Purbaya sebut bakal gunakan AI LNSW deteksi potensi kekurangan pajak

1 jam yang lalu 3
Kami kembangkan di sini aplikasi menggunakan AI juga. Untuk membantu para analis kita melihat potensi pendapatan yang mungkin diperoleh dengan perbaikan sistem.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bakal memanfaatkan teknologi akal imitasi (AI) di Lembaga National Single Window (LNSW) untuk mendeteksi potensi penerimaan negara yang belum tergali, termasuk indikasi kekurangan pembayaran pajak.

Menurutnya, sistem tersebut memanfaatkan integrasi berbagai data yang tersedia di LNSW untuk membantu analis melakukan pemeriksaan secara lebih mendalam. Integrasi dinilai penting karena pengolahan data secara manual dinilai sulit dilakukan ketika volume informasi semakin besar.

“Kami kembangkan di sini aplikasi menggunakan AI juga. Untuk membantu para analis kita melihat potensi pendapatan yang mungkin diperoleh dengan perbaikan sistem,” kata Purbaya kepada wartawan, di Jakarta, Rabu.

Ke depan, menurut Purbaya, sistem tersebut akan dikembangkan hingga mampu mengidentifikasi potensi kekurangan pembayaran pajak pada tingkat perusahaan. Data tersebut juga akan dicocokkan dengan Surat Pemberitahuan (SPT) wajib pajak dan dapat ditelusuri hingga beberapa tahun ke belakang.

Pemerintah selanjutnya dapat meminta otoritas pajak melakukan pemeriksaan apabila ditemukan perusahaan yang terindikasi belum memenuhi kewajiban perpajakannya.

Selain itu, dia juga akan memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengejar potensi pajak dari perdagangan emas ilegal.

“Itu akan ketahuan nanti belakangnya siapa yang melakukan pembelian nggak tercatat atau beli barang dari PETI. Itu akan kami kejar. Pendapatan yang belum masuk ke negara akan kami kejar,” ujarnya menambahkan.

Menkeu belum merinci potensi pendapatan yang bisa dihimpun dari proses tersebut. Namun, dia mengatakan sudah mengantongi data 10 besar pemain perdagangan emas ilegal yang bisa digali.

“Nanti kalau sudah kelihatan nama PT-PT, kami kejar. Saya akan minta orang pajak periksa perusahaan itu, belinya dari mana, ke belakangnya bisa ditelusuri. Kalau belum bayar pajak, langsung bayar pajak. Itu namanya ekstensifikasi, dalam pengertian, meningkatkan efisiensi pengumpulan pajak dengan analisa data,” katanya pula.

Baca juga: KSP pastikan ekstensifikasi pajak sasar sektor digital

Baca juga: Purbaya kejar penerimaan dari 40 perusahaan baja dengan potensi Rp5 T

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya