Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak gunung-gunung di dalamnya. Keberadaan gunung yang membentang dari Sumatera hingga Nusa Tenggara ini disebabkan karena Indonesia berada dekat dengan zona penunjaman lempeng, yaitu lempeng Indo-Australia menuju lempeng Eurasia. Tercatat, menurut egsaugm, Indonesia memiliki 13% dari jumlah gunung api di dunia, yaitu sebanyak 129 gunung dengan status aktif serta gunung tidak aktif sebanyak 500 gunung.
Dalam Al-Qur’an sendiri, terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang gunung. Mulai dari fungsi gunung bagi bumi sebagai paku bumi, gunung sebagai pelajaran bagi manusia dan gunung sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah.
Pada artikel ini, penulis akan membahas salah satu ayat yang isinya ialah ajakan Al-Qur’an untuk merenungi gunung sebagai ciptaan Allah swt. Bagaimana Al-Qur’an mengajak manusia untuk merenungi gunung? Salah satu ayat yang berisi ajakan untuk merenungi gunung ialah Surat Al-Ghasyiyah ayat 19.
Allah swt berfirman:
وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ
Artinya: “Bagaimana gunung-gunung ditegakkan?”
Perhatikan redaksi ayat di atas. Surat Al-Ghasyiyah ayat 19 di atas merupakaian rangkaian dari ayat 17-20 yang berisi ajakan kepada manusia untuk merenungi ciptaan Allah swt. Lebih lengkapnya, simak beberapa penafsiran ulama terkait ayat di atas berikut:
Penafsiran Imam At-Thabari
Imam At-Thabari menjelaskan bahwa Surat Al-Ghasyiyah ayat 19 di atas ditujukan kepada orang-orang yang mengingkari kuasa Allah bahwa Allah telah menyiapkan siksa dan kenikmatan. Ayat di atas juga merupakan bagian dari rangkaian ayat Al-Qur’an yang berisi renungan bagi manusia untuk melihat alam sekitar.
Mulai dari penciptaan unta pada ayat 17, langit yang ditinggikan tanpa penyangga di ayat 18, bumi yang luas dan terhampar dalam ayat 20 juga gunung-gunung yang begitu kokohnya ditegakkan pada ayat 19.
يقول تعالى ذكره لمُنكري قدرته على ما وصف في هذه السورة من العقاب والنكال الذي أعدّه لأهل عداوته، والنعيم والكرامة التي أعدّها لأهل ولايته: أفلا ينظر هؤلاء المنكرون قُدرة الله على هذه الأمور
Artinya: “Allah swt berfirman kepada orang-orang yang mengingkari kuasa-Nya sesuai yang dijelaskan dalam surat ini yaitu disiapkannya siksa bagi orang-orang yang mengingkari dan disiapkannya kenikmatan bagi yang mempercayainya. Allah berfirman: apakah kalian tidak melihat (tanda-tanda) itu wahai orang-orang yang mengingkari persoalan-persoalan ini”.
Lalu di antara ciptaan yang perlu direnungkan itu adalah gunung-gunung yang berdiri kokoh. Bagaimana lempengan-lempengan itu bertemu, mengerucut dan berdiri kokoh menjadi sebuah gunung besar. Al-Qur’an mengajak kepada pembacanya untuk merenungi bagaimana kuasa Allah terhadap manusia melalui penciptaan-Nya.
Imam At-Thabari dalam hal ini berkata:
وقوله: (وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ) يقول: وإلى الجبال كيف أقيمت منتصبة لا تسقط، فتنبسط في الأرض، ولكنها جعلها بقدرته منتصبة جامدة، لا تبرح مكانها، ولا تزول عن موضعها
Artinya: “Firman Allah (Bagaimana gunung-gunung ditegakkan?), Imam At-Thabari berkata: bagaimana gunung-gunung ditegakkan, tidak goyah dengan kokoh di atas bumi. Gunung-gunung itu Allah jadikan dengan kuasa-Nya kokoh, padat dan tidak bergeser dari tempatnya”. (Imam At-Thabari, Jamiul Bayan ‘an Takwili ayil Qur’an, [Mekkah, Darut Turats Al-Arabiyah, tt], juz 24 hal 389)
Dari penjelasan Imam At-Thabari di atas dapat dipahami bahwa lewat ayat ini, Allah mengajak kepada umat Islam untuk merenungi ciptaannya. Salah satunya ialah gunung-gunung yang tinggi menjulang dan kokoh yang menjadi paku bagi bumi.
Penafsiran Imam Ar-Razi
Senada dengan Imam At-Thabari, Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ayat renungan bagi manusia. Mengapa pada rangkaian ayat ini Allah memerintahkan untuk merenungi unta, langit, gunung dan bumi?
Menurut Ar-Razi, alasan keempat hal tersebut dijadikan oleh Allah sebagai objek renungan dikarenakan ayat ini turun pada bangsa Arab yang mayoritas pada saat itu berkendara menggunakan unta, datarannya dikelilingi pegunungan, saat melihat ke atas terlihat langit yang luas, saat melihat ke bawah terlihat hamparan bumi.
Dengan semua hal itu, Allah mengajak kepada umat manusia untuk merenungi ciptaan-Nya dan saat seseorang merenunginya, maka semua sifat sombong dalam dirinya akan hilang seketika.
فَكَأَنَّهُ تَعَالَى أَمَرَهُ بِالنَّظَرِ وَقْتَ الْخَلْوَةِ وَالِانْفِرَادِ عَنِ الْغَيْرِ حَتَّى لَا تَحْمِلَهُ دَاعِيَةُ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ عَلَى تَرْكِ النَّظَرِ، ثُمَّ إِنَّهُ فِي وَقْتِ الْخَلْوَةِ فِي الْمَفَازَةِ الْبَعِيدَةِ لَا يَرَى شَيْئًا سِوَى هَذِهِ الْأَشْيَاءِ، فَلَا جَرَمَ جَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ
Artinya: “Seakan-akan Allah swt memerintahkan untuk merenunginya pada saat sendiri dan tidak bersama orang lain hingga pendorong bagi sifat sombong dan hasad hilang karenanya. Kemudian saat seseorang berada dalam kesendirian dalam jarak yang jauh, maka tidak ada hal lain yang dapat ia lihat (saat itu) kecuali (keempat) hal ini, oleh karenanya Allah mengumpulkannya pada ayat ini (untuk direnungkan)”. (Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, 1420 H], juz 31, hal 145).
Penafsiran Imam Al-Qurtubi
Sementara itu, Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah untuk merenungi gunung pada ayat ini berdasar pada fungsi gunung sebagai paku bagi bumi. Al-Qurtubi menjelaskan bahwa manusia sepatutnya merenungi bagaimana gunung berdiri kokoh di atas bumi sebagai paku yang kokoh sehingga bumi tidak goyah.
(وَإِلَى الْجِبالِ كَيْفَ نُصِبَتْ) أَيْ كَيْفَ نُصِبَتْ عَلَى الْأَرْضِ، بِحَيْثُ لَا تَزُولُ، وَذَلِكَ أَنَّ الْأَرْضَ لَمَّا دُحِيَتْ مَادَتْ، فَأَرْسَاهَا بِالْجِبَالِ
Artinya: “(Bagaimana gunung-gunung ditegakkan?) yakni bagaimana gunung-gunung ditegakkan di atas bumi sehingga bumi tidak goyah. Hal tersebut dikarenakan bumi yang dihamparkan memanjang, maka Allah kokohkan dengan adanya gunung-gunung” (Imam Al-Qurtubi, Al-Jami’ liahkamil Qur’an, [Kairo, Darul Kutub Al-Misriyah, 1964 M], juz 20, hal 36).
Dari penjelasan beberapa mufassir di atas dapat disimpulkan bahwa gunung merupakan salah satu ciptaan Allah swt yang memiliki banyak manfaat di dalamnya. Salah satunya ialah sebagai bahan renungan bagi manusia melihat betapa menakjubkannya ciptaan Allah. Oleh karenanya, ayat ini mengajak kepada umat manusia merenungi gunung-gunung agar mengetahui betapa besar kuasa Allah swt. Wallahu a’lam
--------------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Dermayu

5 jam yang lalu
2



English (US) ·
Indonesian (ID) ·