Samuel Sekuritas ungkap tantangan pasar keuangan di semester II-2026

4 jam yang lalu 4
Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan

Jakarta (ANTARA) - PT Samuel Sekuritas Indonesia mengungkapkan sejumlah tantangan yang akan dihadapi pasar keuangan Indonesia pada semester II-2026, diantaranya pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi, siklus kenaikan suku bunga, serta arah kebijakan domestik.

"Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan. Dalam situasi seperti ini, strategi yang terlalu agresif belum tentu menjadi pilihan terbaik. Karena itu, pendekatan defensif menjadi semakin penting,” ujar Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim dalam Media Connect di Jakarta, Jumat.

Shim menjelaskan, fokus utama Bank Indonesia (BI) saat ini tertuju pada stabilisasi nilai tukar rupiah, yang mana BI-Rate telah dinaikkan total 100 basis poin dari 4,75 persen pada Maret 2026 menjadi 5,75 persen pada Juni 2026.

“BI menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik rupiah. Namun, konsekuensinya adalah pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap tertahan. Ini menjadi dilema utama pasar, karena stabilitas perlu dijaga, tetapi ruang pertumbuhan juga menjadi lebih terbatas,” jelas Shim.

Menurut Shim, siklus kenaikan suku bunga saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi 2018, ketika kenaikan suku bunga dilakukan untuk meredam pelemahan Rupiah dan mengembalikan kepercayaan investor asing.

“Masalah utamanya bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi alasan di balik kenaikan itu. Ketika pasar membaca bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas, investor akan menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko,” kata Shim.

Terkait pasar saham, pihaknya menilai dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia mulai menawarkan titik masuk yang lebih menarik setelah mengalami koreksi tajam.

Namun demikian, ia menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga dan risiko kebijakan membuat katalis pemulihan pasar belum sepenuhnya kuat.

“Kami memperkirakan tekanan terbesar dari isu MSCI kemungkinan telah berlalu, meskipun ketidakpastian terkait daya tarik, free float, transparansi dan downgrade frontier masih menjadi faktor yang perlu terus dicermati investor,” ujar Shim.

Sementara itu Prasetya Gunadi, Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, menilai sektor perbankan masih menunjukkan kinerja yang relatif resilien secara tahunan, meskipun tekanan makro mulai mempengaruhi prospek pertumbuhan.

“Secara tahunan, kinerja bank masih terlihat resilien. Namun, investor perlu melihat lebih jauh ke paruh kedua tahun ini, karena tekanan dari suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan biaya kredit masih menjadi tantangan bagi sektor perbankan,” ujar Prasetya.

Prasetya mengatakan bahwa kombinasi Rupiah yang lemah dan suku bunga yang lebih tinggi menjadi latar belakang yang kurang ideal bagi sektor bank.

“Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan cost of funds. Jika repricing dana pihak ketiga bergerak lebih cepat dibandingkan aset produktif, margin bank akan tetap berada dalam tekanan. Di saat sama, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur,” ujar Prasetya.

Baca juga: IHSG jelang akhir pekan ditutup menguat ikuti bursa kawasan Asia

Baca juga: OJK: Investasi saham didukung fatwa DSN-MUI dan sistem syariah

Baca juga: Analis: Pencatatan saham EMAS di HKEX perkuat akses investasi ke RI

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya