REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Empat pilot pertama China resmi bersiap menerbangkan pesawat udara raksasa AS700 dalam operasi komersial. Di permukaan, ini terlihat seperti berita penerbangan biasa.
Namun di balik badan pesawat sepanjang 50 meter itu, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih besar: mengapa Beijing kembali serius mengembangkan teknologi balon udara di era kecerdasan buatan, satelit, dan perang modern?
Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Dunia belum lupa bagaimana sebuah balon udara China pada 2023 melintasi wilayah Amerika Serikat sebelum akhirnya ditembak jatuh oleh jet tempur F-22 di atas Samudra Atlantik.
Washington menyebutnya alat pengintaian. Beijing membantah. Tetapi sejak saat itu, balon udara tidak lagi dipandang sebagai teknologi kuno. Lalu, apa sebenarnya yang membuat platform ini kembali menarik bagi kekuatan besar?
Jawabannya ada pada langit yang semakin padat. Selama puluhan tahun, satelit menjadi mata utama negara-negara besar untuk mengawasi bumi. Namun satelit memiliki kelemahan: mahal, mudah dilacak orbitnya, dan tidak bisa berdiam lama di satu titik. Di sinilah balon udara generasi baru menawarkan sesuatu yang berbeda.
Mereka dapat melayang selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, di wilayah tertentu sambil membawa sensor, radar, kamera resolusi tinggi, hingga perangkat komunikasi berbasis AI.
China tampaknya melihat peluang itu lebih cepat dibanding banyak negara lain. AS700 memang dipasarkan sebagai pesawat udara sipil untuk wisata dan transportasi.
Namun teknologi yang dikembangkan di dalamnya, mulai dari navigasi presisi, pengendalian ketinggian rendah, hingga kemampuan bertahan lama di udara, memiliki irisan langsung dengan teknologi pengawasan strategis masa depan. Apakah ini kebetulan? Belum tentu.
Dalam doktrin militer modern, perang tidak lagi hanya ditentukan oleh tank, kapal perang, atau pesawat tempur. Yang paling berharga adalah informasi. Siapa yang melihat lebih dulu, akan menembak lebih dulu. Siapa yang mengumpulkan data lebih banyak, akan mengambil keputusan lebih cepat. Karena itulah AI, satelit, drone, dan platform pengawasan udara kini menjadi medan persaingan baru antarnegara.
China sedang membangun semuanya sekaligus. Negara itu bukan hanya memimpin produksi drone sipil dunia, tetapi juga mengembangkan konstelasi satelit, kecerdasan buatan militer, kendaraan nirawak laut, hingga balon udara berteknologi tinggi.
Ketika seluruh sistem tersebut saling terhubung, lahirlah jaringan pengawasan yang mampu memantau wilayah sangat luas secara real-time. Di titik inilah AS700 menjadi menarik.
sumber : Xinhua

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·