Rupiah melemah pasca serangan AS ke Iran

35 menit yang lalu 1
Tensi di Timur Tengah kembali meningkat pasca penyerangan AS ke Iran di hari ini

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah 49 poin atau 0,28 persen menjadi Rp17.382 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.333 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan pelemahan rupiah meningkat seiring tensi di Timur Tengah menengah pasca penyerangan AS ke Iran.

“Tensi di Timur Tengah kembali meningkat pasca penyerangan AS ke Iran di hari ini. Alhasil, harga minyak global kembali meningkat dan dolar AS kembali terapresiasi secara luas,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Mengutip Sputnik, Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Ebrahim Zolfaghari mengatakan bahwa AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang beberapa wilayah Iran, termasuk pantai pelabuhan Khamir, kota Sirik dan Pulau Qeshm, serta dua kapal Iran.

Angkatan bersenjata Iran segera membalas, menyerang kapal perang Amerika di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Sebagai tanggapan, Komando Pusat AS mengatakan bahwa militer AS "menghilangkan ancaman yang masuk dan menargetkan fasilitas militer Iran tempat serangan dilakukan terhadap pasukan AS.

Sepanjang pekan, menurut Josua, rupiah bergerak sideways seiring melemah pada awal pekan, dan kemudian sempat menguat di akhir sesi, akibat dukungan Tiongkok terhadap negosiasi perdamaian di Timur Tengah. Namun, kemudian kembali melemah di hari Jumat ini.

“Pada perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas di level Rp17.300-Rp17.425 per dolar AS,” ucap dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat ini juga bergerak melemah ke level Rp17.375 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.362 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah tertekan seiring eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz

Baca juga: Rupiah pada Jumat pagi melemah Rp17.357 per dolar AS

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya