Ilustrasi pipa Nord Stream yang menjadi wasilah distribusi gas dari Rusia ke Eropa
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua umum partai oposisi sayap kanan Jerman, Alternatif untuk Jerman (AfD), Alice Weidel, menyerukan agar Ukraina memberikan kompensasi kepada Jerman atas kerusakan pipa gas Nord Stream yang terjadi pada 2022.
Dalam pidatonya di Bundestag, Weidel menilai Ukraina perlu menjelaskan dugaan keterlibatannya dalam insiden yang menyebabkan terganggunya pasokan energi ke Eropa tersebut.
Ukraina pertama-tama harus menjelaskan bagaimana tindakan terorisme negara ini terjadi dan peran apa yang dimainkannya di dalamnya. "Dalam hal itu, aliran pembayaran harus dibalik. Ukraina harus membayar ganti rugi kepada Jerman karena hal ini telah menyebabkan kerugian besar bagi kami dan bagi seluruh Eropa akibat hilangnya energi fosil yang murah," kata Weidel, sebagaimana diberitakan Ria Novosti pada Selasa (10/6/2026).
Weidel menegaskan, kemakmuran ekonomi Jerman selama puluhan tahun ditopang oleh pasokan minyak dan gas dari Rusia. Namun, menurut dia, model tersebut sengaja dihancurkan oleh kebijakan pemerintah Jerman saat ini yang mengadopsi sikap konfrontatif terhadap Moskow.
Politikus AfD itu juga menyatakan partainya akan mengupayakan perbaikan hubungan dengan Rusia apabila berhasil memenangkan pemilu federal mendatang.
Menurut Weidel, AfD akan segera membuka jalur perundingan langsung dengan Moskow dan mendorong dimulainya kembali dialog antara Rusia dan Ukraina.
"Karena kebijakan yang benar-benar tidak bertanggung jawab yang dijalankan saat ini, kami akan mencari jalan untuk bernegosiasi dengan Rusia dan mendorong Ukraina duduk di meja perundingan dengan Rusia," ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap AfD yang selama ini mengkritik dukungan militer Jerman kepada Ukraina dan menyerukan pendekatan diplomatik dalam konflik Rusia-Ukraina.
Ledakan yang merusak jaringan pipa gas Nord Stream dan Nord Stream 2 terjadi pada 26 September 2022 di Laut Baltik. Insiden tersebut memicu penyelidikan di Jerman, Denmark, dan Swedia, yang sejak awal tidak menutup kemungkinan adanya unsur sabotase.
Operator Nord Stream AG saat itu menyebut kerusakan yang terjadi sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memperkirakan proses pemulihan akan berlangsung sangat sulit.

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·