Selamat Tinggal Adi Daya, Putin dan Xi Jinping Tanda Tangani 20 Dokumen, Dunia Multipolar Dimulai

2 jam yang lalu 7

Presiden Rusia Vladimir Putin berjalan bersama Presiden China Xi Jinping saat upacara penyambutan di Beijing, China, Rabu (20/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping menegaskan semakin eratnya kemitraan strategis kedua negara melalui penandatanganan 20 dokumen kerja sama di berbagai bidang, mulai dari energi, ekonomi, transportasi, hingga hubungan internasional, Rabu (20/5).

Dalam pertemuan di Beijing itu, kedua pemimpin juga mengadopsi deklarasi bersama mengenai penguatan kemitraan Rusia–China dan pembentukan dunia multipolar serta model baru hubungan internasional.

Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal semakin terbukanya tantangan Moskow dan Beijing terhadap dominasi global Barat yang selama puluhan tahun dipimpin Amerika Serikat.

Presiden Xi Jinping mengatakan China dan Rusia selama ini berpegang pada prinsip non-blok dan tidak menargetkan pihak ketiga. Namun di saat yang sama, ia mengkritik keras praktik hegemoni dan tindakan sepihak dalam politik internasional.

“Dunia saat ini sangat bergejolak. Kerusakan akibat tindakan sepihak dan hegemoni yang tidak terukur. Ada ancaman kembalinya hukum rimba,” kata Xi usai pembicaraan dengan Putin.

Xi menegaskan Beijing dan Moskow akan terus memperkuat koordinasi strategis serta mempertahankan kewenangan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan keadilan internasional.

Sementara itu, Putin menyebut hubungan Rusia dan China telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah modern kedua negara.

“Hubungan Rusia-Tiongkok secara bertahap telah mencapai tingkat tinggi seperti sekarang ini,” ujar Putin.

Ia mengatakan kerja sama kedua negara terus berkembang meski berada di bawah tekanan eksternal dan gejolak global akibat perang serta krisis energi internasional.

Menurut Putin, perdagangan Rusia–China kini telah melampaui 200 miliar dolar AS. Ia juga menekankan bahwa hampir seluruh transaksi perdagangan bilateral saat ini dilakukan menggunakan rubel dan yuan, bukan dolar AS.

sumber : Antara

Baca Artikel Selengkapnya