REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbedaan pandangan di kalangan negara-negara Uni Eropa terkait hubungan dengan Rusia semakin mengemuka di tengah berlarut-larutnya perang Ukraina. Di saat sebagian pemimpin Eropa mulai mendorong dibukanya kembali jalur dialog dengan Moskow, negara-negara lain justru menegaskan sikap keras terhadap Rusia.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menegaskan bahwa Warsawa harus dilibatkan dalam setiap proses negosiasi yang menyangkut penyelesaian konflik Ukraina. Menurut dia, Polandia tidak dapat menerima format pembicaraan yang hanya melibatkan sejumlah negara besar Eropa.
"Saya sangat berhati-hati terhadap gagasan-gagasan yang disuarakan di Eropa Barat mengenai dimulainya dialog atau negosiasi dengan cepat dengan Vladimir Putin mengenai Ukraina," kata Tusk sebagaimana dikutip Reuters.
Tusk secara khusus mengkritik format "E3" yang melibatkan Inggris, Prancis, dan Jerman, tetapi tidak memasukkan Polandia maupun sejumlah negara Eropa lainnya yang selama ini menjadi pendukung utama Ukraina. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan yang dibuat tanpa partisipasi Warsawa tidak akan mengikat Polandia.
Pernyataan Tusk muncul ketika diskusi mengenai kemungkinan pembukaan kembali dialog antara Eropa dan Rusia semakin menguat. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kalangan di Eropa mulai mempertanyakan efektivitas strategi konfrontasi yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun sejak perang Ukraina pecah.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan bahwa Rusia tidak menolak dialog dengan Eropa. Menurut Putin, justru negara-negara Eropa yang selama ini memutus komunikasi dengan Moskow. Ia juga menilai setiap mediator yang terlibat dalam proses perdamaian harus mendapat kepercayaan dari masyarakat Eropa dan tidak dikenal karena sikap anti-Rusia.
Tekanan Politik di Eropa Meningkat
Perdebatan mengenai Rusia juga terjadi di tengah meningkatnya tekanan politik domestik yang dihadapi para pemimpin utama Eropa.
Media The European Conservative menilai para pemimpin Eropa menghadapi ketidakpuasan publik yang semakin besar terkait kondisi ekonomi, migrasi, dan keamanan dalam negeri. Situasi tersebut menjadi sorotan ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menghadiri pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz di London.
Menurut publikasi tersebut, para pemilih di Inggris, Prancis, dan Jerman semakin fokus pada persoalan ekonomi dan sosial yang mereka hadapi sehari-hari, sementara para pemimpin Eropa terus menempatkan konflik Ukraina sebagai agenda utama kebijakan luar negeri mereka.
"KTT London kemungkinan hanya akan memperburuk tuduhan bahwa tokoh-tokoh terkemuka Eropa mencoba bersembunyi di balik agenda kebijakan luar negeri sementara situasi di dalam negeri terus memburuk," tulis The European Conservative.

3 hari yang lalu
15








English (US) ·
Indonesian (ID) ·