Sebelum Dibunuh, Wanita Kosovo Peringatkan Aparat, Kepala Polisi Mundur, Jaksa Diskors

1 jam yang lalu 3

JAKARTA -- Tiga hari sebelum dibunuh, seorang perempuan Kosovo telah memperingatkan aparat. Ia mengirim surat mendesak mengenai ancaman terhadap keselamatannya. Namun, permintaan perlindungan tersebut tidak mampu mencegah pembunuhan. Tragedi itu akhirnya mengguncang kepemimpinan kepolisian negara tersebut.

Korban bernama Arlinda Zekaj, perempuan berusia 49 tahun. Ia ditemukan tewas pada Ahad (25/10/2026) di Vitomirica, dekat Kota Peja, Kosovo. Seorang kerabat dari suaminya yang telah berpisah diduga menjadi pelaku pembunuhan.

Kasus tersebut memicu gelombang demonstrasi dan tuntutan pertanggungjawaban. Direktur Jenderal Kepolisian Kosovo, Gazmend Hoxha, akhirnya mengundurkan diri. Perdana Menteri Albin Kurti menerima pengunduran dirinya, Jumat (30/10/2026).

Pemerintah kemudian menunjuk Fehmi Hoti sebagai pelaksana tugas. Penunjukan dilakukan atas usulan Menteri Dalam Negeri Xhelal Sveçla. Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi kantor perdana menteri.

Dalam surat pengunduran dirinya, Hoxha mengakui tanggung jawab moral dan kelembagaan. Ia menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. Menurutnya, tanggung jawab pemimpin mencakup kinerja institusi yang dipimpinnya.

Pengunduran diri tersebut terjadi setelah pemeriksaan awal mengungkap persoalan serius. Sebanyak 11 anggota polisi telah dinonaktifkan untuk menjalani pemeriksaan. Dua jaksa juga menghadapi tindakan disipliner terkait penanganan korban.

Surat Peringatan Tiga Hari Sebelum Pembunuhan

Menurut laporan Associated Press (AP), Zekaj telah berulang kali meminta perlindungan. Ia melaporkan dugaan kekerasan domestik yang dialaminya selama berbulan-bulan. Namun, ancaman terhadap keselamatannya dilaporkan terus berlangsung.

Pada 22 Oktober 2026, Zekaj mengirim surat kepada kejaksaan. Surat tersebut ditujukan kepada Kepala Kejaksaan Peja, Lumturije Vuçetaj. Ia meminta tindakan segera atas penanganan perkara yang dianggap bermasalah.

Dokumen tersebut memuat peringatan mengenai keselamatan dirinya sendiri. Zekaj mengkhawatirkan aparat baru bertindak setelah nyawanya melayang. Ia juga menuding sejumlah instansi saling melempar tanggung jawab.

Menurut laporan media Kosovo, surat tersebut diterima kejaksaan pada 22 Oktober. Dokumen itu memiliki cap penerimaan dari lembaga tersebut. Tiga hari kemudian, Zekaj ditemukan meninggal di rumahnya.

Namun, peringatan korban sebenarnya telah berlangsung jauh lebih lama. Kementerian Kehakiman Kosovo mengungkap kronologi baru pada 30 Oktober. Dokumen pemerintah memperlihatkan laporan korban sejak Juli 2026.

Pada 10 Juli, Zekaj melaporkan dugaan kekerasan domestik. Ia mengaku mengalami kekerasan fisik dan tekanan psikologis. Korban juga memberi tahu polisi bahwa suaminya memiliki senjata berizin.

Perselisihan keluarga turut menyangkut kepemilikan rumah bersama. Zekaj berupaya kembali menempati rumah yang turut dimilikinya. Ia juga memperjuangkan hubungan dengan putranya yang berusia 12 tahun.

Menurut Kementerian Kehakiman, korban menghadapi hambatan memasuki rumah tersebut. Sejumlah anggota keluarga suaminya disebut masih menempati properti itu. Kondisi tersebut memperumit upaya perlindungan terhadap dirinya.

Perintah Perlindungan Terlambat Dilaksanakan

Pada 7 September 2026, Zekaj mengajukan perlindungan darurat. Pengadilan Dasar Peja mengabulkan sebagian permintaannya pada hari yang sama. Namun, korban mengajukan keberatan terhadap cakupan keputusan tersebut.

Keberatan diajukan pada 9 September, khususnya mengenai pengasuhan anak. Menurut Kementerian Kehakiman, pengadilan memiliki batas waktu tujuh hari. Akan tetapi, keputusan berikutnya baru dikeluarkan pada 16 Oktober.

Menteri Kehakiman Donika Gërvalla-Schwarz mempertanyakan keterlambatan proses tersebut. Pemerintah menilai penanganan perkara melampaui tenggat yang ditentukan. Sebelumnya, pimpinan pengadilan menyatakan hakim telah bekerja sesuai ketentuan.

Perbedaan penilaian tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan kelembagaan. Kementerian menyatakan masih membutuhkan dokumen dan penjelasan tambahan. Laporan pemerintah itu belum merupakan keputusan pengadilan mengenai kesalahan individual.

Pada 17 September, Zekaj juga mengirim peringatan kepada pengadilan. Ia mempertanyakan keterlambatan serta ancaman terhadap keselamatan dirinya. Jawaban dari pimpinan pengadilan baru diterima pada 20 Oktober.

Korban kemudian kembali menyampaikan kekhawatiran melalui surat balasan. Ia memperingatkan kemungkinan pembunuhan akibat kelalaian penanganan kasusnya. Lima hari setelah peringatan tersebut, Zekaj ditemukan tewas.

Inspektorat Kepolisian Kosovo (IPK) turut menemukan sejumlah persoalan. Pelaksanaan perintah perlindungan pertama tidak terdokumentasi oleh kepolisian. Temuan tersebut berkaitan dengan keputusan tanggal 7 September.

Perintah perlindungan berikutnya diterbitkan pada 16 Oktober 2026. Namun, menurut IPK, pelaksanaannya terlambat selama enam hari. Perintah itu baru dijalankan pada 22 Oktober setelah intervensi inspektorat.

Pemeriksaan juga menemukan peringatan internal yang tidak ditindaklanjuti. Pada 23 Oktober, seorang penyidik meminta pengamanan tambahan. Permintaan tersebut disampaikan melalui surat elektronik kepada atasannya.

Penyidik mengusulkan patroli rutin menuju rumah korban. Ia juga meminta komunikasi langsung untuk memeriksa kondisi keamanan. Namun, menurut IPK, rantai komando tidak menindaklanjuti permintaan tersebut.

Temuan itu memperlihatkan persoalan koordinasi dalam penanganan korban. Peringatan telah disampaikan melalui jalur eksternal maupun internal. Namun, langkah perlindungan yang diperlukan belum berjalan secara memadai.

Baca Artikel Selengkapnya