Presiden Ini Tak Tamat SD Tapi Memerintah 38 Tahun hingga Diganti Anak

43 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Kisah para pemimpin dunia yang memimpin dengan sangat lama selalu menarik perhatian.

Apalagi bila sang pemimpin itu juga dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah.

Hal itu terjadi pada Togo, negara di Afrika, yang memiliki pemimpin tak tamat Sekolah Dasar (SD). Dialah Gnassingbe Eyadema, Presiden Togo selama 38 tahun, yang oleh pers barat dianggap sebagai dinosaurus terakhir di antara para diktator era pasca-kemerdekaan Afrika.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Eyadema meninggal pada 2005 silam pada usia 69 tahun.

Eyadema lahir sebagai putra seorang pria bernama Gnassingbe, di desa Pya di jantung wilayah suku Kabye, sebuah dataran tinggi yang padat penduduk di Togo utara. Ia mengambil nama Kristen Etienne, dan baru kemudian mengadopsi Eyadema (sebuah kata dalam bahasa Kabye yang berarti keberanian). Ia meninggalkan nama Etienne setelah berkuasa.

"Kisah hidupnya bagaikan kisah Shakespeare: awalnya ia tidak mencari kekuasaan untuk dirinya sendiri, tetapi logika situasinya memaksanya kembali berkuasa empat tahun kemudian," tulis The Guardian menggambarkan awal kekuasaan Eyadema.

Sebagai anak petani miskin, dia tak menamatkan SD tapi ikut pendidikan militer.

[Gambas:Video CNN]

"Ia menerima pendidikan pedesaan yang sangat mendasar tetapi memiliki fisik yang kuat dan, seperti banyak anak laki-laki miskin tetapi cerdas lainnya di Afrika pada waktu itu, ia tertarik pada tentara kolonial," tulis The Times.

Oleh karena itu, ia bergabung dengan Angkatan Darat Prancis pada 1953, pada usia 18 tahun. Selama delapan tahun berikutnya, ia meraih penghargaan dalam pertempuran di Indochina dan Aljazair, mencapai pangkat sersan.

Sekembalinya ke negara Togo yang baru merdeka pada tahun 1962, Eyadema dan rekan-rekannya ditolak masuk ke militer Togo oleh kepala negara pertama negara itu, Sylvanus Olympio. Eyadema merespons penolakan itu. Ia membantu mengorganisir kudeta oleh para tentara yang kehilangan hak pilih dan ia membantu menggulingkan.

Dia pun berhasil menggulingkan kekuasaan dan meraih posisi orang nomor satu di usia 28 tahun.

Eyadema tampak canggung dan kikuk di tahun-tahun awal memerintah, dan ia kesulitan menyampaikan pidato yang harus dibacanya dalam bahasa Prancis.

Begitu minimnya pengalamannya dalam memimpin negara sehingga penasihat Afrika Presiden Charles de Gaulle, Jacques Foccart, konon ikut memerintah Togo melalui telepon.

Namun, tidak ada keraguan dalam penggunaan kekuasaan brutal tersebut, dan lawan politik diasingkan atau, seperti mantan Wakil Presiden Meatchi dan pemimpin militer populer Kolonel Koffi Kongo, meninggal secara misterius.

Selama memerintah negaranya, dia menggabungkan teror terhadap rakyat dan kultus individu. Eyadema berupaya membangun kultus kepribadian di dalam negeri, berdasarkan kisahnya selamat dari kecelakaan pesawat pada tahun 1974.

Ia mengklaim telah menang atas beberapa upaya pembunuhan dan dilaporkan membawa jimat berupa buku catatan yang tertembus peluru yang hampir membunuhnya.

Untuk memperkuat rezimnya, Eyadema mendirikan sebuah partai politik, Rassemblement du Peuple Togolais pada tahun 1969. Ia memberikan bentuk konstitusionalitas pada pemerintahannya sebagai negara satu partai. Pemilu baru diadakan pada tahun 1980-an.

Beralih ke anak

Sebelum meninggal (2005) sang presiden kemudian memilih anaknya sendiri Faure Gnassingbé (lahir 6 Juni 1966) untuk melanjutkan posisinya.

Setelah terjadi perubahan konstitusi, Faure kemudian menjadi presiden dewan sejak 2025 hingga sekarang.

Meski bukan dalam posisi presiden, tapi ini merupakan peran eksekutif yang sangat kuat dan berpengaruh, mirip dengan perdana menteri, yang diciptakan oleh konstitusi negara tahun 2024.

(imf/bac)

Baca Artikel Selengkapnya