد يحبنا ونحبه والطُّور جبل من جبال الجنة ولُبْنان جبل من جبال الجنة والجودي جبل من جبال الجنة"
Artinya, "Ismail bin Ishaq meriwayatkan: Ismail bin Abi Uwais menyampaikan kepada kami, ia berkata: Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf menyampaikan kepada kami, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ada empat gunung yang termasuk gunung-gunung di surga, empat sungai yang termasuk sungai-sungai di surga, dan empat medan pertempuran yang termasuk medan-medan pertempuran di surga.”
Para sahabat bertanya, “Apa saja gunung-gunung tersebut?” Beliau menjawab: “Gunung Uhud. Ia mencintai kami dan kami mencintainya. Gunung Tur adalah salah satu gunung di surga, Gunung Lubnan adalah salah satu gunung di surga, dan Gunung Judi adalah salah satu gunung di surga.” (Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2006], jilid XIX, hlm. 511–512).
Kemudian ayat ini dilanjutkan dengan firman-Nya:
وَكِتٰبٍ مَّسْطُوْرٍۙ ٢
Artinya, “Demi Kitab yang ditulis.”
Kata مَّسْطُوْر terambil dari kata السَّطْرُ yang berarti pengaturan huruf-huruf yang ditulis. Imam Muhammad Sayyid Tantawi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-kitab adalah sesuatu yang ditulis, sedangkan al-masthur berarti sesuatu yang huruf-huruf dan kata-katanya dituliskan secara tersusun dengan tulisan yang indah dan baik.
Pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa yang dimaksud adalah Al-Qur’an, karena Allah SWT sering bersumpah dengan Al-Qur’an. Di antaranya QS Az-Zukhruf ayat 1–2 dan QS Yasin ayat 1–2. (Muhammad Sayyid Tantawi, Al-Wasit fi Tafsir al-Qur’an al-Karim [Kairo: Matba'ah as-Sa'adah, 1986], juz 26, hlm. 41).
Begitu pula, Imam Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dalam kitabnya Mahasinut Ta’wil menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Al-Qur’an, atau dapat pula dipahami sebagai kitab-kitab yang diturunkan Allah SWT secara umum. (Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahasinut Ta’wil [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003], juz IX, hlm. 49).
Sementara itu, Buya Hamka menjelaskan bahwa ayat tersebut dapat dipahami sebagai Taurat karena sebelumnya Allah bersumpah dengan Bukit Thur, tempat Taurat diturunkan. Namun, maknanya juga dapat dipahami lebih luas. Ia menjelaskan bahwa jika memperhatikan susunan kata dan hubungan antara ayat kedua dan ketiga, ayat tersebut dapat dimaknai tidak hanya sebagai kitab dalam pengertian harfiah.
“Alam terbentang di kiri-kanan kita ini, di atas di bawah kita, di muka di belakang kita, asal kita masih suka memperhatikan, semuanya itu adalah kitab yang tertulis, yang ditulis oleh huruf-huruf dan bahasa pemahaman kita, kita selalu dapat membaca asal saja kecerdasan kita tidak buta huruf. Semuanya tertulis dengan sekalian bahasa manusia.”
Alam yang terbentang di sekeliling manusia juga dapat dipandang sebagai sebuah kitab yang penuh dengan tanda-tanda untuk dibaca dan direnungkan. Semua itu seakan-akan tertulis dengan bahasa yang dapat dipahami manusia, dengan kecerdasan dan kemauan untuk memperhatikannya.
Menurutnya, kitab yang tertulis pun sangat banyak, baik dalam bentuk harfiah maupun simbolis. Dalam bentuk harfiah saja, terdapat jutaan jilid buku yang merupakan hasil pemikiran manusia. Bahkan, untuk sekadar membalik-balik halaman seluruh buku tersebut, manusia tidak akan memiliki cukup waktu dalam hidupnya.
Hal ini menunjukkan betapa luasnya kitab yang dapat dibaca manusia, baik melalui tulisan maupun melalui berbagai tanda yang terbentang di alam semesta. (Hamka, Tafsir Al-Azhar [Singapura: Pustaka Nasional Pte Ltd, 1989], jilid IX, hlm. 6938).
Pada ayat selanjutnya, Allah SWT berfirman:
فِيْ رَقٍّ مَّنْشُوْرٍۙ ٣
Artinya, “Pada lembaran yang terbuka.”
Kata رَقٍّ ada yang memahaminya dengan arti bahan yang digunakan untuk merekam tulisan, baik yang terbuat dari kertas, kulit, daun pelepah kurma, dan lainnya; ada juga yang membatasinya dengan arti kulit saja. Penggunaan nakirah pada kata ini mengisyaratkan keagungan kandungan tulisan itu dan bahwa ia bukanlah sesuatu yang dikenal secara umum oleh manusia.
Kalimat رَقٍّ مَّنْشُوْرٍ ada yang memahaminya dalam arti Lauh Mahfuz. Ada juga ulama yang memahaminya dalam arti Al-Qur’an, atau kesepakatan kaum musyrikin Mekah yang mereka tulis dalam rangka memboikot Nabi Muhammad saw serta keluarga beliau dan yang mereka gantungkan di dinding Kabah. Namun, setelah berlalu dua tahun dan atas kuasa Allah, tulisan tersebut dimakan rayap kecuali nama Allah.
Prof. Quraish Shihab menjelaskan dalam ayat tersebut bahwa Allah SWT bersumpah menyebut hal itu guna menunjukkan betapa kuasa-Nya. Ada lagi yang memahaminya dalam arti kitab amalan manusia yang dicatat oleh malaikat. Tetapi jika kita memahami kata at-Thur dalam arti gunung tempat Nabi Musa a.s. menerima wahyu, maka ia lebih tepat diartikan sebagai kitab Taurat. Dan bila ia dikaitkan dengan ayat sesudahnya, maka menjadi cukup beralasan bagi yang memahaminya dalam arti Lauh Mahfuz. (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an [Jakarta: Lentera Hati, cet. 3, 2005], jilid XIII, hlm. 370).
Allah SWT mengarahkan manusia untuk senantiasa memperhatikan dan merenungi berbagai tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Dengan demikian, manusia akan semakin menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang berada di luar pengetahuan dan kekuasaan-Nya. Wallahu a’lam.
Ustadzah Besse Herlina Taha, Pembina Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone.

3 jam yang lalu
3



English (US) ·
Indonesian (ID) ·