PT Timah cetak laba bersih Rp1,5 triliun di kuartal I 2026

10 jam yang lalu 3

Jakarta (ANTARA) - PT Timah (Persero) Tbk (TINS) membukukan laba bersih senilai Rp1,5 triliun pada kuartal I 2026 atau sebesar 595 persen dari target yang telah ditentukan oleh perseroan senilai Rp252 miliar.

Capaian kinerja perseroan ditopang oleh peningkatan signifikan produksi, optimalisasi operasional, serta perbaikan tata kelola perseroan yang berkelanjutan.

"Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan kinerja keuangan yang solid, ditopang oleh pencapaian operasional yang signifikan, serta konsistensi strategi optimalisasi yang berkelanjutan di seluruh lini bisnis. Sehingga, mampu melampaui target laba yang ditetapkan," ujar Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro sebagaimana keterangan resmi, yang dikutip di Jakarta, Sabtu.

Laba bersih perseroan ditopang oleh pendapatan yang tumbuh 160,5 persen year on year (yoy) menjadi Rp5,47 triliun pada kuartal I 2026, dibandingkan senilai Rp2,10 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

"Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya volume penjualan dan harga jual rata-rata logam timah," ujar Restu.

Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar Rp2,1 triliun pada kuartal I 2026, atau tumbuh 450 persen (yoy) dibandingkan senilai Rp348 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Pada kuartal I 2026, perseroan mencatatkan hasil positif tercermin dari beberapa rasio keuangan penting, di antaranya Quick Ratio sebesar 105,1 persen, Current Ratio sebesar 276,1 persen, Debt to Asset Ratio sebesar 6,9 persen, dan Debt to Equity Ratio sebesar 10,6 persen.

Dari sisi operasional, perseroan mencatatkan lonjakan produksi bijih timah sebesar 96 persen (yoy) menjadi 6.312 ton Sn pada kuartal I-2025, dibandingkan sebanyak 3.225 ton Sn pada periode sama tahun sebelumnya.

Restu menjelaskan peningkatan produksi didorong oleh bertambahnya unit operasi, baik Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), maupun tambang darat kemitraan.

"Selain itu, peningkatan produksi juga ditopang oleh beroperasinya Kapal Keruk Singkep 1, perbaikan pengawasan dan pengamanan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) dan area produksi, serta dukungan Satuan Tugas (Satgas) dari pemerintah yang ditempatkan di perseroan," ujar Restu.

Pada kuartal I 2026, ia memastikan perseroan terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja operasional dan produksi.

Dari penambangan darat, lanjutnya, perseroan menambah jumlah unit operasi serta memperkuat kegiatan eksplorasi melalui pelaksanaan bor pandu untuk memastikan arah penggalian yang lebih presisi dan selaras dengan blok rencana kerja yang telah ditetapkan.

Sementara itu, pada penambangan laut, perseroan mengoperasikan satu unit Kapal Keruk (KK) dan terus mengoptimalkan kinerja Kapal Isap Produksi (KIP).

"Peningkatan kinerja juga didukung dengan optimalisasi fasilitas pengolahan sisa hasil pengolahan KIP guna meningkatkan efektivitas proses pengolahan, serta peningkatan produktivitas Ponton Isap Produksi (PIP)," ujar Restu.

Pada kuartal I 2026, produksi logam timah perseroan tumbuh 82 persen (yoy) menjadi 5.630 metrik ton Sn, dibandingkan sebesar 3.095 metrik ton Sn periode sama tahun sebelumnya.

Seiring dengan itu, penjualan logam timah tumbuh 113 persen (yoy) menjadi 6.009 metrik ton pada kuartal I 2026, dibandingkan sebesar 2.824 ton pada periode sama tahun sebelumnya.

Adapun harga jual rata-rata logam timah sebesar 49.221 dolar AS per metrik ton, tumbuh 51 persen (yoy) dibandingkan sebesar 32.495 dolar AS per metrik ton pada periode sama tahun sebelumnya.

Pada kuartal I 2026, perseroan mencatatkan penjualan logam timah yang didominasi oleh pasar ekspor sebesar 97 persen, sementara penjualan domestik sebesar 3 persen.

Sementara, enam negara tujuan ekspor utama, diantaranya China 48 persen, India 11 persen, Korea Selatan 10 persen, Italia 6 persen, Singapura 5 persen, dan Belanda 4 persen.

Pada kuartal I 2026, nilai aset perseroan tercatat tumbuh 11,62 persen (yoy) menjadi Rp15,23 triliun, dibandingkan senilai Rp13,64 triliun pada akhir 2025.

Sementara itu, posisi liabilitas tercatat senilai Rp5,27 triliun, atau tumbuh 1 persen (yoy) dibandingkan senilai Rp5,23 triliun pada akhir 2025.

Untuk posisi ekuitas sebesar Rp9,96 triliun pada kuartal I 2026, atau tumbuh 18,4 persen (yoy) dibandingkan sebesar Rp8,41 triliun pada akhir 2026.

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya